Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Ulama Nusantara dan Perang di Bulan Ramadhan [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Mei 2017 10:52 10:52 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Mei 2017 10:52
Bagikan
Pejuang Hizbullah
Bagikan

 

Oleh: Muhammad Pizaro

 

HAUS, lapar, dan dahaga adalah kondisi yang harus dihadapi seorang muslim ketika menjalani puasa di bulan suci Ramadhan. Ibadah lainnya yang berat untuk dilaksanakan adalah pergi berjihad ke medang perang untuk membela agama Islam. Namun itulah yang harus dilakukan umat Islam Indonesia saat berperang melawan penjajah Belanda mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Kisah heroik itu tertuang dalam sejarah perjuangan para ulama dan masyarakat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Meski dalam kondisi berpuasa, semangat jihad mereka tidak pudar. Ibadah puasa justru menjadi spirit menegakkan agama Islam dan memperkokoh kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang hendak dirampas kembali oleh Belanda lewat Agresi Militer I.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Agresi Militer Belanda I adalah operasi militer yang dilakukan Belanda pada 1947. Tujuannya adalah mengepung ibu kota Republik Indonesia dan menghapus kedaulatan NKRI. Fokus serangan penjajah berlangsung di tiga tempat: Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Lewat agresi ini, Belanda bernafsu menguasai kembali Indonesia sebagai tanah jajahan untuk dijadikan wilayah persemakmuran kerajaan Belanda. Akibat niat jahat Belanda ini, rakyat Indonesia murka. Api perlawanan meletup. Langkah negeri van oranje ini mendapatkan perlawanan sengit bangsa Indonesia, khususnya ulama dan umat Islam.

Di Sumatera Selatan, Agresi militer I Belanda dilakukan tepat di hari ketiga bulan puasa. Aksi itu dimulai setelah umat Islam baru saja selesai melakukan sahur sekitar pukul 04.00 pagi. [Dinas Sejarah, Kodam II Bukit Barisan, Sejarah perang kemerdekaan di Sumatera 1945-1950, Medan: 1984]

Sementara itu, di Jawa Timur, pertempuran antara alim ulama melawan tentara Belanda juga meletus di Pamekasan saat bulan Ramadhan. Rencana Belanda untuk merebut kemerdekaan RI telah lama tercium oleh ulama dan masyarakat.

Baca:  Karena Gerakan Jihad Indonesia Merdeka

Dengan keberanian dan semangat juang tinggi, rakyat Madura merasa berkewajiban untuk menyiapkan tenaga untuk head to head dalam perang fisik melawan penjajah Belanda.

Sehubungan dengan hal tersebut, para ulama se-Madura menggelar musyawarah di Pamekasan. Rapat akbar tersebut menghasilkan keputusan, “Bagi Umat Islam laki-laki dan perempuan wajib hukumnya ikut perang Jihad fi sabilillah mempertahankan Kemerdekaan bangsa Indonesia dan mengusir penjajah Belanda!”

Keputusan tersebut langsung menjalar ke tiap nadi masyarakat Madura yang mayoritas muslim. Ulama menegaskan, perlawanan melawan Belanda, selain untuk mempertahankan Republik Indonesia, juga untuk menegakkan Islam yang merupakan cita-cita umat Islam Indonesia. Mereka menyadari betul, selama Indonesia di bawah kekuasaan Belanda, umat Islam tidak akan pernah mendapatkan keleluasaan menjalankan agama.

Hal itu diperkuat dengan pernyataan KH. Ahmad Basyir AS., yang mengatakan, “Selama Indonesia dijajah, agama Islam, sulit untuk tegak di Indonesia!”. Bahwa, “Agama Islam bisa tegak di Indonesia, jika Indonesia bebas dari penjajah,” tukas KH. Syarqawi.

Bahkan, dengan tegas KH. M. Nasruddin Anchori CH, menyatakan:

“Membela dan mempertahankan NKRI, tidak saja menjadi kewajiban nasional, tapi sekaligus juga kewajiban agama. Itu terbukti dan menjadi kenyataan umat Islam Indonesia dengan membentuk badan-badan perjuangan fisik semacam Hizbullah. Yakni perang Sabil Lii’lai Kalima tillah membela agama.”

Semangat jihad itulah yang membawa ulama dan warga Pamekasan terjun ke medan pertempuran. Rasa haus dan dahaga tak menyurutkan nyali mereka menghalau penjajah. Bisa dikatakan, bulan Ramadhan telah menjelma menjadi bulan jihad fi sabilillah demi mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan agama.

Maka, pada tanggal 29 Ramadhan 1366 H (16 Agustus 1947 M), tepatnya pukul 04.00 pagi, para pejuang memasuki Kota Pamekasan dengan dipimpin KH. Muh. Tamim dan K. Muththar. Pasukan Hizbullah dan Sabilillah, yang terdiri dari santri, keluarga pesantren, rakyat jelata, bergerak dengan tujuan merebut gudang senjata dan melumpuhkan markas Belanda.

Dengan kumandang takbir dan bacaan tahlil, laskar Sabilillah mulai menyerang penjajah Belanda. Mengetahui hal tersebut, tank-tank Belanda sontak berkeliaran sambil memuntahkan tembakan, dentuman mortir, metraliur, dan light kogels (peluru yang bersinar) ke arah pejuang. Namun, serangan itu tak membuat nyali para pejuang gentar. Mereka justru bergerak maju melawan Belanda. Perang pun pecah. Pamekasan membara. Suara gemuruh menghujam langit Madura. Bulan Ramadhan 1366 H telah menjadi saksi perjuangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan RI dan agama: sebuah andil yang perlahan pudar dalam ingatan bangsa.

Baca:  Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Dalam petarungan sengit tersebut, sebagian pejuang berhasil menembus serambi markas penjajah. Sebagian tentara penjajah lalu berlarian ke dalam markas dan menutup pintunya agar tak berhasil ditembus pejuang.

Melihat kondisi ini, Laskar Sabilillah lalu menyerbu tank-tank yang sedang berupaya mengeluarkan peluru. Dalam kondisi kalap, tentara Belanda mulai memuntahkan peluru ke segala penjuru. Dalam pertempuran sengit itu, KH. Muh. Tamim menunjukkan aksi heroiknya dengan melumpuhkan sebuah tank lewat sepucuk granat. Buah keberanian Kyai asal Madura itu membuat tank Belanda hancur lebur dan pasukan Sabilillah yang ada di sekitarnya berhasil terhindar dari tembakan musuh.

Dari peperangan ini, 65 orang tentara penjajah Belanda tewas. Sementara tiga truk berhasil diangkut ke Surabaya. Sedangkan di pihak pejuang, dilaporkan 85 orang meninggal dunia. [Lihat: A.H. Mutam Muchtar, Peranan Ulama dalam Perlawanan terhadap Agresi Belanda I di Pamekasan Madura. Undergraduate Thesis, Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1987] (bersambung)

Wartawan dan penulis buku

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:jihad fi sabilillahnusantaraperang kemerdekaantentara hizbullahulamaulama nusantara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bintang Termahal MU Paul Pogba Sambut Ramadhan di Tanah Suci
Tulisan selanjutnya Pemimpin Tertinggi Iran Sebut Arab Saudi akan Runtuh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi

Berita
13 Oktober 2026 00:13
Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?