Hidayatullah.com–Wakil Perdana Menteri Malaysia Dr Wan Azizah Wan Ismail mengungkapkan rasa kesal terhadap pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi karena menolak menghentikan kekejaman tentara negaranya terhadap etnis minoritas Rohingya.
Dr Wan Azizah mengatakan reputasi Suu Kyi sebagai Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tergores setelah dia menolak untuk memaksa pasukan Myanmar mengakhiri kampanye kekerasan yang telah berlangsung lama.
“Kami dulu berbagi demokrasi di Myanmar.
“Saya sedih bahwa Aung San Suu Kyi hanya berbuat sedikit. Kami berharap dia akan campur tangan, ”katanya kepada Bernama dan RTM setelah pertemuan Kamis dengan Federica Maria Mogherini, Perwakilan Tinggi Uni Eropa (UE) untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, di sela-sela Pertemuan Asia-Eropa ke-12 (ASEM).
Baca: Malaysia Ingin Beri Penampungan Lebih Banyak Bagi Muslim Rohingya
Dr Wan Azizah mengatakan selama pertemuan bilateral dengan perwakilan Uni Eropa di luar pertemuan KTT Asia-Eropa Ke-12 (ASEM) itu, Federica Maria membangkitkan masalah pengungsi Rohingya karena Malaysia adalah antara tetangga Myanmar yang mendapat limpahan pengungsi yang diusir.
“Dia (Federica Maria) sendiri mengunjungi kamp pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh, dan menginginkan cara terbaik untuk mengatasi masalah ini karena banyak orang menanggung beban kemanusiaan ini.
“Saya memberitahu kita (Malaysia) telah mengambil banyak pengungsi Rohingya ini dan berupaya menolong. Kita juga ingin etnis Rohingya berada di Myanmar itu sendiri sebagai pemerintah antara junta dan sipil,” kata Dr Wan Azizah.
Baca: Parlemen Kanada Cabut Gelar Warga Kehormatan Aung San Suu Kyi
Laporan PBB terbaru menyatakan bahwa pasukan militer Myanmar perlu diselidiki atas tuduhan genosida di Rohingya, tetapi negara itu telah menolak laporan dengan alasan “bias”.
Suu Kyi, yang pernah dianggap sebagai aktivis HAM, sekarang menghadapi tekanan internasional karena membiarkan kekejaman negaranya.
Wan Azizah tiba di Brussels hari Rabu, 17 Oktober 2018 untuk memimpin delegasi Malaysia dalam konferensi ASEM yang dimulai hari Kamis, 18 Oktober 2018.
KTT ASEM selama dua hari menyatukan kepala negara atau pemerintah dari 51 negara Eropa dan Asia, perwakilan Uni Eropa dan Sekretaris Jenderal ASEAN.*