Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Lensa

Etnis Wakhi: Tak Kenal Perang dan Tak Kenal Taliban

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Oktober 2016 10:40 10:40 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Oktober 2016 10:40
Bagikan
Koridor Wakhan membentang antara Tajikistan dan Pakistan: dulunya rute perdagangan kuno yang dikenal sebagai Jalur Sutera
Bagikan

Hidayatullah.com—Afganistan adalah wilayah di Asia Selatan yang umumya sudah tak asing dengan perang. Namun berbeda pula dengan etnis Wakhi yang tinggal di Koridor Wakhan atau Lembah Wakhan terletak antara Tajikistan dan Pakistan karena mereka bukan saja tidak tahu perang, bahkan tidak kenal dengan Taliban.

Etnis Wakhi nyaman hidup sederhana tanpa modernisasi. Mereka tidak tahu tentang Taliban atau bahwa AS telah menggulingkan mereka.

Koridor Wakhan membentang antara Tajikistan dan Pakistan dan menjadi batas yang memisahkan kedua negara tersebut. Koridor Wakhan dulunya menjadi bagian dari rute perdagangan kuno yang dikenal sebagai Jalur Sutera. Inggris dan Rusia menggambarkan Koridor Wakhan pada peta akhir abad ke-19 untuk menjadi zona penyangga antara India (saat dijajah Inggris) di selatan dan Turkistan (saat itu jajahan Rusia) di utara.

Lembah Wakhan dihuni lebih 12.000 etnis Wakhi yang juga langsung tidak tahu tentang invasi oleh koalisi pimpinan Amerika Serikat di Afghanistan.

Suku Wakhi1
Suku Wakhi di Lembah Wakhan sedang di depan kompor penghangat [Eric Lafforgue]
Daily Mail melaporkan, penduduk Wakhi bukan saja tidak berhubungan dengan dunia luar sehingga tidak banyak yang mengetahui keberadaan mereka, bahkan lebih nyaman hidup dengan cara primitif tanpa modernisasi.

Baca Juga

[Berita Foto] Lesunya Pasar Tradisional, Dorong UMKM Optimalkan Penjualan Online melalui Shopee
[Foto] Selalu Terdepan Wujudkan Rumah Impian
Melihat dari Dekat Pembangkit Listrik Biogas Gamping
Layanan TIKI Jangkau hingga Pelosok Negeri
Pengusaha Reptil Sukses Bersama TIKI

Mereka hidup dengan cara sederhana. Beternak dan memerah susu. Seorang fotografer warga Prancis Eric Lafforgue, belum lama berkesempatan menjelajah Lembah Wakhan dan mengabadikan foto-foto yang menakjubkan.

Ia mengatakan sangat senang dan heran bagaimana etnis itu hidup dalam kondisi normal meskipun Afghanistan sedang berperang.
Menurutnya, penduduk di situ terasing dari dunia luar sejak lebih dari 2.000 tahun dan mereka tidak pernah keluar dari daerah pegunungan tersebut.

Koridor Wakhan selama dianggap sebagai daerah paling aman di Afghanistan. Selain itu, pegunungan di Afghanistan dikenal sebagai surga bagi para pendaki sebelum Uni Sovyet melakukan invasi tahun 1979, sebelum datangnya invasi Amerika.

“Bayangkan mereka tidak tahu negara mereka sedang berperang. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Ekonomi utama mereka adalah pariwisata. Rata-rata mereka menjual barang perhiasan kepada wisatawan.

“Anak-anak yang tinggal di sini juga tidak banyak pengetahuan tentang dunia luar, mereka tidak tahu tentang pemain sepak bola seperti Lionel Messi atau Ronaldo,” katanya dikutip laman Dailymail.

Lafforgue turut merekam gambar-gambar menarik tentang kehidupan etnis tersebut yang mendapat berbagai reaksi positif tentang keberadaan Lembah Wakhi.

Suku Wakhi2
Keluarga Afghanistan dalam Rumah Tradisional Pamiri dan potret gadis Afghanistan dibungkus jilbab merah

“Pertama saya bepergian ke Khandud, yang terkenal untuk pakaian berwarna-warni perempuannya. Dengan bantuan dari Aga Khan Foundation, perempuan bahkan membuka toko untuk menjual souvenir bagi wisatawan. Kaus kaki, rompi dan sulaman, “ ujar Lafforgue.

Daya tarik wisata utama adalah Rumah Pamiri, yang dikenal sebagai ‘Chid’. Mereka dibangun dari batu dan plester, dan masing-masing mempertahankan fitur tertentu melambangkan aspek spiritual dan tradisional.

Menindaklanjuti itu, pemerintah Afghanistan berencana untuk membuat Koridor Wakhan sebagai pusat pariwisata terutama dari Barat yang menggemari kegiatan penggembaraan.

Untuk mengunjungi desa-desa Suku Wakhi, seseorang harus melalui area kontrol perbatasan sebelum mengemudi di jalan lama yang telah dibangun lebih setengah abad.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfganistanEric LafforgueEtnis Wakhiinvasi Amerika Serikat di AfghanistanJalur SuteraKoridor WakhanLembah WakhanperangTaliban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pandu Festival: Siapkan Generasi untuk Kebangkitan Islam
Tulisan selanjutnya Negara Barat Desak ICC Selidiki Kejahatan Rusia di Suriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaLensa

[Foto] Cepat dan Hemat Pakai Kuota Edukasi Indosat

6 November 2023 18:24
BeritaLensa

Semangat Guru Tunanetra Mengajar

31 Oktober 2023 17:47
BeritaLensa

Program Dekarbonisasi PTBA Tanjung Enim

20 Oktober 2023 20:49
BeritaLensa

Museum Batu Bara, Nilai Tambah untuk Indonesia

20 Oktober 2023 12:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?