Perkembangan kedua adalah pelantikan Presiden AS, Barack Obama untuk masa jabatan empat tahun kedua (terakhir) memimpin negeri yang disebut adidaya itu pada Ahad (20/1/2013) waktu setempat. Diantara inti pidato pelantikannya yang terkait hubungan luar negeri adalah, ia menutup pintu rapat-rapat terhadap intervensi militer dengan menegaskan masa perang telah berakhir dan dialog adalah cara satu-satunya menuju perdamaian.
Pesan Obama dalam pidato tersebut jelas yakni tidak ada intervensi militer di Suriah dan tidak akan melakukan perang baru melawan Iran sebagaimana desakan Israel. Masa jabatan terakhir empat tahun kedepan nampaknya hanya akan difokuskan pada masalah dalam negeri terutama upaya mengeluarkan negerinya dari krisis ekonomi yang sangat parah.
Dengan demikian, peran internasional AS empat tahun terakhir masa jabatan Obama akan menyusut sehingga tidak akan memimpin NATO melakukan intervensi di belahan bumi mana pun. Apabila dibutuhkan sekutunya dalam NATO, peranya tak lebih sekedar partisipasi simbolis, bantuan logistik atau berada di lini belakang sebagaimana halnya saat menjatuhkan bekas pemimpin Libya, Moammar Kaddafi.
Sejumlah pengamat Arab mengulas kebijakan luar negeri negeri Paman Sam itu empat tahun ke depan di kawasan Timur Tengah dengan menggarisbawahi pada tiga poin kebijakan utama. Yang pertama adalah terkait proses damai yang kemungkinan besar tidak akan dihidupkan lagi hingga jabatan Obama berakhir yang berarti tidak akan ada tekanan atas Israel untuk menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi baru di tanah milik bangsa Palestina.
Adapun yang kedua adalah menolak seruan untuk melakukan intervensi di Suriah dan akan menyerahkan sepenuhnya kepada negara-negara regional apabila menginginkan intervensi di negeri tersebut. Sebagian analis menilai bahwa keputusan ini disebabkan semakin meningkatnya peran kelompok-kelompok yang dianggap radikal dalam perang melawan rezim disamping masih gagalnya oposisi membentuk pemerintahan di pengasingan.
Sedangkan yang ketiga adalah terkait dengan isu nuklir Iran. AS nampaknya enggan melakukan serangan militer untuk menghancurkan instalasi nuklir Iran selama negeri Persia itu belum memutuskan untuk memproduk senjata nuklir. Negeri adidaya yang sedang tidak berdaya itu agaknya akan tetap memfokuskan pada kelanjutan sanksi ekonomi yang semakin dirasakan dampaknya oleh rakyat Iran saat ini.
Kebijakan tersebut mengindikasikan bahwa negeri Paman Sam itu sudah terlalu penat berperang di Timur Tengah setelah intervensi di Iraq menyebabkan kas negara terkuras disamping ribuan pasukan yang tewas. Obama, juga terkesan bersikap dingin melanjutkan perang melawan terorisme yang dicetuskan pendahulunya, sehingga tidak begitu bersemangat terhadap intervensi Prancis di Mali yang bisa jadi berlarut-larut seperti di Afganistan dan Iraq.
Bagi Israel sendiri mungkin melihat sikap Obama tersebut dari dua sisi, yang pertama terkait proses damai yang direspon dengan senang hati karena tidak ada tekanan mengentikan pemukiman Yahudi. Sedangkan yang kedua terkait nuklir Iran, yang direspon pemerintahan Benjamin Netanyahu dengan sangat khawatir sebab negeri Mullah itu diperkirakan sudah mampu memproduksi bom nuklir dalam rentang waktu tersebut.
Namun tetap tidak menutup kemungkinan Netanyahu yang memiliki hubungan erat dengan Kongres AS akan memanfaatkan Kongres untuk menekan Obama agar siap mendukungnya apabila negeri zionis itu merasa perlu melakukan serangan sepihak atas Iran. Sejauh ini para pemimpin Israel, menilai ancaman nuklir negeri Persia itu sebagai ancaman eksistensi negeri zionis itu sehingga akan melakukan berbagai cara untuk menggagalkan ambisi nuklir Iran.
“Israel bisa saja melakukan serangan sepihak untuk memancing serangan balasan Iran sehingga akan memaksa Obama membela sekutunya atas desakan Kongres,” komentar sejumlah analis Arab. Kemungkinan ini nampaknya tetap terbuka lebar terlebih lagi bila perundingan demi perundingan antara Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tak kunjung mencapai jalan temu.
