Lanjutan artikel PERTAMA
Oleh: Musthafa Luthfi
Beberapa pengamat menyebutkan setidaknya Yaman akan menghadapi empat skenario dalam beberapa bulan kedepan.
Yang pertama adalah al-Hautsi berkuasa dan mengembalikan sistem dinasti sebagaimana sebelum revolusi tahun 1962 dan mereka telah mempersiapkan tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan tamatan luar negeri dengan orientasi kekuasaan yang tidak pernah padam.
Sedangkan skenario kedua, sebagian pengamat melihat kemungkinan pemimpin Ansharullah, Abdul Malik Al-Houtsi akan diangkat sebagai pemimpin spiritual tertinggi di Yaman yang kedudukannya seperti Ayatullah Ali Khomanei di Iran. Bila demikian halnya, maka dialah penentu keputusan sesugguhnya dan di tangannya lah segala kebijakan negara dengan pemerintahan yang dipimpin oleh tokoh yang loyal kepadanya.
Adapun skenario ketiga adalah Presiden sekarang, Abdo Rabbu Mansyur Hadi masih akan tetap menjabat sebagai kepala negara simbolis tanpa wewenang meskipun untuk masa transisi karena penentu keputusan sesungguhnya adalah al-Houthi yang sengaja memilih berada di belakang layar. Kesepakatan yang dicapai setelah pendudukan ibu kota Sana`a antara al-Houthi dan pemerintahan Hadi mengarah ke skenario ini.
Sementara skenario keempat adalah kekacauan bersenjata menyeluruh mengarah ke perang saudara sektarian di wilayah utara Yaman yang dapat mendorong gerakan Gerakan Selatan yang selama ini menuntut kemerdekaan Yaman Selatan memanfaatkan situasi tersebut untuk memisahkan diri. Seperti diketahui Republik Yaman yang terdiri dari Yaman Utara dan Yaman Selatan mendeklarasikan persatuannya pasca perang dingin pada 22 Mei 1990.
Dengan melemahnya kontrol pemerintahan pusat setelah hengkangnya mantan Presiden Saleh, wilayah selatan dikuasai oleh milisi Gerakan Selatan dan al-Qaidah. Situasi kacau seperti ini juga dipastikan akan menjadi “lahan subur” bagi al-Qaidah untuk melebarkan pengaruhnya apalagi gerakan ini telah menyatakan tekadnya untuk melakukan pembalasan terhadap al-Hautsi.
Skenario keempat ini akan menyuguhkan sebuah tragedi perang saudara yang bila benar-benar terjadi akan sangat sulit diatasi di negeri yang seluruh warganya memiliki senjata api tersebut. Besar kemungkinan skenario tersebut dapat mengarah kepada disintegrasi Yaman, apalagi al-Hautsi tidak peduli apakah selatan berpisah dari utara karena yang terpenting baginya adalah mengembalikan kekuasaan di wilayah utara.
Sangat sulit memastikan skenario mana dari beberapa skenario yang lebih besar kemungkinannya akan benar-benar terjadi mengingat situasi di negeri itu saat ini terkesan dipenuhi kabut ketidakpastian. Rakyat Yaman saat ini mengalami keputusasaan luar biasa karena merasa ditinggalkan oleh negara-negara tetangga dan masyarakat internasional yang sebelumnya sebagai sponsor selama masa transisi.
Hampir dipastikan bahwa perhatian negara-negara tetangga dan dunia terhadap Yaman semakin terpinggirkan karena perhatian mereka dewasa ini terfokus pada perang melawan kelompok Islamic State in Iraq and Syiria (ISIS) di Iraq dan Suriah. Tidak ada kepastian sampai kapan kesudahan perang melawan ISIS sementara perkembangan situasi di Yaman bergerak demikian cepat.
Negara Yaman sedang mengarah ke situasi terpuruk meskipun utusan Sekjen PBB Benomar berusaha membantu dengan mensponsori kesepakatan yang sesuai dengan kepentingan al-Hautsi namun tidak akan banyak artinya untuk menormalkan situasi. “Upaya Benomar bila berhasil pun hanya bersifat sementara karena tidak akan mampu mencegah kekacauan bersenjata. Nampaknya skenario keempat ini lebih menonjol,” papar sebagian pengamat.
