SESUNGGUHNYA Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam adalah orang penuh kasih sayang terhadap umatnya, sebagaimana dinyatakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128).
Di antara bentuk kasih sayangnya, beliau mendorong umatnya menjaga waktu dalam ketaatan, bersegera, dan berlomba-lomba kepada amal-amal kebajikan.
Dari Ibnu Abbas r.a ia berkata, Rasulullah bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, mudamu sebelum rentamu, dan kayamu sebelum miskinmu.” (Diriwayatkan Al-Hakim dan Al-Baihaqi).
Bersegeralah wahai saudaraku seagama! Amalkan nasihat Nabi ini! Manfaatkanlah waktu-waktu emasmu untuk ketaatan kepada Rabb segenap manusia.
Karena pentingnya zaman dan berharganya waktu, Rasulullah mendorong kita berlomba-lomba dan bersegera dalam ketaatan –tidak sekedar melaksanakan sabda beliau, “Berlombalah dalam amal kebajikan dengan tujuh perkara (yakni bersegeralah kepada amal shalih sebelum terjadinya salah satu dari tujuh penghalang ini), apakah kalian menunggu kecuali kemiskinan yang melupakan (yakni seseorang yang sibuk mencari sesuap nasi, sehingga dia meninggalkan dan melupakan ketaatan dan amal shalih), atau kekayaan yang melampaui batas (yakni harta dan uang berlebih biasanya menyebabkan seorang hamba bersikap melampaui batas dan tenggelam dalam syahwat-syahwat yang diharamkan), atau sakit yang merusak atau renta yang menyebabkan penyesalan (ketuaan dan lanjut usia), atau kematian yang menunggu, atau dajjal yang ia adalah seburuk-buruk yang ditunggu, ataukah kiamat, yang kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (Diriwayatkan Al-Hakim dari Abu Hurairah r.a, dan At Tirmidzi).
Benar, barangsiapa merenungkan hadist ini, maka ia mendapati bahwa tujuh perkara yang dikandung oleh hadist ini adalah rintangan dan halangan yang menjadi dinding antara seseorang dengan menjaga waktu dan ketaatan kepada Rabb-nya yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.
Kemiskinan yang sangat menghalangi seseorang dari mencari ilmu, berdakwah, memperbanyak amalan-amalan sunnah, dan ketaatan-ketaatan yang lain karena sibuk mencari rezeki.
Kekayaan dan kemakmuran menghalangi seseorang menjaga waktunya, karena kesibukannya mengembangkan harta kekayaannya, atau karena terfokus pada pemenuhan kenikmatan dan keinginan-keinginan haram dengan sarana uang.
Penyakit menyebabkan tubuh menjadi lemah dan lunglai, hingga memutuskan kesempatan menjaga waktu bagi seseorang. Bagaimana dia menjaga waktunya sementara dia sakit, tidak kuat shalat, dan berdiri lama.
Kerentaan dan lanjut usia adalah unsur penghalang pemanfaatan waktu. Karena semakin tua seseorang dan bertambah umurnya, semakin lemah kekuatannya. Dia sangat rentan terhadap beragam penyakit dari segala segi, sehingga menuntut dia mencari kesembuhan yang berakibat hilangnya kesempatan memanfaatkan waktu untuk ketaatan.
Kematian adalah kapak pemecah punggung yang mengantarkan seseorang dari dunia ini ke alam kuburnya yang menakutkan. Di sana dia tidak lagi bisa beramal shalih.
Munculnya dajjal adalah salah satu fitnah terbesar, dan tabiat jiwa melemah pada waktu terjadinya fitnah dari memanfaatkan umur untuk ketaatan. Karena fitnah biasa¬nya menguasai hati dan menjadikannya sibuk memikir¬kannya, maka dalam keadaan begini, bagaimana dia me¬manfaatkan waktunya?
Datangnya kiamat adalah perjalanan terakhir bagi dunia ini, yang merupakan kampung beramal. Kiamat adalah saat dimulainya Akhirat, alam pembalasan, pahala atau siksa; sekelompok di Surga, sekelompok di Neraka.
Selama tujuh perkara penghalang ini menunggu seseorang, maka hendaknya dia bersegera memaksimalkan pemanfaatan kesempatan, kegesitan, dan kesehatannya. Singsingkanlah lengan baju dalam menjaga detik-detik usia untuk ketaatan kepada Allah! Sebelum menyesal dan bersedih pada hari di mana penyesalan sudah tidak berguna lagi!*/Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih, dari bukunya 125 Kita Salaf Menjadikan Waktu Produktif.