Kalau berbicara mengenai pahlawan nasional AR Baswedan, tidak bisa dilepas dari kedua wanita hebat berikut ini yang menjadi pendamping hidup dan perjuangannya
Hidayatullah.com | BIASANYA, di balik kebesaran seorang tokoh, ada wanita hebat yang berperan penting di dalamnya. Mereka itu bisa berupa ibu, istri atau saudarinya yang punya andil besar dalam mengantarkan kebesarannya.
Pun juga kalau berbicara mengenai pahlawan nasional AR Baswedan, tidak bisa dilepas dari kedua wanita hebat berikut ini yang menjadi pendamping hidup dan perjuangannya.
Syeikhun
Untuk menggambarkan sosok Syeikhun, istri pertama (yang merupakan sepupu) AR. Baswedan ini, akan penulis awali dengan puisi anggitan AR. Baswedan berikut yang dispersembahkan untuknya:
PERSEMBAHAN
Di tepi kehidupan nan luas lepas
Ba’ lautan tak nampak ufuknya
Ombak berkejaran keras menghempas
Pecah dipantai membuih kecewa
Mengguncang hati ………. !
Di tepian itu …… kelana berdiam
Ku jelang dia masuk kedalam
O … tu: “Sumber bahagia
Istri nan bakti!
Pelita hati waktu menggelap
Penyejuk kalbu saat kecewa
Peneguh iman bertambah tetap
Pengobat luka penawar jiwa:
Sang istri ……………………
Nilah, wahai istri yang mulia!
Sepantun ratna mutu manikam
Tanda bersyukur PEMBALAS JASA ………..
Jadi kenangan masa nan silam ……….
Penghibur hati ………………………..!
Sajak ini ditulis sebagai pengantar dari buku karyanya yang berjudul “Rumah Tangga Rasulullah” yang dipersembahkan untuk istrinya yang bernama Syeikhun. Sajak ini ditulis pada bulan Mei 1940 di Cilimus. Sampai sekarang, buku ini sudah terbit lebih dari 8 kali.
Apa yang digambarkan AR Baswedan mengenai sosok Syeikhun ini tidaklah berlebihan. Sejak AR. Baswedan menikah dengannya dari tahun 1925 sampai wafat pada 1948 di rumah sakit Kadipala, Sala, ia telah berjuang dengan setulus hati menemani perjuangan sang suami. Dari Syeikhun, lahir 9 orang anak: Anisah, Aliyah, Fuad, Awad Rasyid (Ayah Anies Baswedan), Hamid, Atikah, Nur, Imlati dan Lukyana.
Sejak menikah dengan AR. Baswedan, Syeikhun sadar betul bahwa suaminya sibuk dalam organisasi. Sehingga sudah biasa menghadapi kondisi waktu yang diprioritaskan untuk kepentingan umat dan masyarakat. Waktu itu, sang suami sibuk menjadi anggoa Majelis Tablig Muhammadiyah yang dipimpin KH. Mas Mansur di Surabaya.
Waktu menikah, usianya tergolongan dini untuk ukuran saat ini. AR. Baswedan berusia 17 tahun. Sedangkan Syeikhun berusia 14 tahun. Namun demikian, sudah cukup padat kesibukannya untuk berdakwah dan peduli pada urusan umat.
Selama berumahtanggan dengan Syeikhun, AR. Baswedan lebih banyak hidup dalam kondisi sederhan bahkan sulit secara ekonomi. Hal ini banyak diketahui oleh H. Agus Salim. Hidupnya pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Saat H. Agus Salim rumahnya berdekatan dengan AR. Baswedan, ia bisa merasakan betama susahnya ekonomi AR. Baswedan. Lisriknya pernah diputus karena tidak punya uang untuk membayar rekeningnya, Bahkan, seringkali isrtinya harus minum di tetangganya karena ledeng air di rumahnya tidak mengalir karena tidak bisa membayarnya.
