Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Dua Wanita Hebat di Balik Kebesaran AR Baswedan

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 10 Mei 2022 23:35 11:35 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 11 Mei 2022 06:00
Bagikan
AR Baswedan
Saikhun dan Barkah istri AR Baswedan
Bagikan

Kalau berbicara mengenai pahlawan nasional AR Baswedan, tidak bisa dilepas dari kedua wanita hebat berikut ini yang menjadi pendamping hidup dan perjuangannya

Hidayatullah.com | BIASANYA, di balik kebesaran seorang tokoh, ada wanita hebat yang berperan penting di dalamnya. Mereka itu bisa berupa ibu, istri atau saudarinya yang punya andil besar dalam mengantarkan kebesarannya.

Pun juga kalau berbicara mengenai pahlawan nasional AR Baswedan, tidak bisa dilepas dari kedua wanita hebat berikut ini yang menjadi pendamping hidup dan perjuangannya.

Syeikhun

Untuk menggambarkan sosok Syeikhun, istri pertama (yang merupakan sepupu) AR. Baswedan ini, akan penulis awali dengan puisi anggitan AR. Baswedan berikut yang dispersembahkan untuknya:

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

PERSEMBAHAN

Di tepi kehidupan nan luas lepas

Ba’ lautan tak nampak ufuknya

Ombak berkejaran keras menghempas

Pecah dipantai membuih kecewa

Mengguncang hati ………. !

Di tepian itu …… kelana berdiam

Ku jelang dia masuk kedalam

O … tu: “Sumber bahagia

Istri nan bakti!

Pelita hati waktu menggelap

Penyejuk kalbu saat kecewa

Peneguh iman bertambah tetap

Pengobat luka penawar jiwa:

Sang istri ……………………

Nilah, wahai istri yang mulia!

Sepantun ratna mutu manikam

Tanda bersyukur PEMBALAS JASA ………..

Jadi kenangan masa nan silam ……….

Penghibur hati ………………………..!

Sajak ini ditulis sebagai pengantar dari buku karyanya yang berjudul “Rumah Tangga Rasulullah” yang dipersembahkan untuk istrinya yang bernama Syeikhun. Sajak ini ditulis pada bulan Mei 1940 di Cilimus. Sampai sekarang, buku ini sudah terbit lebih dari 8 kali.

Apa yang digambarkan AR Baswedan mengenai sosok Syeikhun ini tidaklah berlebihan. Sejak AR. Baswedan menikah dengannya dari tahun 1925 sampai wafat pada 1948 di rumah sakit Kadipala, Sala, ia telah berjuang dengan setulus hati menemani perjuangan sang suami. Dari Syeikhun, lahir 9 orang anak: Anisah, Aliyah, Fuad, Awad Rasyid (Ayah Anies Baswedan), Hamid, Atikah, Nur, Imlati dan Lukyana.

Sejak menikah dengan AR. Baswedan, Syeikhun sadar betul bahwa suaminya sibuk dalam organisasi. Sehingga sudah biasa menghadapi kondisi waktu yang diprioritaskan untuk kepentingan umat dan masyarakat. Waktu itu, sang suami sibuk menjadi anggoa Majelis Tablig Muhammadiyah yang dipimpin KH. Mas Mansur di Surabaya.

Waktu menikah, usianya tergolongan dini untuk ukuran saat ini. AR. Baswedan berusia 17 tahun. Sedangkan Syeikhun berusia 14 tahun. Namun demikian, sudah cukup padat kesibukannya untuk berdakwah dan peduli pada urusan umat.

Selama berumahtanggan dengan Syeikhun, AR. Baswedan lebih banyak hidup dalam kondisi sederhan bahkan sulit secara ekonomi. Hal ini banyak diketahui oleh H. Agus Salim. Hidupnya pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Saat H. Agus Salim rumahnya berdekatan dengan AR. Baswedan, ia bisa merasakan betama susahnya ekonomi AR. Baswedan. Lisriknya pernah diputus karena tidak punya uang untuk membayar rekeningnya, Bahkan, seringkali isrtinya harus minum di tetangganya karena ledeng air di rumahnya tidak mengalir karena tidak bisa membayarnya.

