PARA sahabat –radliyallahu`anhu– berjalan di atas dataran hamparan padang tandus dan mengarungi lautan buas untuk mencari penghidupan. Ikutilah jejak mereka, karena mengikuti mereka adalah lebih utama.”
Allah berfirman: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah.” (Al-Nur: 37). Mereka dinamakan laki-laki, sebab mereka berdiri di atas kepentingan duniawi, tetapi semua itu tidak membuat lalai dari berdzikir kepada Allah. Ia adalah simbol kesempurnaan.
Dalam riwayat diceritakan, pada suatu hari Nabi Isa `alaihissalam melewati seorang laki-laki yang sedang duduk, ia bertanya kepadanya: “Apa yang engkau lakukan di sini?”
Dia menjawab: “Aku sedang beribadah, wahai Ruhullah.” Nabi Isa berkata: “Siapa yang mencukupi kebutuhanmu?”
Dia menjawab: “Saudaraku.” Isa berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya ia lebih beribadah kepada Allah daripada kamu.” `
Dalam hadist disebutkan, sekelompok orang membicarakan seorang laki-laki di hadapan Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam. Mereka memuji kebaikannya dan menyebutkan semua amal ibadah yang ia kerjakan.
Rasulullah bertanya: “Siapakah yang memberinya makan dan minum, menggembalakan ternak dan menggarap tanahnya?” Mereka menjawab: “Kami wahai Rasulullah.”
Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya kalian lebih baik daripada dia.”
Hudzaifah radliyallahu’anhu berkata: “Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang berkerja untuk akhirat dan dunia.”
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku benci melihat pengangguran, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.”
Abu Qalabah berkata: “Seorang laki-laki mencari penghasilan hidup dengan menyusuri bumi Tuhan lebih baik daripada orang yang duduk di dalam masjid.”
Sufyan al-Tsauri berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Kalian harus bekerja, sebab pada umumnya orang yang mendatangi pintu-pintu penguasa adalah mereka yang mempunyai kebutuhan.”
Wahai saudaraku, ketahuilah hal ini, amalkanlah semua nasehat dan ikutilah para pendahulumu.*/Abdul Wahhab Al-Sya’rani, tertuang dalam bukunya Lentera Kehidupan.