Menariknya, walau dalam kondisi seperti ini, baik AR Baswedan maupun Syeikhun tidak pernah meminta bantuan kepada siapapun, apalagi meminta honor kepada partainya. Hal lain yang cukup mengharukan, saat menjadi menteri dirinya tidak terpikir untuk menyimpan uang.
Ia mendapat fasilitas mobil kecil. Bagi AR. Baswedan dan istri, pikirannya dicurahkan 100 persen untuk perjuangan. Bahkan pada awal-awal perjuangan, yang tersedia dalam rumah tangganya pernah hanya beras dan kecap.
Walau sedemikian sulit, Syeikhun dengan setia menemani perjuangan sang suami hingga meninggal dunia (1948). Saat telah tiada, ia bisa mengantar suami pada pencapaian cita-cita sang suami yaitu mewujudkan kesatuan Partai Arab Indonesia (PAI).
Kehidupan Syeikhun, sebagaimana ditulis oleh AR. Baswedan dalam sajaknya, benar-benar menggambarkan istri yang menjadi pelita di kala gelap, penyejuk kalbu saat kecewa, peneguh iman, pengobat luka dan penawar jiwa.
Barkah Ghanis
Wanita kedua yang dinikahi AR. Baswedan ini sepeninggal istrinya, juga tidak kalah hebat. Ia juga merupakan aktivis wanita di PAI Istri. Sebelumnya juga sudah saling kenal dengan AR. Baswedan.
Salah satu yang mengusulkan agar AR. Baswedan menikahinya adalah M. Natsir. Bahkan, di kemudian hari juga menjadi wali dalam pernikahannya.
Dengan Barkah, AR. Baswedan dikaruniai 2 anak yaitu: Havied Natsir Baswedan (dinamakan demikian sebagai kenangan atas Natsir yang telah menjadi wali dalam pernikahannya dengan Bakah) dan Ahmad Samhari (keduanya sama-sama menjadi dokter).
Untuk menerima AR. Baswedan apa adanya juga merupakan perjuangan bagi Barkah. Waktu itu kondisi dirinya sebagai janda yang tak punya anak. Sedangkan AR. Baswedan adalah duda dengan 9 anak. Namun pada akhirnya karena jodoh, pernikahan ini bisa terjalin hingga akhir hayat.
Dalam buku “Abdul Rahman Baswedan Karya dan Pengabdiannya” (Suratmin, 1989: 32), salah satu pertimbangan kawan-kawan AR. Baswedan menjodohkannya dengan Barkah adalah karena sama-sama berjiwa pejuang sehingga bisa mengimbangi cita-cita AR. Baswedan.
Selain menjadi aktivis PAI Istri, Barkah ini juga menjadi guru sekolah Aisyah Tegal. Kemudian saat menikah dengan AR. Baswedan, oleh ketua Pusat Aisiyah –atas permintaan AR. Baswedan– dipindah ke Yogyakarta. Maka sudah sangat cocok secara frekuensi untuk menjadi pendamping hidup AR. Baswedan karena sama-sama aktifis dan pejuang.
Barkah juga besar perannya dalam pendidikan anak-anak AR. Baswedan. Baik itu anak dari ibu sebelumnya atau anaknya sendiri.
Ia mendidik anaknya dengan sangat disiplin. Meski punya pembantu misalnya, kalau masih bisa melakukan sendiri, ia mengajarkan tidak menyuruh pembantu.
Maka tidak mengherankan jika bimbingan dan pemikiran Barkah ini mewarnai pendidikan anak-anak AR. Baswedan. Tak hanya di level rumah tangga, perannya dalam organisasi, utamanya PAI Istri, juga cukup besar sehingga organisasi yang dipimpinnya semakin maju.
Inilah gambaran singkat dari kedua wanita hebat yang pernah mendampingi AR. Baswedan. Semoga keteladanan keduanya bisa diambil oleh para wanita yang sedang berjuang membantu para suaminya dalam medan perjuangan menuju cita-citanya. Rahimahumallah rahmatan waasi’ah.*/Mahmud Budi Setiawan