Musuh utama
Sekedar mengilas balik pelaksanaan dialog nasional yang dimulai pertengahan tahun 2013 dimana banyak analis luar negeri yang menyebutkan bahwa isu separatisme wilayah selatan Yaman yang akan menjadi penyandung utama tercapainya kompromi nasional. Namun kenyataan di lapangan sebagaimana diakui oleh sebagian besar peserta dialog bahwa sandungan utama adalah al-Hautsi dan mantan Presiden yang dilengserkan.
Prediksi para peserta dialog akhirnya terbukti, mayoritas pemimpin selatan sepakat menerima keputusan dialog terutama terkait masalah selatan yang diberikan otonomi luas dengan sistem negara federal. Tapi lain halnya dengan al-Hautsi yang belakangan kemudian mendapat dukungan mantan Presiden, secara sepihak menyampaikan keberatan terhadap hasil dialog sebelum semua isu yang menjadi kepentingannya terakomodir terutama yang terkait dengan kebebasan penyebaran dan perluasan pengaruh Syiah di wilayah utara dan keinginan mengontrol sejumlah provinsi.
Walupun idiologi Syiah di Yaman adalah Zaidiyah yang dekat dengan Ahlus Sunah (Sunni) namun secara politis para pemimpin mereka loyal dengan Iran dan mendukung perluasan pengaruh Iran di kawasan. Pasalnya, negeri Mullah itu yang paling berpeluang membantu mereka mengembalikan masa kejayaan kerajaan Zaidiyah di Yaman Utara yang dikudeta militer dan rakyat yang mayoritas Sunni pada 1962.
Dengan kemampuan persenjataan yang kuat dan milisi terlatih, meskipun sebagai minoritas, al-Hautsi akhirnya mampu memaksakan kehendaknya lewat jalan pintas di luar kesepakatan dialog nasional. Dugaan bahwa al- Hautsi yang mulai memberontak terhadap pemerintah pusat sejak Juni 2004 bakal menjadikan posisinya seperti Hizbullah terbukti sudah sebagai negara dalam negara yang menjadi penentu keputusan sebagaimana halnya Hizbullah di Libanon.
“Karakteristik al- Hautsi lewat organisasinya Ansharullah sama dengan Hizbullah yang selalu menentang setiap kompromi (selama kepentingan mereka belum terakomodir). Terkait dengan Yaman memang organisasi ini dan mantan Presiden Saleh adalah musuh utama bagi pemulihan situasi,“ papar analis Arab, Abdulrahman Rashid dalam artikelnya di harian al-Sharqul Awsath, Senin (22/9/2014).
Menurutnya, target utama al- Hautsi sejak pelengseran Saleh adalah menguasai wilayah utara dengan bantuan Iran dan target utama Saleh adalah memperluas kekacauan untuk menggagalkan pemerintahan baru. “Tapi nampaknya keberhasilan mereka tidak akan berlangsung lama sebab faksi-faksi Yaman yang telah menyetujui rekonsiliasi nasional akan melakukan serangan balik,“ tandasnya.
Dengan kemampuan persenjataan yang ditengarai dikirim oleh Iran, al- Hautsi diperkirakan sulit ditandangi oleh faksi-faksi Yaman lainnya tanpa bantuan luar terutama dari negara-negara tetangga di Teluk. Karenanya, besar kemungkinan bila tidak ada penanganan serius masyarakat internasional, Yaman bisa bernasib sama dengan Suriah yang menjadi korban kepentingan negara-negara besar kawasan regional.
Dan perlu dicatat pula bahwa situasi di Yaman saat ini juga tidak terlepas dari perubahan kebijakan di kawasan menyusul rujuknya AS dan Iran yang telah membuka peluang bagi Teheran untuk melebarkan sayap pengaruhnya di kawasan terutama di negara-negara Arab yang berpenduduk minoritas Syiah. Karena itu, negara Mullah itu tidak ragu-ragu menyambut gembira “kemenangan” al- Hautsi di Yaman (Ahad, 4 Zulhijjah 1435 H).*
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman