Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Dari Kamp ke Penjara: Bencana HAM Xinjiang Berikutnya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 November 2019 14:53 2:53 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 November 2019 14:53
Bagikan
Bagikan

Oleh: Gene Bunin

HANYA sekitar satu dekade lalu, fasilitas di 1327 Dongzhan Road, beberapa kilometer di utara stasiun kargo yang terlantar di pinggiran utara Urumqi Xinjiang, sebagian besar ditumbuhi pepohonan dan rumput.

Pada 16 September 2019, tempat ini secara resmi menjadi lokasi baru untuk Penjara Perempuan Xinjiang, sebuah langkah yang terjadi setelah kerusuhan 5 Juli yang terkenal, dan tidak lama kemudian fasilitas itu menerima apa yang menjadi tahanan kelas atas pertamanya – penulis, moderator situs web, dan pegawai pemerintah Gulmire Imin, dijatuhi hukuman seumur hidup dalam sebuah persidangan tertutup.

Meskipun perhatian internasional terus berlanjut, Imin tidak melihat konsesi di tahun-tahun berikutnya, tetapi sebaliknya telah bergabung dengan wanita lain yang biografinya sederhananya kontras dengan gravitasi dari hukuman mereka. Salah satunya, Buzeynep Abdureshit, 27 tahun yang satu-satunya “kejahatan”nya adalah belajar di Mesir dan memiliki suami di luar negeri, dijatuhi hukuman tujuh tahun pada tahun 2017 karena “mengumpulkan orang banyak untuk mengganggu ketertiban sosial”.

Kemudian, pada bulan Juni tahun ini, penjara itu menjadi rumah bagi Nurzada Zhumaqan dan Erlan Qabden – keduanya perempuan etnik Kazakhstan berusia lima puluhan, keduanya memiliki masalah kesehatan, dan keduanya tidak melakukan kejahatan yang tidak dapat diketahui. Hukuman penjara mereka? 20 dan 19 tahun masing-masing.

Baca Juga

Bagaimana Pakta Pertahanan Mekkah Bisa Mengubah Peta Ekonomi Timur Tengah?
Menguak Penyebab Kerusuhan Hindu dan Muslim di Nepal
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital

Terlepas dari sifat barbar mereka, hukuman yang lebih baru ini sangat mengkhawatirkan karena mereka menunjukkan kemungkinan arah penindasan di Xinjiang sekarang. Sementara sebagian besar perhatian dunia telah difokuskan pada kamp-kamp “re-edukasi” di kawasan itu, statistik pemerintah sendiri, beberapa laporan terbatas, dan bukti baru yang disajikan oleh kerabat korban dan bekas tahanan di negara tetangga Kazakhstan semuanya menunjukkan bahwa jumlah yang luar biasa dari mereka yang ditahan pada tahun 2017 dan 2018 sekarang dijatuhi hukuman panjang dan dipindahkan ke penjara besar, seperti yang ada di Urumqi.

Bagi Aibota Zhanibek, lebih tua dari anak-anak perempuan Nurzada Zhumaqan dan sekarang warga negara Kazakhstan, berita menyedihkan datang ketika Tahun Baru – di saat banyak orang di Kazakhstan mengetahui bahwa kerabat mereka telah keluar dari kamp dalam pembebasan massal pada akhir Desember 2018. Sementara banyak yang berbagi kabar baik, Zhanibek akan mengetahui bahwa ibunya telah dijatuhi hukuman di penjara dengan tuduhan yang diungkapkan sebagai “menggunakan takhayul untuk melemahkan penegakan hukum” dan “mengerahkan massa untuk mengganggu ketertiban sosial”.

Erlan Qabden, seorang perawat dari wilayah lain di prefektur yang sama dengan Zhumaqan, dijatuhi hukuman dengan dakwaan “menggunakan ekstremisme untuk melemahkan penegakan hukum” dan “memulai pertengkaran dan memprovokasi masalah”, tuduhan yang – menurut kerabatnya di Kazakhstan – muncul karena dia menghadiri upacara pengibaran bendera dengan mengenakan jilbab.

Di kantor organisasi Hak Asasi Manusia Atajurt Kazakh di Almaty, tempat Zhanibek muncul setiap minggu untuk memohon bantuan ibunya di depan kamera, mayoritas dari mereka yang datang untuk bersaksi dan mengajukan permohonan tidak lagi berbicara tentang kamp – seperti halnya setahun yang lalu – namun penjara. Meskipun terpisah dan diperburuk oleh desas-desus, informasi yang didapat hanya dengan berbicara pada beberapa orang atau pihak yang mengajukan banding sudah cukup untuk mulai memperhatikan tren: hukuman yang lama, penahanan pra-pengadilan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan secara khusus menarget orang-orang yang relijius.