Menariknya, walau dalam kondisi seperti ini, baik AR Baswedan maupun Syeikhun tidak pernah meminta bantuan kepada siapapun, apalagi meminta honor kepada partainya. Hal lain yang cukup mengharukan, saat menjadi menteri dirinya tidak terpikir untuk menyimpan uang.

Ia mendapat fasilitas mobil kecil. Bagi AR. Baswedan dan istri, pikirannya dicurahkan 100 persen untuk perjuangan. Bahkan pada awal-awal perjuangan, yang tersedia dalam rumah tangganya pernah hanya beras dan kecap.

Walau sedemikian sulit, Syeikhun dengan setia menemani perjuangan sang suami hingga meninggal dunia (1948). Saat telah tiada, ia bisa mengantar suami pada pencapaian cita-cita sang suami yaitu mewujudkan kesatuan Partai Arab Indonesia (PAI).

Kehidupan Syeikhun, sebagaimana ditulis oleh AR. Baswedan dalam sajaknya, benar-benar menggambarkan istri yang menjadi pelita di kala gelap, penyejuk kalbu saat kecewa, peneguh iman, pengobat luka dan penawar jiwa.

Barkah Ghanis

Wanita kedua yang dinikahi AR. Baswedan ini sepeninggal istrinya, juga tidak kalah hebat. Ia juga merupakan aktivis wanita di PAI Istri. Sebelumnya juga sudah saling kenal dengan AR. Baswedan.

Salah satu yang mengusulkan agar AR. Baswedan menikahinya adalah M. Natsir. Bahkan, di kemudian hari juga menjadi wali dalam pernikahannya.

Dengan Barkah, AR. Baswedan dikaruniai 2 anak yaitu: Havied Natsir Baswedan (dinamakan demikian sebagai kenangan atas Natsir yang telah menjadi wali dalam pernikahannya dengan Bakah) dan Ahmad Samhari (keduanya sama-sama menjadi dokter).

Untuk menerima AR. Baswedan apa adanya juga merupakan perjuangan bagi Barkah. Waktu itu kondisi dirinya sebagai janda yang tak punya anak. Sedangkan AR. Baswedan adalah duda dengan 9 anak. Namun pada akhirnya karena jodoh, pernikahan ini bisa terjalin hingga akhir hayat.

Dalam buku “Abdul Rahman Baswedan Karya dan Pengabdiannya” (Suratmin, 1989:  32), salah satu pertimbangan kawan-kawan AR. Baswedan menjodohkannya dengan Barkah adalah karena sama-sama berjiwa pejuang sehingga bisa mengimbangi cita-cita AR. Baswedan.

Selain menjadi aktivis PAI Istri, Barkah ini juga menjadi guru sekolah Aisyah Tegal. Kemudian saat menikah dengan AR. Baswedan, oleh ketua Pusat Aisiyah –atas permintaan AR. Baswedan– dipindah ke Yogyakarta. Maka sudah sangat cocok secara frekuensi untuk menjadi pendamping hidup AR. Baswedan karena sama-sama aktifis dan pejuang.

Barkah juga besar perannya dalam pendidikan anak-anak AR. Baswedan. Baik itu anak dari ibu sebelumnya atau anaknya sendiri.

Ia mendidik anaknya dengan sangat disiplin. Meski punya pembantu misalnya, kalau masih bisa melakukan sendiri, ia mengajarkan tidak menyuruh pembantu.

Maka tidak mengherankan jika bimbingan dan pemikiran Barkah ini mewarnai pendidikan anak-anak AR. Baswedan. Tak hanya di level rumah tangga, perannya dalam organisasi, utamanya PAI Istri, juga cukup besar sehingga organisasi yang dipimpinnya semakin maju.

Inilah gambaran singkat dari kedua wanita hebat yang pernah mendampingi AR. Baswedan. Semoga keteladanan keduanya bisa diambil oleh para wanita yang sedang berjuang membantu para suaminya dalam medan perjuangan menuju cita-citanya. Rahimahumallah rahmatan waasi’ah.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AR BaswedanBarkah GhanisKeluarga BaswedanMuhammadiyahSyeikhun
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Disangka Akar, Bom Era Kolonial Diledakkan di Kenya
Tulisan selanjutnya Hamzah Fansuri Keabadian Karya Hamzah Fansuri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Berita
14 Juli 2026 19:51
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?