Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianTsaqafah

Peran Penting Hadits sebagai Sumber Pengembangan Pendidikan Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 April 2022 13:33 1:33 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 April 2022 14:00
Bagikan
Bagikan

Hadits dan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, adalah salah satu sumber ajaran Islam telah di sepakati ulama dan menjadi sumber dalam pendidikan Islam

Oleh: Muhammad Abdul Aziz | AlumniUniversitas Islam Madinah

Hidayatullah.com | SUMBER pendidikan Islam terdiri atas tujuh macam yaitu: al-Quran, as-Sunnah, qaul sahabat (kata-kata sahabat), al-maslahah mursalah (kemashlahatan untuk umat/sosial), qiyas (perbandingan/perumpamaan), urf (kebiasaan, tradisi atau adat massyarakat) dan ijtihad (hasil pemikiran para ahli dalam syariah Islam.

Namun dari yang tujuh itu kita bisa fokuskan bahwa pendidikan Islam bersumber dari acuan yang utama yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Satu hal ini adalah formulasi yang sudah ada sejak masa rasul dan berlaku sampai generasi tokoh pendidikan Islam saat ini.

Selain al-Quran, sumber untuk menentukan hukum dan rujukan pola kehidupan dalam Islam juga menggunakan hadits nabi. Hal ini karena hadits nabi dalam posisinya sumber kedua sekaligus bentuk tafsir dan penjelasan terhadap al-Quran.

Baca Juga

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Dalam prakteknya hadits lebih cenderung bersifat aplikatif karena unsur dalam hadits merupakan bagian dari wahyu yang berbentuk responsibilitas terhadap persoalan yang muncul. Hadits merupakan interpretasi dan rangkuman dari sosok agung dalam Islam, Nabi Muhammad ﷺ, sehingga dalam konsep pendidikan Islam hadits merupakan landasan filosofis dalam menuntut ilmu, pengembangan sistematika pendidikan Islam, dan pengajaran tentang akhlak sehingga manusia dimudahkan dalam meniti jalan menuju surga.

Dalam pemikiran Islam, kedudukan hadits sangatlah penting karena dapat memperkuat, memperjelas berbagai persoalan yang ada dalam Al-Qur’an dan memberikan dasar pemikiran yang lebih kongkret mengenai penerapan aktivitas yang mesti dikembangkan dalam kehidupan manusia. Eksistensinya merupakan sumber inspirasi ilmu pengetahuan yang berisikan keputusan dan penjelasan nabi dari pesan-pesan Ilahiah yang tidak terdapat dalam al-Qur’an, maupun yang terdapat dalam Al-Qur’an, tapi masih memerlukan penjelasan lebih lanjut secara terperinci.

Maka dari itu hadits hanya berkedudukan sebagai sejarah tentang keberadaan dan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, niscaya perhatian ulama pada keshahihan suatu hadits sangat penting, kedudukan hadits pun sebagai salah satu sumber ajaran Islam yang telah di sepakati oleh hampir seluruh ulama dan umat Islam.

Pengembangan pendidikan Islam sangatlah penting karena tanpa pengembangan maka pendidikan Islam tidak akan maju dan mampu bersaing dengan yang lainnya. Salah contohnya kejayaan Islam dalam ilmu pengetahuan mengalami kemunduran setelah kota Baghdad yang merupakan pusat ilmu pengetahuan dihancurkan oleh tentara Mongol pada tahun 1258.

Meskipun kejayaan Islam masih berlanjut hingga berakhirnya Turki Ustmani, namun dalam bidang ilmu pengetahuan umat Islam mengalami kemunduran karena umat Islam ketika itu kurang tertarik kepada sains, sebagaimana umat Islam pada masa sebelumnya. Umat Islam mulai sadar akan ketertinggalannya dari dunia Barat pada sekitar abad ke-19.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai Barat telah menggeser pandangan hidup manusia serta melahirkan terma-terma baru, seperti nasionalisme dan pendidikan. Pendidikan sarana paling penting bukan hanya sebagai wahana konservasi dalam arti tempat pemeliharaan, pelestarian, penanaman, dan pewarisan nilai-nilai dari tradisi suatu masyarakat, tetapi juga sebagai sarana kreasi yang dapat menciptakan, mengembangkan dan mentransformasikan umat ke arah pembentukan budaya baru.

