Hidayatullah.com– Sebanyak 404 warga Suku Anak Dalam (SAD) direncanakan masuk Islam di Kota Jambi, Provinsi Jambi, Senin (30/01/2017). Namun, pada hari H, ternyata hanya 181 orang yang bisa bersyahadat di Kota Jambi. Penyebabnya dikabarkan karena mereka mendapatkan ancaman dari pihak-pihak tertentu.
Menurut Wali Kota Jambi, Syarif Fasha, awalnya yang ingin ikut bersyahadat memang sebanyak 404 orang, terdiri dari anak-anak, dewasa, dan orang tua.
Namun, ungkapnya, karena ada kelompok tertentu yang mengiming-imingi uang Rp 2,5 juta per orang bagi yang tidak ikut ke Kota Jambi, akhirnya hanya 181 orang yang ke Kota Jambi dan memeluk Islam.
Ratusan Warga Suku Anak Dalam Jambi Masuk Islam atas Kesadaran Sendiri
“Ada kelompok-kelompok yang tidak menginginkan SAD memeluk Islam. Sebagai imbalannya tidak ke Kota Jambi akan diberikan Rp 2,5 juta per orang,” beber Wali Kota Fasha kutip media setempat, Jambiindependent.com.
Ia menyampaikan itu saat memberikan sambutan pada acara prosesi pengucapan syahadat di Kantor Lembaga Adat Melayu Kota Jambi, Senin (30/01/2017) pagi.
Dikabarkan Diancam Dipisah dari Keluarga
Selain itu, kalau ada warga SAD yang ke Kota Jambi, dikabarkan diancam akan dipisahkan dari sanak saudaranya.
Fasha pun berharap kepada kepala desa agar bisa menyampaikan kepada warga SAD yang ingin bergabung masuk Islam akan tetap difasilitasi.
Belum diketahui siapa pihak-pihak yang dikabarkan melakukan ancaman tersebut.
Diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, ratusan warga Suku Anak Dalam mendapatkan hidayah dengan memeluk Islam.
Proses mereka berpindah keyakinan itu difasilitasi oleh Yayasan Agrapana Bhumi Indonesia (YABI) bekerja sama dengan FPI, MUI, serta Pemerintah Kota Jambi.
404 warga Suku Anak Dalam tersebut dari garis keturunan Temanggung Mukomuko. Mereka berjumlah kurang lebih 500 KK atau sekitar 3 ribuan jiwa.
“Yang menyatakan akan memeluk Islam itu yang sudah tinggal menetap (tidak berpindah. Red), yaitu sebanyak 82 KK (kepala keluarga), terdiri dari 32 KK di Desa Kotoboyo, dan sebanyak 50 KK lagi di Desa Padang Kelapo,” terang pembina YABI, M Azrullah.*