Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Ibnu Taimiyah Penolak Logika Yunani

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Mei 2017 16:30 4:30 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Mei 2017 16:30
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

SEORANG ulama dan budayawan Muslim masyhur yang bergelar Syaikhul Islam adalah Taqyuddin Ibnu Taimiyah. Nama lengkapnya Ahmad bin Abdul Halim Al-Harani Ad-Dimasyqi. Bukunya yang populer, Ar-Radd ‘alal Manthiqiyyin.

Sejarah umat Islam selalu dihiasi oleh prestasi-prestasi agung dalam segala bidang pengetahuan dan kesusastraan. Begitu juga sejarah Islam tidak pernah sepi dari kisah-kisah pembaharuan di lahan pemikiran. Apabila kita lihat sepintas lalu dalam khazanah pustaka Islam, realitas itu dapat tergambar begitu jelas.

Di antara para pemikir dan ulama besar itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mempunyai prestasi gemilang yang membawa pengaruh besar dalam transformasi pemikir Islam di zamannya, bahkan jangkauannya jauh ke depan hingga berpengaruh pula kepada generasi pembaharuan sesudahnya.

Ia lahir di Harran. Sebuah negeri dekat daratan Eropa, terletak antara Dajlah dan Euphrat. Kemudian pindah bersama keluarganya ketika menjelang usia remaja menuju Damaskus, usai perang dengan Tartar. Di sanalah Ibnu Taimiyah dibesarkan dan terkenal.

Syaikhul Islam ini hidup di tengah-tengah keluarga yang sangat peduli dengan ilmu pengetahuan. Dikisahkan tentang kehidupan ayahandanya, “Tidak pernah mengajar melalui catatan atau buku-buku, atau perangkat lain yang dapat membangkitkan daya ingatnya. Namun sang ayah mengajarnya dengan daya intuitif dan kecermelangan akalnya.”

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Barangkali kehebatan sang ayah inilah yang diwarisi oleh Ibnu Taimiyah, sehingga mempunyai kapasitas kecerdasan luar biasa, bahkan kelak menjadi argumentator yang tercatat dalam sejarah peradaban Islam.

Ibnu Taimiyah di samping hafal Al-Qur’an, juga mendalami hadist, dan berulang kali mempelajari kitab-kitab shahih. Ia juga sangat mahir dalam ilmu-ilmu bahasa Arab, studi fikih, dan mempunyai prestasi langka dalam kecermelangan intelektualnya: memahami secara mendalam ilmu-ilmu syariat dan filsafat serta kalam, baik pada zamannya atau zaman sebelumnya.

Posisinya di tengah kebesaran para ulama, mempunyai tiga keutamaan. Pertama, Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama yang sangat tekun, disiplin dalam ijtihad, dan punya minat besar di bidang pengetahuan, di samping menjauhi kehidupan yang santai. Kedua, ia sangat terbuka dengan lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, hidupnya tidak bersifat egois, terpaku hanya pada pengetahuan saja. Ketiga, ia terkenal sebagai ulama yang punya kecerdasan luar biasa. Konsisten dalam berpikir, dan produktif.

Beliau tergolong salah seorang ulama yang sangat produktif dalam karya ilmiahnya. Karyanya kurang lebih mencapai 4000 naskah, yang mencapai 300 jilid, bahkan ada yang mengatakan sampai 500 jilid.

Kitabnya yang populer Ar-Radd’alal Manthiqiyyin (Kontra terhadap Kelompok Logika), merupakan salah satu dari karyanya yang terkenal. Bahkan seandainya hanya kitab ini saja yang lahir dari karyanya, niscaya sudah cukup untuk mengangkatnya sebagai ulama besar dan pemikir. Sebab, kitab tersebut berpengaruh luas hingga kepada generasi sesudahnya.

Kitab ini merupakan antitesis terhadap pola pikir kefilsafatan Yunani secara keseluruhan. Pemikiran Yunani yang terkenal dengan logika matematikanya, telah mempengaruhi cara berpikir umat manusia. Bahkan telah mengimbas terhadap kebangkitan Eropa moderen. Namun Ibnu Taimiyah tidak gentar menghadapi pemikiran Yunani yang dianggapnya justru menyesatkan itu. Kitab Ibnu Taimiyah ini sebanding dengan karya Al-Ghazali dalam Tahafutul Falasifah.

Jika Al-Ghazali menghantam tradisi pemikiran filsafat Yunani dari segi pemikiran Aristoteles atau logika Yunani pada umumnya, dan memasukkan pola logika ini dalam pemikiran Islam. Kemudian membangun paradigma dalam karyanya, dengan maksud agar ulama Islam mengetahui tentang struktur logika Yunani pada zamannya. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah lebih radikal lagi, ia tidak menginginkan logika tersebut sebagai paradigma maupun salah satu proposisi dalam pemikiran Islam, baik sebagai sumber, metode ataupun tujuan.

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya itu membangkitkan semangat berpikir Islam dengan cara membangun logika Islam secara murni.

Ironisnya, kitab Ibnu Taimiyah tersebut tidak tercetak, kecuali pernah dicetak hanya sekali di India, sehingga menjadikannya sebagai naskah yang langka. Betapa besar pengaruhnya manakala kitab tersebut dapat tersebar di seluruh dunia dan dinikmati oleh kalangan pemikir Muslim.

Ibnu Taimiyah tidak hanya membatasi diri dalam perjuangan ilmiah melalui karya tulis maupun fatwa lisannya. Namun terkenal pula sebagai seorang faqih, alim, dan sekaligus mujahid (pejuang). Ia terkenal sebagai pejuang yang mengangkat pedangnya untuk menghantam bangsa Tartar. Bahkan keberaniannya di medan laga diakui oleh lawan maupun kawan seperjuangannya, sebagaimana keberaniannya dalam membela kebenaran di bidang pengetahuan dan fikih.

Ibnu Taimiyah tidak pernah menyembunyikan ungkapan-ungkapan kebenaran. Atas sikap hidupnya inilah yang membuat Ibnu Taimiyah harus berakhir di tiang gantung di Damaskus. Hampir seluruh rakyat Damaskus keluar untuk menghormati jenazah beliau.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 728 H. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya dan menempatkannya di singgasana surga yang luas. Amin.*/Sudirman STAIL (sumber buku Apa dan Siapa 45 Budayawan Muslim Dunia, penulis Dr. Abdul Kariem Utsman)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ibnu Taimiyahlogika yunanipemikir Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya GNPF MUI akan Gelar Aksi Simpatik 5 Mei di Jakarta
Tulisan selanjutnya Jalan Kebaikan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Berita
12 Oktober 2026 23:35
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?