Oleh: Mohammad Ramli
KITA pasti tidak asing dengan kisah Negeri 1001 Malam yang sangat melegenda yaitu Kota Baghdad. Baghdad adalah ibu kota Iraq dan merupakan kota terbesar ke dua di Asia Barat Daya setelah Teheran.
Kekhalifahan Abbasiyah telah menjadikan Baghdad sebagai ibu kota kekhalifahan yang sebelumnya pada masa Kehalifahan Umayyah berada di Damaskus.
Islam masuk ke Baghdad dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqash yang diutus oleh Umar bin Khattab. Penduduk Baghdad menerima agama Islam dengan sangat baik hingga dipeluk oleh mayoritas masyakat Baghdad.
Cahaya Peradaban
Baghdad merupakan simbol kejayaan sebuah peradaban, kota yang menjadi saksi keemasan Islam. Kota ini dibangun oleh Abu Ja’far al-Mansur, khalifah Abbasiyah kedua, sekitar 136 H. Sejak itulah, kota ini memainkan peranan penting dalam peradaban Islam dan Arab.
Sepanjang sejarah Kekhalifahan Abbasiyah dan Baghdad sebagai pusat peradaban, tercatat 37 khalifah yang pernah berkuasa secara turun temurun. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena didirikan oleh oleh Abu Al-Abbas keturunan Al-Abbas, paman Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Nama lengkapnya adalah Abdullah As-Saffah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al Abbas.
Keindahan dan kemegahan Baghdad menunjukkan kehebatan Dinasti Abbasiyah. Dibangun istana khalifah yang megah bernama Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas), dan untuk mempertegas keislamannya disamping istana dibangun masjid Jami’ Al-Mansur yang berukuran 100×100 m. Kubahnya menjulang tinggi ke langit setinggi 130 kaki.
Kota Baghdad dilengkapi bangunan pengawal istana, polisi, tempat tinggal khalifah, pasar dan pusat perbelanjaan. Untuk menuju pusat kota Baghdad, para pengunjung bisa melalui empat gerbang, barat daya (gerbang kufah) barat laut (gerbang Syam) tenggara (Basrah) dan di timur laut ada gerbang Khurasan. Disetiap gerbang terdapat menara pengawas dan tempat istirahat yang dihiasi ukiran-ukiran nan indah. Sebelum tutup usia, al-mansur juga sempat membangun Istana Ar-Rufasah. Sebagai pendiri Baghdad, khalifah menyebutnya sebagai Madinah As-salam (Kota Perdamaian).
Baghdad menjelma menjadi kota metropolitan, kian elok dipandang. Sarana ibadah, pendidikan, penelitian, kesehatan, perdagangan dan bisnis bermunculan. Baghdad pun saat itu menjadi pusat peradaban. Pendidikan, ilmu pengetahuan, perdangan, ekonomi dan poilitik.
Kota Baghdad mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Kekhalifahan Harun Ar-Rasyid (170 – 193 H) dan anaknya Khalifah Al-Ma’mun (198 – 218 H). Baghdad semakin masyhur, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, semarak dengan aktivitas keilmuan, bisnis dan pusat kekuasaan. Dan Baghdad merupakan kota yang tidak ada tandingannya saat itu.
Dalam capital cities of Arab Islam, Philip K. Hitti menyebut Baghdad sebagai kota intelektual. Sebab, dari kota inilah lahir banyak intelektual Muslim agung yang mengembangkan ilmu pengetahuan, kedokteran, kimia, fisika, biologi, matematika, astronomi, astrologi, farmakologi, geografi, filsafat, sastra, seni, tafsir, hadits, fiqih, theologi, bahasa dan tasawwuf. Inilah masa kekayaan ilmu yang pernah diraih umat Islam saat itu, sangat menakjubkan dan luar biasa.
Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun kota ini memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu pengetahuan yaitu Baitul Hikmah.
Saat itu, Baitul Hikmah adalah bangunan yang terdiri dari berbagai ruangan. Setiap ruangan terdiri dari tempat buku (khazanah) yang diberi nama sesuai nama pendirinya seperti Khazanah Ar-Rasyid dan Khazanah Al-Makmun. Bangunan yang menyatu dengan istana khalifah.
Juga lahirlah Kuttab (sekolah dasar menengah). Anak-anak belajar di rumah, di istana, di toko dan di pinggir-pinggir pasar.
Adapun pelajaran yang diajarkan meliputi: membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok ajaran Islam, menulis, kisah orang-orang besar islam, membaca dan menghafal syair-syair atau prosa, berhitung, dam juga pokok-pokok nahwu sharaf. Ilmu perkembang pesat.
Lihat saja, Ilmu Tafsir berkembang pesat yang masyhur salah satunya adalah Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an terdiri dari 30 Juz yang dikarang oleh Ibnu Jarir At-Thabari.
Pada masa Dinasti Abbasiyah didirikan rumah sakit yang juga dijadikan sebagai pusat kegiatan pengajaran ilmu kedokteran, sedangkan teorinya diajarkan di masjid dan madrasah. Ali bin Rabban at-Tabbari adalah orang pertama yang mengarang buku kedokteran yaitu Firdaus al-Hikmah (850 M).
Dalam bidang ilmu hadits, masa Dinasti Abbasiyah telah melahirkan banyak ulama perawi hadits yang sangat terkenal diantaranya al-aimmah al-sittah (Imam yang Enam), yaitu Imam Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud Tirmidzi dan Nasa’i.

Perkembangan fiqih masa itu sangat berkembang pesat sehingga muncul ulama-ulama yang terkemuka, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Sehingga hampir semua Umat Islam mengenal mereka dan bermazhab kepada mereka.
Beberapa ulama dalam bidang tasawwuf dan sejarah juga telah berkembang pesat saat itu, seperti Ibnu Khaldun, Imam Al-Ghazali. Tidak ketinggalan Ilmu sastra dengan tokohnya, Ibnu Muqaffa, Imam Sibawayhi, Abu Nawas, Ibnu Rumy.
Dalam bidang kedokteran ada A-rrazi, Ibnu Sina, Ibnu Saha. Lalu ada Al-khawarizmi, Wabu Wafa dalam bidang matematika. Al-Biruni (Astronomi) dan masih banyak lagi.
Sekitar 30.000 masjid di Bagdad berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran pada tingkat dasar. Perkembangaan pendidikan pada masa Bani Abbasiyah dibagi 2 tahap. Tahap pertama (awal abad ke-7 M sampai dengan ke-10 M ) perkembangan secara alamiah disebut juga sebagai sistem pendidikan khas Arabia. Tahap kedua (abad ke 11) kegiatan pendidikan dan pengajaran diatur oleh pemerintah dan pada masa ini sudah dipengaruhi unsur non-Arab.*
Penulis dan pendidik. Tinggal di Batam