Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Terorisme di Selandia Baru dan Sejarah Penargetan Masjid

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Maret 2019 22:53 10:53 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Maret 2019 22:55
Bagikan
Serangan Masjid Christchurch
Bagikan

Oleh:  Farid Hafez

TERORIS supremasi putih bisa saja memilih berbagai tempat dan target lain untuk melancarkan serangannya. Tetapi dia memilih tempat ibadah Islam. Mengapa?

Mari kita ingat kembali Anders Behring Breivik, yang membunuh 77 orang di kamp Socialist Youth di Utoya/Norwegia. Dia sengaja memilih tempat itu, melihat generasi muda demokratis sosial dan berpikiran terbuka sebagai orang-orang yang akan menjadi pembuka dari Islamisasi Eropa. Breivik, yang, dalam manifesto teroris, dia menyebut “Knight Justiciar Breivik” merupakan yang “inspirasi sejati”nya, dapat menjadi cetak biru untuk serangan teroris lain. Namun dia memilih masjid. Tetapi mengapa?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana pada awalnya. Namun kita harus meluangkan beberapa waktu untuk merenungkan aspek terorisme ini. Ini bukan tentang masjid seperti yang dipikirkan umat Islam – karena ini tidak penting bagi seorang supremasi putih – ini tentang bagaimana masjid telah menjadi sebuah metafor untuk proyeksi jahat yang kami temukan dalam ideologi Islamophobia.

Baca Juga

Bagaimana Pakta Pertahanan Mekkah Bisa Mengubah Peta Ekonomi Timur Tengah?
Menguak Penyebab Kerusuhan Hindu dan Muslim di Nepal
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital

Faktanya, dalam imaginasi ideologi anti-Muslim, ada sedikit materi yang telah dianggap sebagai “simbol” Islam, simbol-simbol yang telah berubah menjadi masalah kontestasi politik. Dalam wacana tentang Islam, materi yang paling terkenal dan tidak diragukan lagi adalah hijab (penutup kepala yang digunakan perempuan Muslim) dan masjid. Orang bisa mengamati, pertama, objek-objek ini telah dibingkai ulang. Sama seperti hijab saat ini dibayangkan sebagai simbol “penaklukan perempuan” dalam masyarakat Muslim patriarki, masjid dibayangkan sebagai tempat radikalisasi, di mana orang-orang Islam diajarkan untuk membenci orang beragama lain atau dilihat hanya sebagai lokasi di mana plot teroris direncanakan.

Ini adalah reframing makna dari materi-materi yang telah di banyak tempat menyebabkan umat Islam kehilangan kebebasan mereka. Sementara kebebasan beragama telah menjadi pokok utama bagi hampir semua negara Barat sejak awal Perang Dunia II, hak ini telah dipertanyakan dalam berbagai kesempatan terhadap umat Islam sejak tahun 1990an. Dan dengan munculnya partai-partai sayap-kanan radikal sejak tahun 2000an, materi ini telah dimasukkan ke dalam legislasi atau undang-undang.

Islamophobia yang dilegislasikan sudah menjadi hal normal saat ini. Perempuan-perempuan Muslim tidak diizinkan menggenakan hijab; di beberapa tempat pembatasan ini untuk para murid, di tempat lain untuk para pengajar, dan di tempat lain lagi ada di beberapa layanan publik.

Selain itu, masjid telah menjadi isu yang diperdebatkan, mulai dari pelarangan menara masjid yang terkenal di Swiss hingga larangan yang tidak banyak ketahui, contohnya, pelarangan pembangunan masjid dan menara di dua negara bagian Austria. Dan jangan kita lupa tentang perdebatan terkait Masjid Ground Zero di New York dan perdebatan lain yang muncul di sekitar pembangunan sejumlah masjid yang akhirnya selesai dibangun di Cologne atau di salah satu distrik Istanbul, Taksim.

Ingat, betapa frustasinya Muslim AS karena Barack Obama, yang disebut-sebut sebagai presiden “harapan”, tidak dapat mengunjungi masjid, sehingga menyerah pada atmosfer ketakutan yang dipicu oleh retorika anti-Muslim radikal yang disebarkan oleh orang-orang seperti Pamela Geller serta anggota- Tea Party (gerakan politik konservatif fiskal Amerika di dalam Partai Republik). Masjid tidak lagi menjadi simbol pemberdayaan, seperti yang diingat oleh begitu banyak warga Afrika-Amerika, tetapi sebaliknya telah menjadi sebuah objek ketakutan. Hal ini telah meninggalkan bekas.

Di sisi lain, terkait teroris  anti-Muslim. Daftar masjid yang menjadi target di mana orang-orang ditembak mulai dari Masjid Finsbury Park London hingga ke Masjid Christchurch di Selandia Baru.

Sementara penembakan massal di Selandia Baru merupakan yang paling mematikan dalam sejarah baru-baru ini, masjid-masjid telah lama menjadi target, dari serbuan polisi di Prancis hingga serangan di Jerman.

Hanya dalam tahun 2017, polisi menanggapi hampir 1.000 serangan ke masjid di Federal Republik, berarti setiap tiga hari, satu masjid menjadi target. Situs Bridge Initiative telah memetakan kejahatan kebencian dan serangan terhadap masjid sejak 2015.

Tidak heran, masjid memainkan peran penting dalam manifesto yang diposting oleh teroris supremasi putih sebelum serangan.

“Kami akan menghancurkan setiap masjid dan menara di kota Konstantinopel,” katanya, merujuk pada nama lama Istanbul ketika itu di bawah kekuasaan Kristen. Dia sengaja memilih masjid Christchurch karena, baginya, “memiliki lebih banyak penjajah” dan mewakili “bangunan asing yang optik” dan memiliki hubungan dengan “ekstremisme”. Masjid baginya merupakan objek dari bermacam-macam perbedaan; ekstremisme, asing, supremasi (melalui diperolehnya properti). Inilah crisis of whiteness yang dialami teroris, yang diproyeksikan pada salah satu tanda paling terlihat dalam kehidupan Muslim.

Dengan demikian, menantang serangan teroris ini mengharuskan kita untuk terutama menantang wacana lebih luas yang telah memungkinkan diskriminasi legal terhadap Muslim yang juga telah membuka jalan bagi penghancuran mereka, yang kita saksikan dalam pembantaian baru-baru ini.

Farid Hafez adalah seorang peneliti senior di Departemen Ilmu Politik, Universitas Salzburg dan peneliti senior di Bridge Initiative di Universitas Georgetown. Artikel dimuat Anadolu Agency, diterjemahkan Nashirul Haq AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ChristchurchislamophobiamasjidSelandia Barusupremasi putihterorTeror di Masjid Selandia Baruterorisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Diacak-Acak Orang Tak Dikenal di Banyumas Jateng
Tulisan selanjutnya Mantan Presiden Tunisia: Uang UEA Tak Akan Hentikan Gelombang Kedua Arab Spring

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Berita
31 Agustus 2026 11:10
Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Terbaru

  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Mungkin Anda Juga Suka

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
Analisis

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas

19 Oktober 2024 15:22
Analisis

NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

2 April 2024 21:00
Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?