Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Ada Apa dengan GIDI dan Israel [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Juli 2015 13:19 1:19 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Juli 2015 10:39
Bagikan
Ada edaran mengharuskan mengecat bendera Israel di pagar dan kios di Tolikara, Papua
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

Situs Gereja Injili di Indonesia, GIDI, (http://www.pusatgidi.org/ind/israel), sampai 23 Juli 2015, masih memasang Piagam Kerjasama kelompok GIDI itu dengan Israel. Disebutkan, bahwa “This Agreement for Co-operation is made the 20th of November’ 06 BETWEEN: KEHILAT HA’SEH AL HAR ZION (KHAHZ) (THE CONGREGATION OF THE LAMB ON MOUNT ZION) JERUSALEM dengan THE EVANGELICAL CHURCH OF INDONESIA (GIDI – GEREJA INJILI DI INDONESIA), Jayapura, Papua.

Disebutkan dalam Piagam Kerjasama tersebut, bahwa: “…WE UNDERSTAND OUR NEW RELATIONSHIP WITH THE CHURCH IN PAPUA AND THE KEHILAH IN JERUSALEM TO BE A STEP IN THIS PROCESS OF RESTORATION. WE ALSO UNDERSTAND THAT THE BUILDING OF RELATIONSHIPS BETWEEN THESE TWO PARTS OF MESSIAH’S BODY IS IN CONFORMITY WITH THE PROPHETIC PURPOSES OF GOD FOR ISRAEL AND THE NATIONS IN THESE LAST DAYS.”

Republika.co.id melaporkan bahwa GIDI mengenakan sanksi denda Rp 500 ribu bagi warga Tolikara jika tidak mengecat kediamannya dengan bendera Israel.

”Kami didenda Rp 500 ribu jika tidak cat kios, itu kami punya kios,” kata seorang pedagang asal Bone, Agil Paweloi (34), saat ditemui Republika.co.id di tempat pengungsian di Tolikara, Papua, Jumat (24/7/2015) dini hari.

Berbagai foto yang beredar di dunia maya menunjukkan begitu maraknya dukungan GIDI terhadap negara Zionis Israel.

Mengapa GIDI begitu fanatik dalam mendukung Israel? Padahal, konstitusi dan sikap bangsa Indonesia terhadap Israel sudah sangat jelas. Negara Yahudi itu dipandang sebagai negara penjajah. Tahun 1955, Konferensi Asia Afrika I di Bandung menggelorakan semangat anti-Zionisme. Bahkan, dalam konferensi ini, Zionisme dinyatakan sebagai imperialisme yang paling jahat (the blackest imperialism) di abad ke-20.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Tahun 1960-an, Bung Karno menolak kedatangan atlet-atlet Israel ke Indonesia dalam acara Asean Games. Tahun 1975, Majelis Umum PBB sendiri memutuskan bahwa Zionisme adalah satu bentuk rasisme. Israel memang negara rasialis. Yahudi adalah bangsa rasialis. Mereka memandang bangsa-bangsa lain sebagai makhluk yang lebih rendah martabatnya. Karena itulah kesombongan rasial itu selalu mewarnai sejarah kehidupan mereka. Pakar zionisme, Prof. Ismail Faruqi menyatakan, bahwa andaikan gagasan pembentukan negara Yahudi itu dilaksanakan di bulan pun, harus ditentang.

Dalam bukunya, Islam and the Problem of Israel (Kuala Lumpur, 2003), Ismail Faruqi menekankan, bahwa umat Islam wajib menentang Zionis yang rasialis dan brutal, sebagai satu bentuk fardu kifayah: “Therefore, the Islamic position leaves no chance for the Zioinist State but to be dismantled and destroyed, and its wealth confiscated to pay off its liabilities. This obligation – to repel, stop and undo injustice, is a corporate religious obligation (fard kifayah) on the ummah, and a personal religious obligation (fard ‘ain) on every able adult Muslim man or women in the world until the ummah has officially assumed responsibility for its implementation.”

Namun, Faruqi menekankan, bahwa pembongkaran negara Zionis tidak berarti penghancuran kehidupan dan hak milik Yahudi. (However, dismantling the Zionist State does not necessarily mean the destruction of Jewish lives or of properties). Faruqi pun memberikan argumentasi, mengapa Islam sangat berkepentingan dengan perlawanan terhadap Zionisme, sehingga Islam tidak akan memberikan alternatif terhadap berdirinya negara Zionis, di mana pun berada, walaupun negara seperti itu dibuat di bulan.

Dr. Israel Shahak, guru besar biokimia di Hebrew University, dalam bukunya, Jewish History, Jewish Religion (London: Pluto Press, 1994), menyebutkan bahwa negara Israel memang merupakan ancaman bagi perdamaian dunia. Katanya, “In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond.”

Contoh ajaran rasis agama Yahudi, misalnya, kaum Yahudi dilarang memberikan pertolongan kepada orang non-Yahudi yang berada dalam bahaya. Cendekiawan besar Yahudi, Maimonides, memberikan komentar terhadap salah satu ayat Kitab Talmud: “It is forbidden to save them if they are at the point of death; if, for example, one of them is seen falling into the sea, he should not be rescued.” Jadi, kata Maimonides, adalah terlarang untuk menolong orang non-Yahudi yang berada di ambang kematian. Jika, misalnya, ada orang non-Yahudi yang tenggelam di laut, maka dia tidak perlu ditolong. Israel Shahak juga menunjukkan keanehan ajaran agama Yahudi yang menerapkan diskriminasi terhadap kasus perzinahan. Jika ada laki-laki Yahudi yang berzina dengan wanita non-Yahudi, maka wanita itulah yang dihukum mati, bukan laki-laki Yahudi, meskipun wanita itu diperkosa.

Dengan kondisi negara Israel seperti itu, sungguh patut dipertanyakan, ada apa sebenarnya hubungan antara GIDI dengan Israe di Tolikara Papua, khususnya? Apakah ini ada hubungannya dengan gerakan Papua lepas dari Indonesia?

Seperti dikutip oleh tabloidjubi.com di kantor Pusat GIDI, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (30/1), Presiden GIDI Dorman Wandikbo, menyatakan, bahwa perjuangan Papua Merdeka, bukan teroris, bukan kriminal, melainkan perjuangan menuntut hak yang melekat pada orang Papua yang tidak bisa diganggu-gugat. “Papua merdeka itu hak dasar orang Papua,” tutur Dorman Wandikbo. “Orang Papua minta merdeka bukan karena penderitaan, kelaparan dan kemiskinan, tapi mau lepas karena ideologi yang harus kita pahami,”tegasnya.* (BERSAMBUNG)

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Gereja Injili di IndonesiaGIDIisraelkonstitusiPapua
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid, Solusi Umat
Tulisan selanjutnya Aparat Tolikara Pernah Minta GIDI Cabut Surat Edaran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?