Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Pendidikan Ulama Muhammadiyah [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Maret 2015 07:27 7:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Maret 2015 07:23
Bagikan
Santri PKU sedang beraudiensi dengan MUI Pusat
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

PADA 19 Februari 2015, saya bersama Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mendapat undangan untuk menyampaikan presentasi tentang kaderisasi ulama di depan peserta halaqah Pendidikan Ulama tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Yogyakarta. Saya menyampaikan paparan tentang perjalanan Program Kader Ulama (PKU) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Sedangkan Dr. Hamid Zarkasyi memaparkan perjalanan Program Kader Ulama di Pesantren Gontor.

Kesempatan berbagi tentang pendidikan kader ulama sangatlah penting dan bermakna. Sebab, tidak sedikit di kalangan umat Islam yang bertanya-tanya, siapakah yang sebenarnya layak disebut ulama dan bagaimana harus bersikap terhadap para ulama? Tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan semakin langkanya ulama yang memiliki ilmu dan integritas akhlak yang tinggi. Bahkan, di lingkungan Muhammadiyah, suara-suara yang mengkhawatirkan kelangkaan ulama itu pun sering terdengar.

Muhammadiyah didirikan oleh seorang ulama, KH Ahmad Dahlan, tahun 1912. Dalam sejarahnya, Muhammadiyah juga memiliki jajaran ulama-ulama yang tangguh, seperti Ki Bagus Hadikusumo, Buya Malik Ahmad, Buya AR Sutan Mansur, KH AR Fachrudin, Buya Hamka, dan sebagainya. Tentu saja, saat ini, Muhammadiyah juga masih banyak menyimpan ulama-ulama senior dan juga calon-calon ulama muda potensial, yang insyaAllah ke depan akan menjadi ulama-ulama yang tangguh.

Menyadari akan arti penting kedudukan ulama di tengah umat Islam, maka sudah sekitar 15 tahun lalu, Muhammadiyah menyelenggarakan satu program khusus kaderisasi ulama, yaitu Program Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM). Program ini setara dengan pendidikan strata-1, yang dikemas secara khusus dengan sistem pesantren. Pesertanya merupakan utusan dari berbagai daerah yang dipilih secara ketat dan dibebaskan dari segala biaya pendidikan. Diharapkan, lulusan program ini akan menjadi ulama-ulama muda yang mampu mengembangkan dakwah Islam di berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Kita bersyukur, masih banyak di kalangan umat Islam yang peduli dengan Program Kader Ulama semacam ini. Sebab, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sudah berpesan, bahwa ulama adalah pewaris Nabi (al-‘ulama’ waratsatul anbiya’). Kita memahami sabda Nabi itu seperti perintah kepada umat Islam, bahwa di tengah mereka, harus ada senantiasa ulama-ulama dalam jumlah yang cukup. Jadi, keberadaan ulama dalam jumlah yang memadai – sesuai dengan prinsip kifayah – adalah wajib.

Karena misi dan tugas utamanya adalah melanjutkan kepemimpinan para Nabi, yakni menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran, maka ulama harus memenuhi kualifikasi: mampu memimpin perjuangan menegakkan misi kenabian tersebut. Dua kualifikasi unggulan yang wajib dimiliki ulama adalah kualifikasi ilmu dan akhlak. Untuk itu, seorang ulama harus memahami misi kenabian dengan baik; paham ulumuddin dengan baik; paham pemikiran Islam; paham pemikiran-pemikiran kontemporer; dan paham strategi serta taktik perjuangan di zamannya. Sebagaimana para nabi, ulama sepatutnya mendapatkan hikmah dari Allah, sehingga dia bukan hanya paham ilmu-ilmu keislaman dengan baik, tetapi dia juga bisa menerapkannya dengan penuh hikmah.

Maka, kualifikasi akhlak yang wajib dimiliki ulama adalah sikapnya yang hanya takut kepada Allah, tidak hubbud-dunya, apalagi sampai gila jabatan dan gila hormat. Aneh kalau ulama sampai punya ambisi pribadi untuk menjadi pemimpin umat atau organisasi, padahal ia tahu, betapa beratnya pertanggungjawaban dia di akhirat nanti. Memang, al-Quran surat al-Ahzab ayat 72 menggambarkan sifat kebanyakan manusia yang zhalim dan bodoh, terkait dengan kemauan manusia untuk mengemban amanah. Logika sehat kita mengatakan betapa bodohnya manusia yang memaksakan diri mengemban amanah yang sangat berat, padahal, ia tahu ada orang lain yang lebih baik dan lebih mampu memimpin dibandingkan dirinya.

Kita membayangkan, dengan ribuan sekolah dan kampus yang dimilikinya, sungguh berat amanah yang dipikul pimpinan Muhammadiyah. Untuk mengurus satu Program Studi di UIKA dan satu sekolah saja, saya merasakan begitu berat amanah yang saya pikul. Untuk memimpin satu istri dengan tujuh anak pun, bukan amanah ringan bagi saya. Apalagi, di zaman kebebasan informasi seperti saat ini. Bagaimana nanti kita semua bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala? Kita ingat, bagaimana kisah yang sangat mengagumkan dari seorang Imam Abu Hanifah ketika beliau lebih memilih dipenjara dan dicambuk setiap hari daripada menerima jabatan sebagai qadhi negara atau kepala perbendaharaan negara.

Karena itu, ulama sejati, tidak mungkin gila jabatan dan gila kehormatan. Apalagi, sampai gila harta. Sebab, semakin banyak harta, semakin berat pula amanah yang diembannya. Ulama pasti sadar, bahwa semakin banyak nikmat yang diterima seseorang, maka akan semakin berat pula tanggung jawabnya di akhirat. Tsumma latus-alunna yawmaidzin ‘anin-na’im.

Ulama tidak turun dari langit. Ulama juga tidak dilahirkan. Tetapi,  ulama lahir dari sebuah proses pendidikan. Buya Hamka, misalnya, lahir dari sebuah proses pendidikan yang sangat ideal. Ia dididik langsung oleh ulama-ulama hebat di lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Ia diajar dan dididik langsung oleh ayahnya. Ia belajar kepada Haji Agus Salim, Buya Malik Ahmad, dan sebagainya. Hamka juga muncul dan teruji sebagai ulama setelah terjun ke tengah masyarakat. Menurut Hamka, ia sempat dicegah Haji Agus Salim ketika bermaksud tinggal bertahun-tahun untuk belajar di Arab Saudi. Tujuannya agar Hamka langsung terjun ke tengah masyarakat.

Guru-guru yang hebat semacam Haji Agus Salim itulah yang sepatutnya dihadirkan dalam program-program kader ulama kita. Guru harus memiliki ilmu yang memadai dan akhlak yang terpuji supaya bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya. Pendidikan dalam Islam bukan bertujuan utama untuk meraih gelar akademis dan meraih pujian manusia, tetapi untuk meraih ilmu yang bermanfaat yang dapat membawa si empunya ilmu pada kedekatan diri kepada Allah dan meningkatkan semangat berjuang menegakkan kebenaran.*/ (Bersambung)

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Majelis UlamaMuhammadiyahPKUulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya MUI Bogor Desak Pemerintah Segera Larang Ormas Syiah di Indonesia
Tulisan selanjutnya Pendidikan Ulama Muhammadiyah [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?