Oleh: Zahratun Nahdhah*
PPP akhirnya merapat ke Gerindra secara resmi,
persis seperti yang sudah diprediksi.
Tak tahu apakah harus berucap alhamdulillah atau innaalillaahi.
Entah apakah ini anugerah atau musibah dari Ilahi,
kabar gembira ataukah mimpi buruk di siang hari?
Partai-partai Islam yang diharapkan bisa berkoalisi,
satu per satu melepaskan diri.
Koalisi partai Islam semakin jauh panggang dari api.
Partai-partai yang lain pun tiga uang setali.
PKB konon mulai merapat ke si Banteng Merah yang mengusung Jokowi.
Partai yang satunya lagi, isunya sih, bakal mendekat ke kubu Aburizal Bakrie.
Ah, semestinya sudah dari awal kita pahami gelagat ini.
Sangat terang benderang bahkan di saat Pemilu belum lagi dimulai.
Partai Islam nyaris mustahil dipersatukan dalam sebuah koalisi.
Tersebab masing-masing punya persepsi, tujuan dan kepentingan sendiri-sendiri.
Saling berebut posisi dan dominasi.
Saling berebut menjadi capres atau cawapres ataupun sekadar bagi-bagi jatah menteri.
Lobi-lobi dan deal-deal politik tingkat tinggi digeber setiap hari,
baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Para politikus mendadak hobi blusukan ke sana kemari,
tak kenal waktu bersafari,
menggalang dukungan dari sana sini;
‘Peduli amat dengan kepentingan umat, yang penting kepentingan pribadi,
dan partai terpenuhi.’
Idealisme ternomorsekiankan oleh ambisi dan tendensi.
Harapan agar partai Islam bersatu sepertinya hanya mimpi.
Inilah kawan, realita yang mesti kita hadapi.
Seperti benang kusut yang tak bisa diuraikan lagi,
inilah dampak buruk demokrasi yang tak bisa kita hindari,
setidaknya hingga saat ini.
Golput pun sepertinya bukan solusi.
Ah, ibarat buah simalakama, dimakan ayah mati tak dimakan ibu mati.
Benar-benar kita dibuat bingung setengah mati.
Sudahlah, kini bukan saatnya merutuki diri,
apalagi menyesali yang sudah terjadi.
Ambil ibrah-nya saja untuk jadi pelajaran di kemudian hari.
Jadikan pengalaman ini sebagai ajang instropeksi.
Mengapa untuk bersatu saja susah sekali?
Apakah menunggu situasi negeri ini semakin tak terkendali?
Apakah menunggu situasi seperti di Mesir atau Suriah terulang di Bumi Pertiwi?
Ah… Emboh-lah, aku tak mengerti.
Sebab aku hanya anak Gunung Tembak aseli yang tak paham urusan para petinggi negeri.
Sebab sekarang lagi ngetren di kalangan para politisi.
Yang tengah sibuk mencari peran dan posisi,
di panggung sandiwara perpolitikan negeri ini.
Demi satu kursi di Senayan ataupun jatah menteri di kabinet nanti
(kalau terpilih, kalau tidak ya terpaksa gigit jari).
Saling serang dengan saling berbalas sajak ataupun puisi.
Dengan kalimat-kalimat sarat sarkasme dan ironi.
Isinya dan intinya mengangkat partai sendiri,
dan menjatuhkan partai yang satunya lagi.
Ah, ah, ah, sayang sekali, sajak dan puisi yang harusnya indah untuk dinikmati.
Kini hanya menjadi sarana perang opini dan persepsi.
Seperti juga barangkali, sajakku kali ini.
Ini namanya lempar batu kena muka sendiri…*
*Ibu Rumah Tangga kelahiran Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur
Ditulis di Depok, Jawa Barat, Sabtu, 19 Jumadil Akhir 1435 (19/4/2014)