Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Memberi yang Terbaik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 April 2017 12:41 12:41 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 April 2017 12:41
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

WAJAR bila seseorang yang hendak menikah, karena begitu bahagianya, membelikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk calon isterinya. Demikian halnya Julaibib, sahabat Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam ini. Ia kebetulan lama melajang, berkat bantuan Rasulullah akan mempersunting seorang gadis cantik lagi terhormat.

Julaibib pergi ke pasar dengan harapan dapat membeli sekian barang yang dapat menyenangkan hati si calon istri. Tapi belum sampai membeli barang, genderang jihad telah ditabuh bertalu-talu. Segera Julaibib mengurungkan niatnya. Kini ia tidak membeli kenang-kenangan untuk calon istrinya, justru membeli tombak, panah, tameng, dan peralatan perang lainnya.

Seruan jihad fi sabilillah ternyata lebih punya daya panggil daripada menikah. Tombak, panah, dan tameng lebih berharga dari emas dan permata. Ia lebih mencintai Allah dari yang lainnya. Karenanya ia mau berkorban apa saja untuk-Nya.

Calon istri dicintainya, akan tetapi ia lebih mencintai Allah, Tuhannya. Ia tidak enggan untuk membelikan kenangan untuk calon istrinya. Tapi bila Allah juga meminta pengorbanannya, maka ia lebih mendahulukan-Nya.

“Ada pun orang-orang yang beriman amat sangat mencintainya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Pembaca tentunya mengaku diri sebagai orang yang beriman. Sekarang ukur kecintaan Anda dengan standar sahabat Nabi ini. Cinta Allah kepada kita sudah dibuktikan-Nya dengan memberikan berbagai fasilitas hidup dan sarana lainnya. Kini Allah menuntut mana bukti kecintaanmu?

Suatu ketika kas Baitul Mal kosong, padahal peperangan harus diteruskan. Musuh sudah mengepung, lawan sudah di depan hidung. Menyerah berarti kalah, sementara melawan perlu dana banyak. Akhirnya Rasulullah mengumandangkan imbauan kepada kaum muslimin agar mau menyisihkan sebagian hartanya untuk jihad fi sabilillah.

Saat itu datanglah Abu Bakar dengan segala perlengkapan rumahnya. Abu Bakar yang sudah jatuh pailit, tentu saja tidak mampu membawa apa-apa kecuali barang-barang sisa pakai. Melihat Abu Bakar melakukan itu, Rasulullah mencegahnya, “Jangan kamu bawa semua, kamu tidak lagi punya apa-apa di rumah,“seru Rasulullah.

Tetapi apa jawaban Abu Bakar? “Allah dan Rasul-Nya lebih berharga dari seluruh isi jagad raya ini. Apakah tidak pantas bila sisa-sisa hartaku ini kupersembahkan untuk-Nya?”

Dulu ketika masih kaya, Abu Bakar, begitu melihat Bilal bin Rabah, saudara sesama muslimnya hendak dimerdekakan oleh tuannya yang jahat, dialah yang menebusnya. Kini setelah hartanya ludes untuk perjuangan, ia masih hendak berinfaq fi sabilillah.

“(yaitu) Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik pada saat lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran: 134)

Di saat lapang, ketika jabatan masih dipegang, ia gunakan kekuasaannya untuk berbakti kepada Tuhan. Ia memanfaatkan jabatannya untuk memajukan Islam. Tak menunggu pensiun untuk berjuang. Mumpung ada kesempatan untuk berbuat ma’ruf, kapan lagi?

Ketika kekayaan masih di tangan, ia gunakan untuk membiayai proyek-proyek perjuangan. Tak segan ia keluarkan uangnya untuk membantu sesama muslim yang membutuhkan. Tak berat mengeluarkan hartanya untuk proyek-proyek kemanusiaan.

Ketika sudah pensiun, ia tetap berjuang. Tiada kata sisa, sebab ia tetap punya wibawa. Meskipun tak seperti saat menjabat, tapi itu cukup bekalnya. Ia telah memberikan yang terbaik saat pensiun.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali-Imran: 92)

Karenanya disunnahkan bila menghadap kepada-Nya, pergi ke masjid guna melakukan ibadah shalat, hendaknya memakai pakaian yang baik, ditambah aroma wangi. Janganlah sebaliknya, bila pergi ke kantor selalu berpakaian rapi and style, tapi kalau shalat seenaknya saja. Sarungnya lusuh, bajunya kumal, ditambah kopiah yang sudah tak berbentuk.

Demikianlah halnya dalam bersedekah dan berinfak. Pilihlah yang terbaik untuk Allah. Jangan hanya uang recehan yang dimasukkan di dalam kotak amal. Sungguh ironis, bila ke rumah makan siap mengeluarkan lembaran puluhan ribuan, sementara bila ke rumah ibadah hanya mengeluarkan ribuan.

Lihatlah ketika shalat Jumat para jamaah kebanyakan hanya mengeluarkan uang recehan. Belum tentu amalannya diterima, tapi suara recehannya sudah mengganggu konsentrasi dan kekhusyuan yang mendengarkan khotbah.*/Sudirman STAIL (dari buku Cara Baru Memandang Dunia, penulis Hamim Thohari)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berjihadbersedekahcinta Allahmemberi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemuda Al-Irsyad: Kemenangan Anies-Sandi dengan Spirit Al-Maidah Ayat 51
Tulisan selanjutnya Jaksa Penuntut Umum: Ahok tidak Menghina Agama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?