Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Cinta Dunia dan Kemunduran Umat Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Juni 2022 11:24 11:24 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Juni 2022 11:45
Bagikan
Bagikan

Penyakit cinta dunia bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan kemunduran umat, sebab kaum Muslim sebenarnya mampu mengendalikan dunia

Oleh: Dr. Alwi Alatas

Hidayatullah.com | UMAT Islam mengalami beberapa kali kemunduran di dalam perjalanan sejarahnya, baik kemunduran yang bersifat parsial di kawasan tertentu dunia Islam maupun kemunduran yang lebih bersifat menyeluruh seperti yang berlaku dalam beberapa abad terakhir ini. Para ulama dan pemikir melihat persoalan ini dari beberapa sisi dan berusaha menawarkan jawaban tentang penyebab kemunduran serta solusinya.

Tulisan kali ini akan mendiskusikan tentang persoalan “cinta dunia” (hub al-dunya) sebagai salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kemunduran umat Islam. Dalam pandangan Islam, cinta dunia adalah satu bentuk penyakit (ruhani) yang perlu dihindari.

Perlu ditegaskan bahwa cinta dunia tidak identik dengan keadaan memiliki dunia (kaya, berkuasa, dan yang semisalnya). Dan sebaliknya, solusi bagi persoalan ini, yaitu sikap zuhud, tidak harus bermakna tidak memiliki dunia (miskin, tertindas, dan yang semisalnya).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Seperti yang pernah dikatakan oleh Nuruddin Mahmud Zanki, Sultan di Suriah pada pertengahan abad ke-12, “Sesungguhnya zuhud adalah kosongnya hati dari dunia, bukan kosongnya tangan dari dunia” (wa innamā al-zuhd khuluwwu-l-qalb min mahabbat al-dunyā lā khuluwwu-l-yadd ᶜanhā) (Abū Shāma, 2022: I/100).

Demikian pula kemunduran yang dimaksudkan di sini tidak melulu bermakna ketertinggalan dalam hal materi, tetapi ia juga bermakna kekacauan dan perpecahan internal serta keadaan dikuasai oleh pihak lain.

Persoalan cinta dunia sebagai penyebab kemunduran umat telah disebutkan oleh sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak, sebagaimana akan dijelasan di bawah. Namun ada juga tokoh Muslim lainnya yang memiliki pandangan berbeda.

Para reformis Muslim yang muncul di abad ke-19, misalnya, lebih menekankan pada tercemarnya agama (dengan perilaku bid’ah) dan ketertinggalan umat dalam aspek-aspek duniawi (seperti keunggulan sistem politik, industri dan kemajuan ekonomi) sebagai faktor-faktor yang berkaitan dengan kemunduran dan kemajuan.

Mereka menaruh perhatian terhadap kemajuan peradaban Barat yang sebenarnya merupakan kemajuan yang bersifat duniawi dan mendorong umat Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu umum yang dapat membantu mereka untuk mengejar ketertinggalan yang ada.

Sebagai contoh, Rifa’a al-Tahtawi (w. 1873), ulama al-Azhar yang sempat bertugas di Paris, menjelaskan kembali tentang fungsi pemerintahan di dalam Islam, yang salah satunya adalah mensejahterakan masyarakat. Hanya saja, ia memberi makna tambahan bagi fungsi kesejahteraan, yang berkaitan dengan konteks kemajuan Eropa ketika itu, yaitu peranan pemerintah dalam hal pertumbuhan ekonomi serta kemajuan (progress) dalam hal pertanian dan lainnya (Hourani, 1983: 77).

Perhatian terhadap kemajuan duniawi semacam ini tentu saja tidak harus diartikan bahwa para reformis di era modern menganjurkan umat untuk mencintai dunia dan meninggalkan zuhud. Zuhud, bagaimanapun juga, merupakan ajaran agama yang penting. Hanya saja, sebagaimana ditulis oleh Muhammad Abduh (1966: 137-138),  perlu juga untuk diperhatikan “semangat yang darinya kehidupan bangsa-bangsa bangkit, menerangi kesejahteraan mereka yang sebenarnya di dunia ini di sini dan sekarang, sebelum dunia yang berikutnya tercapai.”