Oleh karena itu, tokoh-tokoh pembaharuan Islam banyak menggunakan pendidikan Islam, baik yang bersifat formal, non-formal, untuk menyadarkan umat kembali kepada kejayaan Islam seperti masa lampau.

Dalam ajaran Islam, Rasulullah ﷺ sering menerapkan prinsip pembaruan dan pengembangan dalam belajar, baik tentang fenomena-fenomena alamiah maupun fenomena yang terdapat dalam diri mereka sendiri, seperti studi tentang alam sekitar yang mengandung ilmu-ilmu baru misalnya biologi, fisika, astronomi, mineralogi, botani, kimia, klimatologi, dan zoologi terutama dikaitkan dengan kecanggihan ilmu dan teknologi moderen saat ini, misalnya firman Allah swt dalam surat Ali Imran (3): 190-191 yang Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orangorang yang berakal (190), (yaitu) orangorang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka

Juga dalam surat Al A‟raaf (7): 179 yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Ayat di atas menjelaskan bahwasetiap manusia harus berpikir kritis dengan menggunakan panca indra yang telah diberikan oleh Allah swt. Hal ini menunjukkan adanya inovasi/ pengembangan dalam berpikir tersebut.

Pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu dapat dianalisis dari segi sistematik atau pendekatan sistem. pendidikan Islam dipandang sebagai proses melalui sistem yang terdiri daripada sub-sub sistem atau komponen-komponen yang saling berkaitan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam.

Watak ilmu pendidikan Islam adalah sistematis dan konsisten menuju ke arah tujuan yang hendak dicapai. pendidikan Islam memerlukan pemikiran sistematik dan mengarahkan prosesnya dalam sistem-sistem yang aspiratif terhadap kebutuhan umatnya agar tidak menimbulkan gangguan dan hambatan teknis operasional yang dapat menghilangkan orientasinya yang benar.

Berdasarkan pandangan ini, ada 10 komponen-komponen pengembangan pendidikan Islam menurut pandangan hadits dan sesuai dengan yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad ﷺ:

1. Visi dan Misi

Visi dan misi merupakan elemen yang sangat penting dalam sekolah, dimana visi dan misi digunakan agar dalam operasionalnya bergerak pada track yang diamanatkan oleh para stakeholder dan berharap mencapai kondisi yang diinginkan dimasa yang akan datang sebagai sebuah perwujudan dari tujuan. Visi pendidikan Islam yang diaplikasikan oleh Rasulullah ﷺ merupakan cita-cita dan tujuan ajaran Islam itu sendiri, yaitu mewujudkan rahmatal lil’alamin bagi seluruh alam dan manusia, sesuai dengan firman Allah: Artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” QS. Al Anbiya‟ (21): 107.

Misi dapat diartikan sebagai tugastugas atau pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai visi yang ditetapkan. Dengan demikian, antara dan visi dan misi harus memiki hubungan fungsional-simbiotik, yakni saling mengisi dan timbal balik.

Dari satu sisi visi mendasari rumusan misi, sedangkan dari sisi lain, keberadaan misi akan menyebabkan tercapainya visi.

Tujuan

Pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam sama dengan tujuan diturunkannya agama Islam yaitu untuk membentuk manusia yang bertakwa (muttaqin). Manusia yang bertakwa adalah manusia yang berakhlak mulia sehingga proses pendidikan Islam yang menjadikan manusia berakhlak mulia juga dijadikan sebagai tujuan utama pendidikan Islam Rasulullahﷺ.

Kurikulum

Materi kurikulum pendidikan adalah segala sesuatu pesan yang disampaikan oleh pendidik kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dalam usaha pendidikan yang diselenggarakan di keluarga, di sekolah, dan di masyarakat, terdapat syarat utama dalam pemilihan beban/materi pendidikan, yaitu: (a) materi harus sesuai dengan tujuan pendidikan, (b) materi harus sesuai dengan kebutuhan siswa.

Kurikulum merupakan rencana pendidikan yang memberi pedoman tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan.

