Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

152 Tahun Kiai Ahmad Dahlan: “Menyadarkan Bahwa Kita Masih Terjajah”

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 1 Agustus 2020 16:27 4:27 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 1 Agustus 2020 16:20
Bagikan
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

Hidayatullah.com | HARI  ini, 1 Agustus 2020, adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi dunia Pendidikan di Indonesia.  Sebab, 152 tahun lalu, 1 Agustus1868, lahirlah seorang tokoh pendidikan yang hebat, yang kemudian dikenal dengan nama “KH Ahmad Dahlan”.   Semoga, 1 Agustus juga akan diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Entah mengapa hanya tanggal 2 Mei  hari kelahiran Ki Hajar Dewantara  yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tentu lebih baik dan lebih adil, jika ada TIGA kali Peringatan Hari Pendidikan Nasiolah: (1) Tanggal 2 Mei (2) Tanggal 1 Agustus,  dan (3) Tanggal 14 Februari — Hari Kelahiran KH Hasyim Asyaari, pendiri NU, yang lahir 14 Februari 1871.

KH Ahmad Dahlan dikenal sebagai pendiri sebuah organisasi besar bernama Muhammadiyah. Atas jasa besarnya kepada bangsa Indonesia, pada tahun 1961, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada KH Ahmad Dahlan, melalui Keputusan Presiden No 657 tahun 1961.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Yang menarik adalah dasar penetapan Keputusan Presiden Soekarno dalam Keppres 657 tersebut, antara lain: (a) KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat; (b) Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam.

Apa masih terjajah?

Kini, menjelang peringatan kemerdekaan RI yag ke-75 tahun,  apakah bangsa kita sudah benar-benar merdeka? Apakah kita sudah merdeka dari utang yang mencekik anggaran negara kita? Apakah jiwa kita sudah merdeka? Apa jiwa kita sudah merdeka dari perhambaan kepada selain Allah?

Dalam bidang kegiatan utama Muhammadiyah —  pendidikan —  patut pula kita tanyakan: apakah sekolah-sekolah dan kampus-kampus Muhammadiyah sudah merdeka menentukan sistem dan kurikulumnya sendiri?

Ki Hajar Dewantara yang mengikuti jejak Kiai Dahlan  terjun dalam bidang pendidikan — pada tahun 1922 mendirikan Perguruan Taman Siswa. Ketika itu, Ki Hajar mengingatkan:

“Pendidikan yang selama ini diterima orang Indonesia dari Barat jauh dari kebal terhadap pengaruh-pengaruh politik kolonial; singkatnya, ialah pendidikan yang ada hanya untuk kepentingan pemerintah kolonial; dan ini sifatnya tetap semenjak zaman VOC meskipun di bawah politik etika. Tetapi anehnya, banyak priyayi atau kaum bangsawan yang senang dan menerima model pendidikan seperti ini dan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah yang hanya mengembangkan intelektual dan fisik dan semata-mata hanya memberikan surat ijazah yang hanya memungkinkan mereka menjadi buruh.”

***

Kiai Dahlan adalah seorang sosok idealis yang memiliki kepribadian dan kemampuan komunikasi hebat.  Bung Karno mengaku, saat masih berumur 15 tahun, ia sudah terpesona dengan ceramah Kiai Dahlan. Bahkan, sejak itu, Bung Karno “ngintil” Kiai Dahlan.

“Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kiai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil (mengikuti. Pen.) kepadanya, tahun 1938 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun 46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah; tahun 62 ini saya berkata, moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhaanahu wa-Taala, dan jikalau saya meninggal supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya,”  begitu pidato Bung Karno pada Muktamar Muhammadiyah di Jakarta, 25 November 1962.

Solichin Salam, dalam bukunya, “K.H. Ahmad Dahlan, Reformer Islam Indonesia” (1963), mendokumentasikan sosok Kiai Dahlan.   “Kebesaran Kiai Dahlan tidaklah terletak pada luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, melainkan terletak pada kebesaran jiwanya, kebesaran pribadinya,”  tulis Solichin Salam.

Kiai Dahlan memberikan teladan yang hebat dalam perjuangan. Beliau melakukan kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Meskipun dalam kondisi sakit, beliau tidak menuruti nasehat para dokter untuk berhenti berjuang. Beberapa kali, usaha murid-muridnya untuk membujuknya beristirahat gagal.

Maka, suatu saat,  dimintalah Nyai Dahlan menasehati Sang Suami.

“Istirahat dulu, Kiai!” saran sang istri.

“Mengapa saya akan istirahat?” tanya Kiai Dahlan.

“Kiai sakit, istirahatlah dulu, menunggu sembuh,” kata Nyai Dahlan lagi.

“Ajaib,” kata Kiai Dahlan, “Orang di kiri kananku menyuruh aku berhenti beramal, tidak saya pedulikan. Tetapi sekarang kau sendiri pun ikut pula.”

Dengan meneteskan air mata, istrinya berucap, “Saya bukan menghalangi Kiai beramal, tetapi mengharap kesehatan Kiai, karena dengan kesehatan itulah Kiai dapat bekerja lebih giat di belakang hari.”

Kiai Dahlan pun menenangkan istrinya; menjelaskan latar belakang perjuangannya. “Saya mesti bekerja keras, untuk meletakkan batu pertama dari pada amal yang besar ini. Kalau sekiranya saya lambatkan atau pun saya hentikan, lantaran sakitku ini, maka tidak ada orang yang akan sanggup meletakkan dasar itu. Saya sudah merasa, bahwa umur saya tidak akan lama lagi. Maka jika saya kerjakan selekas mungkin, maka yang tinggal sedikit itu, mudahlah yang di bekalang nanti untuk menyempurnakannya.”

Kira-kira sepekan sebelum wafatnya, Kiai Dahlan berpesan kepada murid-muridnya, “Aku tak lara ya, kowe kabeh temandanga!” (Saya mau sakit, bekerjalah kalian semua!). Dan pada 23 Februari 1923, Kiai Dahlan dipanggil Allah SWT.  Benar, beliau telah meletakkan landasan yang kuat dalam perjuangan.

Begitulah Kiai Ahmad Dahlan mendidik kita dalam perjuangan! Kita dididik memahami hidup; paham arti cinta dan ikhlas dalam perjuangan dan pengorbanan; juga bagaimana menjadi guru sejati, guru pejuang!

Sebelum wafat, Kiai Dahlan sempat menitipkan pesan: Kita manusia ini, hidup di dunia hanya sekali buat bertaruh. Sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraan?

Semoga amanah perjuangan Kiai Ahmad Dahlan bisa kita tunaikan! Amin.*

Pesantren At-Taqwa Depok, 1 Agustus 2020. www.attaqwa.id, dari www.adianhusaini.id

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KH Ahmad DahlanMuhammadiyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga Prancis Abaikan Protokol Kesehatan, Kasus Harian Covid-19 Melebihi 1.300
Tulisan selanjutnya WHO: Dampak Covid-19 Bakal Terasa sampai Puluhan Tahun Mendatang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?