Terlepas dari apa yang dibincangkan di atas tadi, beberapa akademisi Muslim di masa lalu menyinggung tentang bahaya mencintai dunia dan dampaknya bagi kerusakan dan menunduran masyarakat Muslim.

Imam al-Ghazali (2011: IV/704-705) mengisyaratkan bahwa ulama merupakan pilar masyarakat. Rusaknya para ulama berpotensi untuk membuat para penguasa rusak, dan jika penguasa rusak maka masyarakat juga rusak. Adapun sebabnya ulama menjadi rusak adalah karena mereka mencintai dunia, sehingga mereka tidak mampu lagi memberikan bimbingan atau meluruskan masyarakat, apalagi penguasa. Mereka tidak mampu bicara untuk meluruskan penyimpangan, karena hati dan lisannya sudah tercemar oleh dunia. Kalaupun mereka berbicara, maka tidak akan ada pengaruhnya.

Ibn Khaldun menggunakan teori asabiyah untuk menjelaskan tentang muncul dan jatuhnya dinasti-dinasti di dalam peradaban Islam. Asabiyah merupakan ikatan darah atau yang sebanding dengannya. Ini merupakan solidaritas sosial (social bond) atau perasaan kelompok (group feeling) yang umumnya dimiliki secara kuat oleh suku-suku nomaden dan semi nomaden, karena mereka memerlukan solidaritas ini sebagai bentuk perlindungan terhadap potensi ancaman dari luar.

Asabiyah membuka peluang bagi suatu kumpulan dan kepemimpinan di dalamnya untuk mengambil alih otoritas kekuasaan, sehingga terbentuklah suatu dinasti politik yang baru. Dinasti ini mungkin akan bertahan selama tiga atau empat generasi. Biasanya kepemimpinan generasi yang belakangan akan melemah, begitu pula dengan asabiyah di kalangan pendukungnya, sehingga dinasti tersebut akan jatuh ketika ada kelompok asabiyah baru yang siap menggantikannya.

Tapi apa sebabnya asabiyah menjadi rusak dan dinasti akhirnya runtuh?

Menurut Ibn Khaldun, ketika suatu kelompok berkuasa, mereka mulai terdedah kepada kekayaan dan kemewahan. Kemewahan adalah musuh bagi asabiyah dan hal yang akan melemahkannya.

“Anggota suku [yang berkuasa] bersenang-senang dalam kesejahteraan yang Allah berikan kepada mereka. Anak -anak dan keturunan mereka tumbuh terlalu bangga untuk menjaga diri mereka sendiri atau memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Mereka juga merasa jijik terhadap segala hal lainnya yang diperlukan sehubungan dengan asabiyah. Ini akhirnya menjadi sifat karakter dan karakteristik alami mereka. Asabiyah dan keberanian mereka menjadi berkurang pada generasi berikutnya. Akhirnya, asabiyah ini sama sekali hancur. Dengan begitu, mereka mengundang kehancuran diri mereka sendiri. Semakin gemerlap kemewahan mereka dan semakin mudah kehidupan yang mereka nikmati, semakin dekat mereka dengan kepunahan, belum lagi (hilangnya kesempatan mereka untuk mendapatkan) otoritas kerajaan.” (Ibn Khaldun, 1958: I/287).

Penjelasan Ibn Khaldun di atas menunjukkan bahwa anggota suku yang berkuasa itu bukan semata berada dalam kemewahan, tetapi juga mencintai dan dipengaruhi olehnya.

AL-Ghazali dan Ibn Khaldun memberi penjelasan dengan sudut pandang yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama menunjukkan potensi merusak dari kemewahan duniawi. Al-Ghazali menunjukkan dampaknya saat penyakit itu mencemari para ulama, sementara Ibn Khaldun memperlihatkan pengaruh kerusakannya pada kelompok yang berkuasa (umara). Pada akhirnya, masyarakat juga akan ikut merasakan akibatnya.