Memanfaatkan
Bagi rezim Suriah yang tidak ragu-ragu untuk mengorbankan lebih banyak lagi nyawa rakyatnya demi mempertahankan kekuasaan, dapat memanfaatkan kedua perkembangan tersebut untuk melanjutkan petualangannya dengan harapan negara-negara yang tadinya menutup telinga akan bahaya al-Qaidah di Suriah akan meninjau lagi posisi mereka. Rezim kembali memanfaatkan peluang untuk mengingatkan kembali bahwa kelompok radikal bakal memerintah bila rezim sekarang jatuh.
Para pemimpin Rusia juga ikut berkampanye mengusung suara yang sama bahwa Barat bakal menyesal nantinya bila tetap bersikeras menjatuhkan rezim Assad karena al-Qaidah akan menguasai Suriah. Inti dari kampanye itu “Barat akan mengulangi kesalahan yang sama di Suriah seperti Afganistan dengan berdalih pada intervensi Prancis di Mali.”
Kali ini, suara tersebut nampaknya menjadi pertimbangan kembali Barat dan juga sejumlah negara Arab karena khawatir Suriah dapat menjadi Afganistan baru menyusul penyusupan kelompok jihadis yang semakin besar. “Daripada mendukung kubu revolusi, mereka justru lebih menfokuskan perhatian kepada kelompok-kelompok radikal tersebut,” papar Abdurrahman al-Rasheed, dalam artikelnya di harian al-Sahrqul al-Awsath, Sabtu (19/1/2013).
Menurut salah satu analis Arab itu, tidak dipungkiri sebagian dari petempur anti rezim adalah kelompok radikal dengan mengibarkan bendera hitam, tapi sebagian besar kubu revolusi adalah dari tentara kebebasan. “Assad ingin memperburuk citra tentara kebebasan untuk menakuti Arab dan Barat, padahal kelompok radikal hanya sebagian kecil saja dan mereka ikut menumpang revolusi sekitar 10 bulan lalu, ” paparnya.
Memang sulit untuk mendapatkan angka yang pasti mengenai jumlah para petempur yang dinilai radikal itu, namun demikian, hampir dapat dipastikan bahwa sebagian besar dari kubu revolusi bukan kelompok radikal sebagaimana yang digambarkan rezim. Hanya mungkin yang menjadi kekhawatiran adalah, kelompok yang dianggap radikal tersebut semakin berani memunculkan identitasnya akhir-akhir ini dengan mendirikan kantor-kantor di kota dan desa sepanjang Aleppo hingga perbatasan Turki.
Sudah barang tentu, Barat yang selama ini mendukung kubu revolusi Suriah merasa khawatir karena melihat langsung “musuh” yang dianggap lebih berbahaya dari rezim. Tentunya pemandangan tersebut menambah keraguan mereka akan nasib negeri itu pasca rezim Assad ditambah lagi dengan perkembangan di Mali dan keengganan AS untuk aktif mengatasi krisis Suriah.
Karenanya, suara-suara yang menyatakan bahwa krisis Suriah harus diselesaikan secara politis, masih sebatas wacana tanpa ada keseriusan masyarakat internasional, sementara korban jiwa terus berjatuhan dan kehancuran semakin meluas. Perkembangan di Mali ditambah lagi dengan menyusutnya peran internasional AS dalam empat tahun ke depan akan menyebabkan krisis Suriah semakin berlarut.
Itu berarti perang akan terus berlanjut dengan dua kemungkinan kesudahannya yakni rezim jatuh oleh kubu revolusi dengan suntikan dana dan pasokan senjata canggih dari negara-negara pendukung revolusi atau kedua, kubu revolusi akhirnya kehabisan bekal senjata akibat pasokan yang terus berkurang sementara rezim terus mendapat pasokan senjata dari Iran dan Rusia sehingga terpaksa menerima kompromi sesuai dikte rezim.
Pada awal tahun 2013 ini belum ada indikasi keseriusan pihak-pihak terkait regional dan internasional terhadap penyelesaian politis, karena setiap pihak bersikeras pada pendirian masing-masing dan meneruskan solusi militer. Walaupun pemberitaan-pemberitaan media yang demikian gencar tentang semakin terdesaknya rezim Assad, namun tidak ada satu pihaknya pun yang dapat memastikan bahwa ia bakal jatuh dalam waktu dekat ini.*/Sana`a, 14 R. Awal 1434 H
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman