Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Bersikap Adil: Kunci Kemajuan Umat Islam

Ahmad
Terakhir diupdate: 24 Januari 2022 11:23 11:23 am
Ahmad
Dipublikasikan 24 Januari 2022 13:00
Bagikan
Bagikan

Kunci dari kemajuan adalah bersikap adil, sebagaimana diperintahkan dalam banyak ayat al-Quran. Tempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang betul, sesuai dengan harkat dan martabatnya

 

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | SEMUA orang Muslim pasti menginginkan kemajuan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Banyak kajian dan pemikiran telah dipublikasikan terkait dengan kemunduran dan kemajuan umat Islam, baik di Indonesia maupun di berbagai tempat lain.

Ada yang menyebutkan bahwa umat Islam akan maju jika mengikuti peradaban Barat yang rasional dan meninggalkan pemikiran Islam yang dianggap irasional.  Bahkan, sejumlah guru besar di kampus Islam menulis, bahwa umat Islam mundur karena tidak mengikuti pemikiran Ibn Rausyd.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Sebaliknya, Barat maju karena ikut Ibn Rusyd. Ada juga guru besar yang berpendapat, bahwa umat Islam akan maju jika mengikuti pemikiran Mu’tazilah.

Sebuah buku berjudul Epistemologi Islam Skolastik (2007), menyebutkan:   ”Kalau kita mau menelusuri sebab mengapa umat Islam begitu jauh tertinggal dari bangsa Barat, kita akan menyadari karena pola pikir Ibnu Rusyd yang kritis dan rasional itu kalah gaungnya dengan gema konservativitas dan ortodoksi yang dilancarkan Imam al-Ghazali yang berkembang merata ke dunia Islam bahkan menjadi pola pikir yang mendarah daging pada kalangan umat Islam.” (hal. 99).

”Apa yang ditampilkan Ibn Rusyd dan kawan-kawannya disikapi dengan cermat oleh orang-orang Barat, sehingga muncullah aliran Aviroisme sebagai cikal bakal tumbuh berkembangnya Skolastik Latin. Dia menghantarkan budaya ilmiah Barat ke pintu gerbang kemajuan, kreativitas dan langkah-langkah inovatif yang selalu beriringan muncul terus tanpa henti. Akibatnya dunia Barat sebagai penemu kreasi-kreasi baru, tiada hari tanpa penemuan-penemuan baru. Berbeda halnya dengan kondisi di dunia Timur (dalam hal ini khususnya dunia Islam), tidur panjang (tanpa nglilir)  yang mereka lakukan, setelah mereka (barangkali) merasa puas dengan temuan-temuan para tokohnya di masa lampau…” (hal. 164-165).

Kesimpulan bahwa Barat maju karena ikut Ibn Rusyd dan Islam mundur karena ikut al-Ghazali merupakan pemikiran yang kurang cermat. Lebih keliru lagi jika dikembangkan lebih lanjut, bahwa umat Islam akan maju jika mengikuti paham sekularisme dengan meninggalkan pemikiran Islam.

Ibn Rusyd dan Al-Ghazali adalah ilmuwan besar. Kaum Muslim harus meletakkan kedua ilmuwan itu secara adil dan beradab. Ibn Rusyd seorang ilmuwan yang tahu adab.

Meskipun kepakarannya dalam bidang fikih dan ushul fikih sangat luar biasa, tetapi ia meletakkan dirinya sebagai pengikut mazhab Maliki. Kehebatan Al-Ghazali dalam bidang ushul fikih, juga tidak membawanya ke sikap jumawa, tidak tahu diri. Ia meletakkan dirinya sebagai pengikut Mazhab Syafii.

Jadi, kunci dari kemajuan adalah bersikap adil, sebagaimana diperintahkan dalam banyak ayat al-Quran. Tempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang betul, sesuai dengan harkat dan martabatnya. Kita harus mengakui kemajuan yang telah dicapai oleh peradaban Barat, dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam bidang sains, teknologi, juga budaya ilmu, dan berbagai karakter yang baik, seperti semangat kerja keras, menghargai waktu, dan sebagainya.

