Hidayatullah.com–Setelah lama ditunda, akhirnya Bandara Internasional Lombok (BIL) resmi beroperasi pada hari Sabtu, 1 Oktober 2011.
Proses pemindahannya tergolong agak dipaksakan karena masih ada beberapa infrastruktur yang belum jadi seperti jalan by pass yang dibuka mulai dari Gerung Lombok Barat sampai airport masih ada yang belum jadi, lantai 3 (tiga) Bandara yang masih dalam tahap pembangunan.
Namun hal tersebut tidak mengurungkan niat Pemerintah untuk menunda kembali pengoperasionalan salah satu bandara Internasional di Kawasan Timur Indonesia (KTI) ini.
Hari Sabtu, (01/10/2011), Gubernur NTB, DR.TGH.M.Zainul Majdi,MA bersama Bupati Lombok Tengah langsung memantau operasional BIL hari pertama.
Masyarakat diperbolehkan masuk areal bandara sehingga terkesan areal tersebut seperti tempat tujuan wisata disertai pedagang asongan yang hilir mudik.
Dalam proses pembangunan BIL banyak menggunakan tenaga lokal, ini atas inisiatif dari mantan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla. Dimasa beliau menjadi Wapres, dapat dikatakan, pembangunan di Indonesia Timur termasuk BIL menjadi prioritas pemerintah kala itu.
Pemindahan berbagai peralatan kebandaraan dilakukan pada malam hari, diiringi musik Gendang Belek, sebuah musik tradisional Lombok serta kembang api yang dibunyikan dari Bandara lama di Kota Mataram sampai ke BIL.
“Sekarang kita punya bandara internasional, mudahan Bali kita bisa kalahkan” ujar Abdullah seorang warga kepada hidayatullah.com. Namun lain lagi pendapatnya dengan A.Rahman. Menurut pria asal Lombok ini tak ada manfaatnya citra internasional jika tak membawa kesejahteraan masyarakat setempat.
“Percuma ada Bandara Internasional jika tidak bisa menambah kesejahteraan masyarakat Lombok, ini saja sudah berapa ribu hektar sawah yang dikorbankan untuk pengadaan BIL dan jalan penghubungnya.”
Seperti diketahui, perbedaan pendapat dikalangan masyarakat Lombok kaitan dengan keberadaab BIL sudah berlangsung sejak adanya pembebasan lahan yang memakan korban jiwa.
Lokasi BIL yang berada diwilayah yang rentan terjadinya tawuran antar kampung menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Lombok, termasuk jalur by pass yang rentan terjadi perampokan.*/zul
Ket: salah satu sudut BIL dihari pertama operasi