Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Direktur Baru CIA: Intel Berdarah Dingin?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Maret 2018 21:24 9:24 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Maret 2018 21:20
Bagikan
Kantor CIA.
Bagikan

SETIAP egara pasti memiliki ‘mata dan telinga’ untuk melihat dan mendengarkan segala sesuatu yang tersembunyi, dimana suatu negara senantiasa berusaha mencari tahu mengenai keberadaan posisi dan kondisi negara lain atau pihak-pihak yang memiliki potensi mengancam kepentingan nasionalnya. Peranan badan intelijen menjadi hal yang pasti keberadaanya untuk mengawal kepentinagan nasional. Tak terkeculi AS sebagai negara adikuasa.

Dunia dan Amerika dikejutkan dengan keputusan Donald Trump menunjuk Gina Haspel sebagai direktur baru CIA menggantikan Mike Pompeo yang saat ini menduduki jabatan sebagai menteri luar negeri. Hal ini menimbulkan reakasi di kalangan senator AS.

“Ini akan membuka luka lama lebih dari satu dekade yang lalu, dan juga akan mengakibatkan lebih banyak pengawasan terhadap analisis dan aktivitas kami, terutama jika Gina diterima (Senat),” ujar seorang pejabat AS yang tak menyebut namanya seperti dilansair Reuters, Selasa (13/3/2018), seperti dilansir detik.com.

Nama Gina Haspel bukanlah nama baru di kalangan intelijen. Ia pernah menjabat sebagai direktur CIA pada tahun 1985. Haspel pernah menduduki jabatan strategis di penjara CIA di Thailand. Dia diduga sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penyiksaan terhadap dua anggota Al Qaeda Alex Abd al-Rahim al-Nashiri dan Abu Zubaydah.(detik.com). 

Sepak terjang CIA pun kerapkali menimbukan keresahan. Sebut saja penangkapan salahseorang warga Jerman, Khaled Al Masri. Pada tahun 2003 iaditangkap oleh CIA lalu disiksa dengan keji. Konyolnya, CIA salah tangkap, lalu warga Jerman tersebut dilepaskan tanpa dimintai maaf ataupun ganti rugi. Di Indonesia, CIA diduga kuat terlibat atas upaya penggulingan rezim Sukarno yang kala itu dekat dengan orang-orang komunis. Sampai detik ini, penggulingan Sukarno dan gerakan 30 S PKI masih menjadi misteri siapa dalang sebenarnya.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Aktifitas CIA dalam agenda War On Terorism (WOT) yang digagas AS pun memiliki peran penting. Pasca  tragedi WTC, Amerika semakin gencar memerangi terorisme di setiap negara. Gelontoran dana pun mengalir kepada CIA untuk mendapatkan informasi dan berita terkait terorisme, jaringan serta para pelakunya. Indonesia pun tak lepas dari kebijakan global ini.

Produk turunan dari pemberantasan terorisme di Indonesia adalah dibentuknya Detasemen Khusus Anti Teror  88 (Densus 88) dan produk hukum berupa UU Anti Terorisme. Penangkapan Umar Al Faruq sebagai salah satu tokoh teroris di Asi Tenggara oleh BIN diterangai ada peran CIA di dalamnya. Dikutip dari tirto.id, Umar Al Faruq kemudian diterbangkan oleh CIA ke AS. BIN diduga menaruh agen mereka dalam tubuh Mujahidin Indonesia. Penyerahan Faruq pun menjadi tanda tanya, apalagi orang yang disebut tangan kanan Osama Bin Laden itu diketahui juga melakukan serangkaian aksi terorisme di Indonesia.

Dengan menjadikan Haspel sebagai direktur CIA, sangat memungkinkan agenda WOT AS semakin gencar dilakukan terhadap kelompok milisi Islam yang mereka anggap sebagai sumber terorisme. Wanita ini gemar melakukan penyiksaan terhadap tersangka teror dalam proses interogasi di bawah kepemimpinannya. Sejumlah intel CIA bahkan menggambarkan dia sebagai intel berdarah dingin. Haspel juga diduga kuat dalam pembentukan penjara rahasia bernama “Cat’s Eye” yang banyak menyiksa tahanan tanpa peduli dengan hak asasi mereka sebagai manusia, termasuk penjara Abu Ghraib yang terkenal di Iraq. Riwayat hitam Haspel dalam perkara terorisme menjadikan kalangan senator AS menilai bahwa Haspel tak layak menjadi Direktur CIA.

Proyek WOT yang dijalankan AS saat ini jelas mengarah kepada perlawanan terhadap Islam. Mereka identikkan teroris adalah kaum radikalis Islam atau kelompk jihadis.  Kelompok yang mereka labeli radikal adalah kelompok Islam yang menginginkan tegaknya syariat Islam dan negara Islam.

Dengan melihat sepak terjang Haspel dalam lembaga intelijen rahasia AS sangat mungkin agenda spionase di negeri-negeri muslim aktif dilakukan atas nama memerangi dan mencegah bahaya terorisme di negeri tersebut. Sasaran mereka tidak lain adalah Islam. Melihat berbagai kebijakan Trump yang kontroversial dan nyata memerangi Islam, ditambah mereka mengangkat seorang yang loyal dalam memerangi  terorisme (baca: Islam), Barat utamanya AS akan senantiasa menciptakan propaganda negatif  untuk menghambat laju kebangkitan umat Islam yang sudah diprediksi oleh AS dan lembaga intelijennya.* 

Chusnatul Jannah | Lingkar Studi Perempuan Peradaban  (LSPP)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:CIADonald TrumpGina Haspelkomunismatatelinga
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pangeran Mahkota Saudi Sebut Khamenei Mirip Hitler
Tulisan selanjutnya Jazuli Minta PBB-UNHCR Lebih Serius Hentikan Konflik Kekerasan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ratusan Ribu Orang Padati Teheran, Hadiri Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

Berita
6 Juli 2026 11:20
Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT
PUI Dukung Perpres 111/2025 Soal LGBT, Ketahanan Keluarga Penting bagi Pertahanan Nasional
PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah

Terbaru

  • MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan
  • BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal
  • Hampir 6.000 Awak Kapal Masih Tertahan di Teluk Arab
  • Kisah Yono, Tangan Kanan Ustadz Adi Hidayat yang Ogah Jadi Komisaris
  • Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM
  • Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien
  • TikTok Laporkan Penonaktifan 1,7 Juta Akun Anak ke Komdigi
  • Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
  • Amerika Serikat Kembali Serang Iran, Berdalih Bela Warga Sipil
  • ‘Israel’ Gunakan Kesepakatan Gas dan Air untuk Menekan Yordania

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?