Tetapi, kita juga harus mencermati berbagai aspek kegagalan peradaban Barat dalam mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia. Penulis buku sejarah peradaban Barat, Marvin Perry, menulis dalam bukunya, bahwa peradaban Barat adalah peradaban besar tetapi juga drama yang tragis. Dia katakan: “Western civilization is a grand but tragic drama.”

Prof. Caroll Quigley dalam bukunya, Tragedy and Hope, juga menulis, juga mengakui kegagalan peradaban Barat dalam bidang pendidikan, khususnya bagaimana mendidik anak-anak mereka untuk menjadi orang tua yang baik. “Some things we clearly do not yet know, including the most important of all, which is how to bring up children to form them into mature, responsible adults…” kata Prof. Quigley, yang juga merupakan ‘mentor’ Presiden Bill Clinton.

Pada umumnya, banyak pesantren di Indonesia selama ini pun telah bersikap adil terhadap Ibn Rusyd dan Imam al-Ghazali.  Mereka mengajarkan kitab-kitab karya kedua ilmuwan besar itu, pada tempatnya yang adil, seperti kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali dan Bidayatul Mujtahid, karya Ibn Rusyd.

Kitab Ihya’ karya Imam al-Ghazali menjelaskan hampir seluruh aspek kehidupan manusia dalam perspektif Islam. Ia menulis begitu banyak topik, seperti masalah ilmu, ibadah, etika sosial, hal-hal yang merusak (al-muhlikat), dan juga yang menyelamatkan (al-munjiyat).

Kitab ini menjadi kajian penting para murid Imam al-Ghazali yang kemudian memiliki pengaruh panting dalam kebangkitan umat Islam dalam perjuangan merebut kembali Jerusalem. Kitab Ihya’ seperti disiapkan Imam al-Ghazali untuk melakukan reformasi intelektual dan moral kaum Muslim, sebagai asas kebangkitan umat Islam.

Disertasi Doktor Muhammad Isa Anshary tentang pendidikan aqidah Wali Songo juga membuktikan, bahwa pemikiran Imam al-Ghazali memiliki pengaruh besar dalam penyebaran dakwah di Tanah Jawa dan Nusantara pada umumnya.

Karena itu, Allah SWT memerintahkan, agar kita menjadi manusia-manusia yang adil. Sebab, bersikap adil itu lebih dekat kepada taqwa. Bahkan, kita dilarang berlaku tidak  adil, meskipun kepada orang yang tidak kita sukai.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebutkan, bahwa hakikat pendidikan adalah penanaman nilai-nilai keadilan dalam diri seseorang (inculcation of justice in man as man and individual self), secara berangsur-angsur, sehingga ia menjadi seorang yang adil. Jadi, sekali lagi, kunci kebangkitan umat Islam adalah pendidikan yang benar!

Pendidikan yang adil adalah yang memahami tujuan dan potensi setiap manusia secara tepat. Allah SWT telah menciptakan manusia dengan potensi yang berbeda-beda. Tetapi, secara umum, manusia adalah sama. Bahwa mereka harus dididik menjadi hamba Allah dan sekaligus sebagai khalifatullah di muka bumi.

Mendidik seorang manusia menjadi insan yang baik bukanlah perkara sepele sehingga bisa dikerjakan secara sambilan. Penanaman nilai-nilai iman dan akhlak mulia memerlukan kerja keras, kesabaran,  dan keikhlasan dari orang tua dan guru. Jangan sampai anak punya pemahaman bahwa ilmu kedokteran hewan lebih penting dan lebih berharga daripada ilmu tentang aqidah Islam, tajwid, dan akhlak mulia. Wallahu A’lam bish-shawab.*/Depok, 21 Januari 2022.

Penulis buku “Wajah Peradaban Barat: dari hegemoni Kristen ke dominasi sekular-liberal” (2005)

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ihya' Ulumuddinkemajuan umatpemikiran baratpemikiran Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya genosida india Pendiri Genocide Watch Gregory Stanton Beri Peringatan Dini Kemungkinan Genosida di India
Tulisan selanjutnya dai standardisasi mui Sudah Luluskan 8000 Peserta, Kemenag Ajak Dai Lulusan Standardisasi MUI Berdakwah di Medsos

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?