Hidayatullah.com–Tahun ini Libya menghadapi bulan suci Ramadhan yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan suasana Ramadhan seperti tahun ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Libya menghadapi Ramadhan di tengah panasnya konflik yang belum tentu akan berakhir dengan segera.
Situasi konflik seperti ini tentu saja berdampak pada siklus ekonomi Libya. Salah satu bentuknya adalah pasar menderita kekurangan bahan makanan.
Kedua kelompok, baik pendukung Kolonel Muammar Qadhafi ataupun pemberontak, bertekad untuk melanjutkan pertempuran yang mereka sebut dengan jihad selama bulan suci Ramadhan. Begitu juga dengan pasukan sekutu NATO, tetap bertekad akan menjatuhkan Qadhafi.
Dengan situasi seperti ini, Libya akan menghadapi Ramadhan tidak seperti biasanya.
Sementara itu, beberapa kilometer dari kota Zliten yang berada di bawah kendali pendukung Qadhafi, penduduk di sana bersikap skeptis terhadap masa depan negara mereka, terutama di bawah pasukan NATO.
Kehadiran pasukan NATO hanya memperburuk keadaan penduduk Libya. Banyak kerusakan yang disebabkan oleh serangan NATO.
Para wartawan menggambarkan, banyak karung tepung, beras dan kebutuhan pokok lainnya yang sudah menjadi abu akibat serangan NATO. Padahal kebutuhan pokok itu sudah disiapkan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Salah seorang penduduk Libya, Muhammad Miftah meluapkan kemarahannya terhadap pasukan NATO, “Kami akan menggunakan makanan ini untuk bulan Ramadhan, dan sekarang telah hancur… Mereka menginginkan kami kelaparan.”
Namun meski demikian, penduduk Libya tetap mencoba untuk tidak terpengaruh dengan perang yang tengah melanda mereka. Mereka tetap akan fokus menjalankan kewajiban dan beribadah di bulan suci Ramadhan.*