Bismillahirrahmannirrahim
Aku haturkan terima kasih kepada bapak atas sikap bapak yang beberapa hari ini membuat mataku demikian terbuka. Sikap seorang ksatria yang nyatanya tegas membela bathil tinimbang haq di depan mata.
Juga kepada segerombolan orang yang konon katanya ada di bawah asuhan dirimu selama ini. Maaf, aku tak bermaksud ingin mengkritik apa yang menjadi tindakanmu selama ini. Tapi aku hanya ingin memberikan pandangan tentang ulama dan mereka para pembela kalimat-Nya yang diserang oleh balok-balok tak bertanggung jawab suruhanmu.
Bapak Kapolda Jawa Barat yang aku hormati
Dari lubuk yang terdalam aku merasakan miris dan juga sedih atas tindakanmu. Tindakan yang tiba-tiba saja menguarkan bau tidak sedap dalam perjalanan kita sebagai warga negara di bumi Nusantara ini.
Ketika ribuan orang datang untuk mengawal aksi sederhana terhadap seorang ulama yang konon dituduhkan ini itu oleh penguasa atau dengan kata lain di-kriminalisasi.
Dadaku sesak menyaksikan itu semua. Apalagi kudengar dalam beberapa berita tentang dirimu yang semakin nampak arah pembelaanmu kemana. Tolong pak, jangan pernah menjadi lain di sepanjang perjalanan bangsa ini. Seharusnya bapak kemarin membela ulama bukan membela pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa ini. Seharusnya bapak bisa bertindak layaknya Shalahuddin Al-Ayyubi yang pemberani, Amirul Mukminin Umar bin Khattab yang tegas atau Khalid bin Walid yang kukuh di medan laga. Namun, tak kusaksikan itu semua ada dalam dirimu. Entah mengapa kecewa demikian berat membebani punggung ini ketika setiap kesaksian justru menjadikan dirimu seolah lain dari apa yang kututurkan ini.
Bapak Kapolda Jawa Barat yang aku hormati
Maaf bila pada akhirnya aku harus mengatakan semua ini. Maaf bilamana tuturan ini membuat dadamu sesak bahkan tak habis pikir mengapa masih ada orang yang bertahan bersama barisan ulama. Sebab, dari buku yang kudaras, kupelajari dan kubaca ada peran yang begitu besar dari para ulama juga santrinya dalam memperjuangkan marwah bangsa ini saat tiran dengan aneka bentuk penjajahannya merongrong negeri dari berbagai bidang.
Tentu, tak perlu kita hitung berapa lama mereka membela bangsa ini. Toh, bukti di depan mata sudah nyata-nyata menunjukkan demikian. Tengok saja hikayat Perang Aceh yang mengabarkan ribuan ulama juga santrinya berada di barisan terdepan untuk menjaga marwah tanah Aceh juga Islam dari tangan bengis kafir penjajah. Atau tengok pula hikayat agung Perang Jawa yang dilakoni seorang penguasa shalih bernama Pangeran Diponegoro dimana di barisan utama sang pangeran berdiri tegak para ulama juga santri-santri mumpuni yang siap berjuang mempertaruhkan segalanya demi tegaknya izzul Islam wal muslimin.
Dan ini membuktikan bahwa perjuangan meraih merdeka dari bangsa ini justru terabadikan dalam pekikan takbir yang selama ini pernah bapak atau aku salah tafsirkan maksudnya. Tidak dengan yang lain.
Bapak Kapolda Jawa Barat yang aku hormati
Maafkan kelancangan isi surat ini. Maafkan kata-katanya yang mungkin terdengar kasar di telingamu. Tapi semua ini mau tidak mau mesti aku sampaikan. Akhir-akhir ini nama bapak demikian sering diperbincangkan. Entah karena apa. Tapi, semenjak hikayat perkawanan bapak dengan mereka. Aku mendadak resah.
Ketika balok-balok kayu itu dengan demikian lancang ikut serta melawan ulama, habaib, juga para santrinya. Ketika lidah itu bersilat demikian apik. Aku mendadak khawatir dengan masa depan negeri ini. Benarkah bapak berdiri tegak di belakang mereka. Benarkah bapak ingin melawan para ulama yang dulu berdiri paling depan membela marwah dan martabat negeri ini di masa silam.
Apakah bapak tidak ingat tentang hikayat Pangeran Diponegoro yang dicap sebagai radikalis hanya karena di belakangnya ratusan ulama dan ribuan santri sama-sama membela jihadnya. Apakah bapak tidak ingat bagaimana Yai Zaenal Mustofa juga ribuan santrinya berada di barisan terdepan membela marwah dan kemuliaan Islam dari tangan tiran penjajah Jepang. Pak, sebelum semua ini menjadi petaka bagi bangsa. Tolong hentikan perkawanan itu dengan gagah berani seperti para ulama kami yang tetap berdiri tegak dengan gagah berani menjaga marwah juga kehormatan bangsa tanpa ada jeda. Tolong pak, tak ada yang bisa menghentikan semua itu kecuali bapak sendiri yang menghentikan atau bapak lekas mundur dari jabatan bapak.
Bapak Kapolda Jawa Barat yang aku hormati
Semoga dengan kedatangan surat ini bisa membuka mata hati bapak. Menjadikan diri bapak lebih baik lagi dan tidak berada dalam lingkaran-lingkaran kepentingan untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Semoga kedatangan surat ini tidak membuat siapapun tersakiti. Sebab, pada satu waktu aku dan bapak pernah merindukan negeri ini menjadi negeri yang aman, damai, adil juga sejahtera sebagaimana doa kita bersama agar kelak negeri ini menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Aldy Istanzia Wiguna |pengajar bahasa Indonesia di Pesantren Persis 20 Ciparay