Proses Belajar Mengajar (PBM)

Dari sudut pandangan Islam, mencari ilmu dan mengajarkannya adalah satu kewajiban yang sangat mulia, maka oleh yang demikian mencari ilmu adalah satu kewajiban bagi setiap muslim. Islam mewajibkan bagi setiap umat Islam untuk menuntut ilmu sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Menuntut ilmu itu adalah wajib atas setiap muslim” (HR. Ibn Majah).

Pendidik

Pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggungjawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam, orang yang paling bertanggungjawab adalah orangtua (ayah dan ibu) anak didik.

Pada awalnya tugas pendidik adalah murni tugas kedua orangtua, namun pada perkembangan zaman yang telah maju seperti sekarang ini banyak tugas orang tua sebagai pendidik yang diserahkan ke sekolah, karena lebih efisien dan lebih efektif. pendidikan Islam harus dilaksanakan oleh para pendidik yang profesional karena sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ yang artinya:

“Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah akan saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Peserta didik  

Dalam pendidikan Islam adalah individu yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Peserta didik merupakan individu yang belum dewasa yang memerlukan orang lain untuk menjadikan dirinya dewasa.

Dalam konsep pendidikan Islam, tugas mengajar, mendidik, dan memberikan tuntunan sama artinya dengan upaya untuk meraih surga. Sebaliknya, menelantarkan hal tersebut berarti mejerumuskan diri ke dalam neraka sebagaimana sabda Nabi yang artinya:

“Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan baik”. (HR. Ibnu Majah 2/1211).

Administratif

Administrasi dalam pendidikan Islam merupakan segala sesuatu yang subtantif menunjang proses pendidikan Islam dan membantu tercapainya tujuan pendidikan Islam, baik berupa benda-benda fisik maupun benda-benda non-fisik. Termasuk pendanaan dalam pendidikan berfungsi untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas program pendidikan yang dilaksanakan.

Pendanaan diperlukan untuk pengadaan sarana prasarana, gaji guru, pegawai, dan alat-alat. Di samping itu pembiayaan atau pendanaan juga digunakan untuk meningkatkan mutu dan kualitas proses belajar mengajar yang dilaksanakan.

Kerjasama

Kerjasama dalam pendidikan Islam dapat diartikan sebagai upaya membangun hubungan secara intensif, efektif, fungsional, dan saling menguntungkan antara satu lembaga dengan lembaga lainnya atau antara personal dengan personal dalam rangka mendukung tercapainya tujuan lembaga atau personal masing-masing. Sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 2: “Dan bekerjasamalah kalian dalam kabaikan dan ketakwaan”.

Lingkungan

Lingkungan pendidikan (dalam hal ini dimaksud dengan lingkungan pendidikan Islam) sebagaimana disebutkan di atas, dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Lingkungan keluarga. b. Lingkungan sekolah. c. Lingkungan masyarakat

Evaluasi

Evaluasi dalam pendidikan sangat penting dilakukan untuk mengetahui efektif atau tidaknya suatu sistem pembelajaran yang diterapkan oleh tenaga pendidik. Karena bila seorang pendidik tidak melakukan evaluasi, sama saja tenaga pendidik tersebut tidak ada perkembangan dalam merancang sistem pembelajaran.

Evaluasi pendidikan Islam adalah sebuah penilaian untuk mengukur dan menilai keberhasilan dalam mendidik manusia. Jika pendidikan berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam dan berhasil melewati penghalang-penghalangnya, maka akan melahirkan manusia paripurna, sehat lahir batin, dan bahagia dunia akhirat.

Dapat kita lihat bahwa tujuan evaluai dalam pendidikan Islam adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan sebuah poses belajar mengajar dan untuk memperbaiki kekurangan yang ada supaya hasil selanjutnya menjadi lebih baik. Evaluasi juga disebutkan dalam hadits sebagaimana yang dinukilkan dari Syadad bin Aus ra, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda yang artinya:

”Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhdap Allah Ta’ala”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibn Majah).*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hadishaditspendidikan islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Terbitkan Aturan Halal Bihalal, Batasi Peserta Hingga Larang Makan-Minum
Tulisan selanjutnya Secara Hisab, Hilal Syawal 1443 H Terlihat pada 1 Mei 2022 Secara Hisab, Hilal Syawal 1443 H Terlihat pada 1 Mei 2022

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Kajian

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

26 Mei 2026 09:00
Kajian

Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya

26 Mei 2026 08:30
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?