Boleh jadi satu dinasti Muslim jatuh dan digantikan oleh dinasti Muslim lainnya, sehingga kerusakan dan kekacauan yang menimpa masyarakat Muslim mungkin tidak terlalu panjang. Namun, sebagaimana diterangkan oleh Malik Bennabi (1998: 30), hal ini dapat juga menyebabkan masyarakat Muslim akhirnya dijajah oleh bangsa lain yang bukan Muslim, seperti yang mereka alami di era kolonialisme Barat.

Ini pula yang terjadi di Andalusia di masa lalu. Dinasti demi dinasti mengalami kemerosotan yang serius sejak abad ke-11, dikeroposi oleh kemewahan dunia. Mereka kemudian dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Kristen di utara Semenanjung Iberia. Sedikit demi sedikit, sehingga tidak ada lagi yang akhirnya tersisa.

Ide ini terdengar seperti sebuah paradoks. Cinta dunia justru menyebabkan kemunduran dan kekalahan di dunia, sementara zuhud merupakan obat yang dapat menimbulkan kebangkitan dan kemenangan. Tapi memang ada fakta-fakta sejarah yang mendukungnya, Setidaknya ini tampak jelas di dalam beberapa bagian sejarah umat Islam.

Bagaimanapun, penyakit cinta dunia bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan kemunduran. Ia juga mungkin lebih mudah untuk digunakan dalam menjelaskan sejarah umat Islam ketimbang masyarakat lainnya.

Muslim sejatinya adalah penduduk akhirat. Mereka bukanlah penduduk dunia (ahl al-dunya), dalam arti mereka menyadari bahwa dunia bukan tujuan akhir dan keberadaan mereka di dunia adalah dalam rangka kehidupan di akhirat.

Hal ini memungkinkan mereka untuk menjadi disiplin saat mendapat peluang memimpin dan mengendalikan dunia. Tetapi saat hati mereka dikuasai oleh dunia, mereka pun mulai kehilangan arah, menjadi lembek serta kehilangan solidaritas dan kepemimpinannya. Wallahu a’lam.*

Penulis dosen International Islamic University Malaysia (IIUM)

  • Daftar Pustaka
  • Abduh, Muhammad. 1966. The Theology of Unity. London: George Allen & Unwin.
  • Abū Shāma. 2022. Kitāb al-Rawḍatayn fī Akhbār al-Dawlatayn. Beirut: Dār al-Kutub al-ᶜIlmiyya.
  • Bennabi, Malik. 1998. On the Origins of Human Society (Trans. Mohamed Tahir El-
  • Mesawi). London: The Open Press.
  • Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid Muḥammad. 2011. Iḥyā’ ꜥUlūm al-Dīn. Vol. 4. Jeddah: Dār al-Minhāj.
  • Hourani, Albert. (1983). Arabic Thought in the Liberal Age, 1798-1939. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Ibn Khaldun. 1958. The Muqaddimah: An Introduction to History, Vol. 1 (Trans. Franz Rosenthal). New York: Bollingen Foundation.
Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cinta duniahubbud dunyakemuduran umat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Puncak Jakarta Hajatan ke-495 Dihadiri hampir 70 Ribu Orang, Warga: “Pak Anies I Love You”
Tulisan selanjutnya Holywings cuci tangan Holywings Indonesia Disebut Cuci Tangan Terkait Kontroversi Promo Miras Gunakan Nama Muhammad

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Vape Piu Piu Bikin Pengguna Seperti Zombie, Kata Kepolisian Malaysia

Berita
11 Juni 2026 17:48
Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
Bersama DPR-DPD RI, MUI Gelar Hari Dialog Antar Peradaban Internasional, Dorong Perdamaian Global dari Indonesia
Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan

Terbaru

  • Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
  • Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial
  • Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
  • Tak Hanyut Oleh Banjir: Asa Santri Aceh Tamiang Tetap Menyala
  • Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
  • Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
  • Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
  • UEA Bantah Laporan Transfer $3 Miliar ke Iran
  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?