SETIAP egara pasti memiliki ‘mata dan telinga’ untuk melihat dan mendengarkan segala sesuatu yang tersembunyi, dimana suatu negara senantiasa berusaha mencari tahu mengenai keberadaan posisi dan kondisi negara lain atau pihak-pihak yang memiliki potensi mengancam kepentingan nasionalnya. Peranan badan intelijen menjadi hal yang pasti keberadaanya untuk mengawal kepentinagan nasional. Tak terkeculi AS sebagai negara adikuasa.
Dunia dan Amerika dikejutkan dengan keputusan Donald Trump menunjuk Gina Haspel sebagai direktur baru CIA menggantikan Mike Pompeo yang saat ini menduduki jabatan sebagai menteri luar negeri. Hal ini menimbulkan reakasi di kalangan senator AS.
“Ini akan membuka luka lama lebih dari satu dekade yang lalu, dan juga akan mengakibatkan lebih banyak pengawasan terhadap analisis dan aktivitas kami, terutama jika Gina diterima (Senat),” ujar seorang pejabat AS yang tak menyebut namanya seperti dilansair Reuters, Selasa (13/3/2018), seperti dilansir detik.com.
Nama Gina Haspel bukanlah nama baru di kalangan intelijen. Ia pernah menjabat sebagai direktur CIA pada tahun 1985. Haspel pernah menduduki jabatan strategis di penjara CIA di Thailand. Dia diduga sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penyiksaan terhadap dua anggota Al Qaeda Alex Abd al-Rahim al-Nashiri dan Abu Zubaydah.(detik.com).
Sepak terjang CIA pun kerapkali menimbukan keresahan. Sebut saja penangkapan salahseorang warga Jerman, Khaled Al Masri. Pada tahun 2003 iaditangkap oleh CIA lalu disiksa dengan keji. Konyolnya, CIA salah tangkap, lalu warga Jerman tersebut dilepaskan tanpa dimintai maaf ataupun ganti rugi. Di Indonesia, CIA diduga kuat terlibat atas upaya penggulingan rezim Sukarno yang kala itu dekat dengan orang-orang komunis. Sampai detik ini, penggulingan Sukarno dan gerakan 30 S PKI masih menjadi misteri siapa dalang sebenarnya.
Aktifitas CIA dalam agenda War On Terorism (WOT) yang digagas AS pun memiliki peran penting. Pasca tragedi WTC, Amerika semakin gencar memerangi terorisme di setiap negara. Gelontoran dana pun mengalir kepada CIA untuk mendapatkan informasi dan berita terkait terorisme, jaringan serta para pelakunya. Indonesia pun tak lepas dari kebijakan global ini.
Produk turunan dari pemberantasan terorisme di Indonesia adalah dibentuknya Detasemen Khusus Anti Teror 88 (Densus 88) dan produk hukum berupa UU Anti Terorisme. Penangkapan Umar Al Faruq sebagai salah satu tokoh teroris di Asi Tenggara oleh BIN diterangai ada peran CIA di dalamnya. Dikutip dari tirto.id, Umar Al Faruq kemudian diterbangkan oleh CIA ke AS. BIN diduga menaruh agen mereka dalam tubuh Mujahidin Indonesia. Penyerahan Faruq pun menjadi tanda tanya, apalagi orang yang disebut tangan kanan Osama Bin Laden itu diketahui juga melakukan serangkaian aksi terorisme di Indonesia.
Dengan menjadikan Haspel sebagai direktur CIA, sangat memungkinkan agenda WOT AS semakin gencar dilakukan terhadap kelompok milisi Islam yang mereka anggap sebagai sumber terorisme. Wanita ini gemar melakukan penyiksaan terhadap tersangka teror dalam proses interogasi di bawah kepemimpinannya. Sejumlah intel CIA bahkan menggambarkan dia sebagai intel berdarah dingin. Haspel juga diduga kuat dalam pembentukan penjara rahasia bernama “Cat’s Eye” yang banyak menyiksa tahanan tanpa peduli dengan hak asasi mereka sebagai manusia, termasuk penjara Abu Ghraib yang terkenal di Iraq. Riwayat hitam Haspel dalam perkara terorisme menjadikan kalangan senator AS menilai bahwa Haspel tak layak menjadi Direktur CIA.
Proyek WOT yang dijalankan AS saat ini jelas mengarah kepada perlawanan terhadap Islam. Mereka identikkan teroris adalah kaum radikalis Islam atau kelompk jihadis. Kelompok yang mereka labeli radikal adalah kelompok Islam yang menginginkan tegaknya syariat Islam dan negara Islam.
Dengan melihat sepak terjang Haspel dalam lembaga intelijen rahasia AS sangat mungkin agenda spionase di negeri-negeri muslim aktif dilakukan atas nama memerangi dan mencegah bahaya terorisme di negeri tersebut. Sasaran mereka tidak lain adalah Islam. Melihat berbagai kebijakan Trump yang kontroversial dan nyata memerangi Islam, ditambah mereka mengangkat seorang yang loyal dalam memerangi terorisme (baca: Islam), Barat utamanya AS akan senantiasa menciptakan propaganda negatif untuk menghambat laju kebangkitan umat Islam yang sudah diprediksi oleh AS dan lembaga intelijennya.*
Chusnatul Jannah | Lingkar Studi Perempuan Peradaban (LSPP)