Sebuah statistik profil para korban – bersumber dari ribuan kesaksian video publik yang dikumpulkan oleh Atajurt dan diuraikan oleh Database Korban Xinjiang – memungkinkan untuk memperkuat beberapa pengamatan kualitatif dengan cara yang lebih kuantitatif. Perbandingan korban yang dilaporkan menerima hukuman penjara dengan yang dilaporkan dibebaskan dari kamp menunjukkan bahwa lebih dari 90% dari yang dihukum adalah laki-laki (dibandingkan 69% dari yang dibebaskan), dengan hampir 75% diyakini ditahan karena alasan agama (dibandingkan 27%). Sebuah analisis dari 311 korban dengan hukuman penjara menunjukkan hukuman rata-rata 11,2 tahun, dengan 89% dijatuhi hukuman 5 tahun atau lebih lama, sementara penelitian terhadap 65 korban yang ditahan selama 2 bulan atau lebih menunjukkan bahwa, bagi para korban ini, rata-rata penahanan pra-pengadilan sekitar 9 bulan, dengan lebih dari 30% ditahan selama setahun atau lebih.

Banyak dari para terpidana itu diyakini dipindahkan ke penjara setelah tinggal di pusat penahanan pra-persidangan (kanshousuo) – sebuah lembaga terkenal yang disalahgunakan di mana mantan tahanan melaporkan penganiayaan ekstrem dan kondisi kehidupan yang mengerikan. Namun, sejumlah saksi mata memberikan alasan kuat untuk meyakini bahwa mereka yang ditahan secara eksternal di kamp-kamp “re-edukasi” di wilayah tersebut juga dihukum, sementara masih di kamp-kamp. Empat mantan tahanan Kazakh, yang menghabiskan sebagian besar tahun 2018 di kamp-kamp, semuanya berbicara tentang menyaksikan atau mendengar tentang “sesi pengadilan terbuka” di dalam “sekolah”. Dua dari mereka, Ergali Ermek dan seorang tahanan yang – memilih anonimitas – nantinya minta disebut “Ruslan”, keduanya mengatakan bahwa mereka yang dijatuhi hukuman 10 tahun atau lebih yang kemudian dijebloskan ke penjara asli. Satu kasus yang diketahui adalah kasus Zhiger Toqai, seorang mahasiswa di Universitas Satbayev di Almaty, yang penahanannya pada awalnya dilaporkan oleh kerabat di Kazakhstan dan yang hukumannya dikonfirmasi oleh Ruslan, mantan teman satu selnya di kamp. Dalam sebuah wawancara yang baru-baru ini diterbitkan, Rahima Senbai mengenang pengadilan terbuka di mana tujuh wanita dijatuhi hukuman karena melakukan buka puasa.

Bagi mereka yang sakit dan lanjut usia, hukuman penjara yang lama tampaknya sama dengan hukuman mati, tidak hanya menghancurkan moral kerabat di luar negeri tetapi juga semua kepura-puraan sistem pidana yang sah di Xinjiang. Namun demikian, yang melekat di tindakan melanggar hukum itu ialah harapan, karena tanpa dasar yang kuat dan argumen yang meyakinkan, hukuman yang absurd itu mungkin lebih mudah dicabut dan para tahanan dibebaskan – sebuah fenomena yang sudah dicatat di kamp-kamp ekstralegal. Kisah-kisah Ergali Ermek dan Ruslan – kedunya dijatuhi hukuman namun kemudian dibebaskan – tampaknya mengisyaratkan hal ini, seperti halnya kasus Gulbahar Haitiwaji, yang diduga dijatuhi hukuman 7 tahun pada bulan Desember 2018 tetapi diizinkan kembali ke Prancis baru-baru ini.

Dengan tekanan dan kecaman internasional yang memadai, bukan tidak mungkin bahwa Penjara Wanita Xinjiang akan melihat pintu gerbangnya dibuka, memungkinkan mereka seperti Buzeynep Abdureshit, Nurzada Zhumaqan, dan Erlan Qabden untuk sekali lagi menikmati tingkat kebebasan tertentu. Dan mungkin bahkan yang seperti Gulmire Imin.*

Awalnya diterbitkan di https://globalvoices.org on October 27, 2019./Nashirul Haq

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinadiskriminasiKazakhstanuighurxinjiang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Al-Qur`an Sebagai Inspirator dan Mata Air Keberanian Bung Karno
Tulisan selanjutnya Ada Malaikat di Balik Buliran Hujan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Berita
30 Agustus 2026 17:04
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
Analisis

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas

19 Oktober 2024 15:22
Analisis

NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

2 April 2024 21:00
Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?