Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Membangun Pilar Akhlak Mulia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Maret 2017 13:19 1:19 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Maret 2017 13:19
Bagikan
Bagikan

IMAM Ibnu Qayyim dalam al-Madarij menyebutkan bahwa akhlak mulia berdiri di atas empat pilar utama yang saling mendukung antara satu dengan yang lain. Empat pilar itu adalah kesabaran, keberanian, keadilan, dan kesucian.

Sifat sabar akan membantu seseorang lebih tahan banting, maupun menahan amarah, tidak merugikan orang lain, bersikap lemah-lembut, santun, dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu.

Sifat selalu menjaga kesucian diri dapat mendorong seseorang tidak tergelincir ke dalam perkataan dan tindakan yang merendahkan dan menjatuhkan martabatnya. Selain itu, dapat mendorongnya selalu dekat pada perasaan malu yang merupakan kunci segala kebaikan. Sifat menjaga kesucian ini juga menghindarkannya untuk terlibat dalam perbuatan keji, kikir, dusta, menggunjing, dan mengadu domba.

Sifat berani menjadikan seseorang kuat menjaga harga diri, mudah membumikan norma dan akhlak mulia, serta ringan tangan. Dengan begitu, ia tidak ragu mengeluarkan atau berpisah dengan harta yang dicintainya.

Sifat ini juga mempermudah untuk menahan amarah dan bersikap santun. Dengan modal keberanian, seseorang dapat menggenggam erat ketegasan jiwanya serta mengekangnya dengan tali baja yang tak mudah putus. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“…Keberanian bukanlah seperti ditunjukkan dalam bergulat, melainkan dalam menguasai jiwa ketika marah…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Oleh karena itu, hakekat keberanian seseorang adalah kemampuan melawan musuh besarnya, yaitu hawa nafsu.

Sifat adil dapat mengasah sikap seseorang untuk terus berupaya meluruskan perangainya, membantunya memilah antara bersikap terlalu berlebihan dan bersikap terlalu kurang. Sifat ini mendorong terus untuk bersikap dermawan dan murah hati; sikap tengah-tengah antara kikir dan boros.

Selain itu, sifat ini dapat menyuntikkan sifat pemberani; sikap tengah-tengah antara pengecut dan nekat. Adil juga dapat melahirkan sifat santun; penengah antara sifat pemarah dan rendah hati.

Ada pun sifat tidak terpuji berdiri di atas empat pilar berkebalikan dari empat pilar tersebut, yaitu bodoh, zalim, mendahulukan hawa nafsu, dan mudah marah.

Sifat bodoh dapat membalikkan pandangan atau sesuatu yang sebenarnya baik, terlihat buruk; dan sesuatu yang sebenarnya buruk, terlihat baik. Dengan kebodohan, suatu aib dan kekurangan terlihat sempurna. Selain itu, kebodohan dapat membutakan seseorang sehingga tidak bisa melihat aib dalam keadaan sesungguhnya.

Sifat zalim mendorong seseorang selalu meletakkan sesuatu tidak di tempat semestinya. Dengan begitu, ia akan mudah marah pada saat ridha dan pasrah diri, yang seharusnya menguasai diri. Ia juga akan mudah tergesa-gesa pada saat diharuskan bersikap ekstra hati-hati dan waspada. Ia juga kikir meski seharusnya pintu hatinya terketuk dan dan rela berderma. Ia juga nekat mengambil resiko pada kondisi yang semestinya lebih tepat untuk menahan diri. Jadi, ia akan selalu mengambil sikap keliru pada semua situasi.

Tidak hanya itu, sifat zalim dapat mengubah seseorang bersikap terlalu lunak dan mudah dikuasai pada saat ia harus bersikap berani dan pantang menyerah. Atau sebaliknya, seseorang menjadi keras hati pada saat ia harus berlemah lembut. Sifat ini juga dapat membuat seseorang merendahkan dirinya pada saat seharusnya ia menunjukkan keagungan dan kemuliaan diri. Atau sebaliknya, ia justru memperlihatkan kecongkakannya pada saat seharusnya ia merendahkan diri.

Sikap mendahulukan hawa nafsu dapat menciptakan hasrat untuk memilih sesuatu secara berlebihan, kikir, tidak mampu menjaga kesucian dan harga diri, tidak dapat menjinakkan diri, hanyut oleh hawa nafsu, tamak, serta mejebloskan dirinya ke jurang kehinaan dan kerendahan.

Sifat pemarah dapat mendorong seseorang bersikap congkak, selalu mendengki, mudah menyulut api perpecahan dan persengketaa, serta mudah melancarkan tindakan tanpa perhitungan.

Keempat sifat ini melahirkan tabiat-tabiat yang tidak terpuji. Dasar dari keempat sifat ini adalah terlalu membiarkan diri dalam keadaan lemah dan tidak dapat menahan jiwa dalam berbuat dan bersikap berlebih-lebihan.

Jika seseorang memiliki minimal dua sifat dari empat sifat itu, dapat dipastikan dia akan memiliki tabiat sangat keji. Jiwa terkadang terbentuk dari dua sifat yang tidak dapat dikontrol dan terlalu lemah.

Orang yang berbentuk sifat seperti itu, akan menjadi sosok yang sangat keras jika berkuasa dan sangat hina jika dikuasai orang lain. Orang seperti itu akan menjadi orang yang zalim, keras, dan otoriter. Jika berada di bawah bayang-bayang orang lain, ia akan menjadi sangat lemah, bahkan lebih lemah daripada seorang wanita.

Ia juga menjadi pengecut di hadapan orang-orang yang lebih kuat dan bersikap sewenang-wenang terhadap orang-orang yang lebih lemah.
Akhlak tercela dapat menarik sifat-sifat tercela yang lain, sebagaimana akhlak mulia dapt melahirkan bibit-bibit sifat mulia yang lain. Selain itu, satu akhlak mulia biasanya berada di tengah-tengah sifat tercela. Akhirnya, akhlak mulia ini merupakan titik tengah di antara dua hal yang tidak baik.

Dermawan, misalnya, berada di dua sifat tercela, yaitu sifat kikir dan sifat boros. Demikian pula sifat rendah hati, diapit oleh dua sifat tidak terpuji, yaitu rendah diri atau hina dan pongah.*/Sudirman (dikutip dari buku Ensiklopedia Akhlak Muhammad Saw, penulis Mahmud al-Mishri)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akhlah muliabersikap adilsuka menolong
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BMOIWI Wajibkan Organisasi Anggotanya Pilih Pemimpin Muslim
Tulisan selanjutnya Digugat Anaknya Rp 1,8 M, Rokayah Doakan Kebaikan Sang Buah Hati

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?