BAGI manusia, mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Ketersendirian –dan lebih hebat lagi keterasingan– sungguh dapat menghantui manusia karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, makhluk yang membawa sifat dasar ketergantungan.
Memang, sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia kawin, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa.
Tetapi harus diingat bahwa keberpasangan manusia bukan hanya didorong oleh desakan naluri seksual, tetapi lebih daripada itu. Ia adalah dorongan kebutuhan jiwanya untuk meraih ketenangan. Ketenangan itu didambakan oleh suami khususnya saat dia meninggalkan rumah dan anak istrinya, dan dibutuhkan pula oleh istri lebih-lebih saat suami meninggalkannya keluar rumah. Ketenangan serupa dibutuhkan juga oleh anak-anak, bukan saja saat mereka berada di tengah keluarga, tetapi sepanjang masa.
Entah apa yang terjadi dalam detak-detik jantung seorang perempuan dan lelaki yang berpasangan secara sah, sehingga keduanya bersedia, menurut istilah Surat an-Nisa’ [4]: 21 afdha ba’dhukum ila ba’dh, yakni bergaul seluas-luasanya dan sebebas-bebasnya satu dengan yang lain. Pergaulan itu tidak hanya terbatas pada hubungan jasad, tetapi mencakup aneka kegiatan. Mencakup emosi dan perasaan, keresahan serta sambutan timbal balik yang beraneka ragam serta rahasia-rahasia jiwa yang terdalam.
Pergaulan yang dilukiskan ayat di atas mencakup puluhan gambaran kehidupan bersama suami istri sepanjang hari dan malam, yang jumlahnya tidak terbatas dari kenangan yang dirangkum oleh hari-hari perkawinan, sampai mencakup pula setiap denyut cinta, setiap pandangan asmara, setiap sentuhan badan, setiap kebersamaan dalam senang dan susah, harapan dan cemas, pikiran masa kini dan masa datang, setiap kerinduan menyangkut masa lalu, setiap pertemuan dalam merangkul anak, semuanya dicakup oleh kata afdha yang maknanya sangat luas itu.
Jika ini terbayang dalam benak suami istri, maka agaknya keberpasangan itu akan tetap langgeng apa pun yang terjadi, bahkan langgeng sampai ke Hari Kemudian.
Kesediaan seorang wanita untuk hidup bersama seorang lelaki, dan meninggalkan orang tua dan keluarga yang membesarkannya –mengganti semua itu dengan penuh kerelaan untuk hidup bersama seorang lelaki yang menjadi suaminya, yang besar kemungkinan belum dikenalnya secara utuh, serta kesediaannya membuka rahasianya yang paling dalam– semua itu mustahil kecuali jika ia merasa yakin bahwa kebahagiaannya bersama suami akan lebih besar dibanding dengan kebahagiaannya bersama ibu bapak dan keluarganya, dan pembelaan suami terhadap dirinya tidak lebih sedikit dari pembelaan saudara-saudara kandungnya. Itulah satu dari sekian banyak ayat (tanda) kehadiran Allah dan kuasa Allah, dan yang perlu diingat dan direnungkan oleh pasangan suami istri sebagaimana pesan-Nya:
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang pasangan supaya kamu mengingat.” (adz-Dzariyat [51]: 49).
Yakni mengingat betapa Maha Kuasa Allah, dan mengingat pula betapa agung nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada manusia dan semua makhluk. Demikianlah, kita dapat menemukan Allah dalam kebersamaan makhluk, dan memang Dia wujud dan kita dapat menemukan-Nya di mana-mana. Wa Allah A`lam.*/M. Quraish Shihab, dari bukunya Dia Di Mana-mana-‘Tangan’ Tuhan di Balik Setiap Fenomena.