Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Perang di Yaman Sebabkan Pasien Kanker Telantar

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 19 Mei 2016 20:53 8:53 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 19 Mei 2016 20:47
Bagikan
Feras Ali Hassan, anak berusia 10 tahun yang didiagnosis leukemia, tersendat pengobatan kankernya di Rumah Sakit Amal di Taiz, Yaman.
Bagikan

ALI Ghanem yang menderita kanker mendapat penjelasan dari para dokter yang merawatnya, kankernya telah menyebar dari usus ke tulang belakangnya, dan rumah sakit di Taiz, Yaman tengah, tidak memiliki fasilitas untuk melakukan perawatan radiasi yang diperlukan. Untuk itu Ghanem diminta mencari pengobatan ke ibukota.

Tapi Ghanem terjebak. Pemberontak Syiah telah mengepung Taiz selama lebih dari satu tahun. Kota ini telah menjadi medan perang antara pemberontak dan pejuang lokal yang didukung serangan udara Arab Saudi dan sekutunya. Anaknya, Abdel-Maged (25 tahun) kepada The Associated Press (AP), yang dilansir NST Online, Kamis (19/5/2016), mengatakan, ia tidak bisa membawa ayahnya berjalan kaki sepanjang lima kilometer keluar kota untuk mencari kendaraan guna membawa mereka ke Sana’a, ibukota Yaman.

“Ayah tidak bisa bergerak,” katanya. “Dokter mengatakan kepada kami untuk menjaga dia di rumah sampai ia meninggal dengan tenang.”

Ghanem, seorang apoteker berusia 53 tahun, meninggal pekan lalu. Anaknya berbicara kepada AP setelah kembali dari kuburan.

Perang sipil di Yaman telah mendatangkan kerusakan besar dan menciptakan bencana kemanusiaan di negara termiskin di kawasan Arab ini. Taiz merupakan salah satu medan perang terburuk. Dan di kota ini terdapat rumah sakit kanker terbesar di Yaman, bernama Rumah Sakit Amal.Akibat perang ratusan pasien meninggal akibat tidak mendapatkan perawatan semestinya.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Bahkan Rumah Sakit Amal pun menjadi ajang medan perang. Musim panas lalu, pemberontak Syiah, yang dikenal sebagai Houthi, menyerbu fasilitas rumah sakit.

Pemberontak Syiah menyatakan, rumah sakit itu merupakan zona militer. Penembak jitu mengambil posisi di atapnya, tank di sekelilinginya, dan karung pasir didirikan sebagai pertahanan dari serangan pejuang lokal. Hal ini menyebabkan staf rumah sakit dan pasien harus pindah ke ruang bawah tanah untuk menghindari mortir, peluru, dan pecahan peluru.

Beberapa saat kemudian, penentang Houthi merebut kembali gedung rumah sakit, mengusir para pemberontak. Tetapi pemberontak Houthi masih memberi perlawanan dengan menembaki bangunan rumah sakit dengan artileri dari bukit-bukit sekitarnya.

Rumah sakit yang namanya berarti “harapan”, sebelumnya dalam setahun merawat 5.600 pasien kanker. Kondisinya sekarang hampir hancur, dengan dinding -dinding rontok, tempat tidur pasien hangus, dan peralatan hancur.

Lantas dengan hanya menyelamatkan data pasien dan tiga mesin, para staf memindahkan rumah sakit ke gedung baru di pusat perbelanjaan di pusat kota Taiz. Di gedung ini rumah sakit menerima hingga 50 kasus per hari, sepertiga dari jumlah yang dibutuhkan di masa lalu, dengan hanya 20 tempat tidur.

Sekarang pasien memiliki beberapa pilihan. Jika mereka berani menembus blokade untuk mendapatkan fasilitas pengobatan di tempat lain, atau mencoba melarikan diri dari Taiz, dibutuhkan berjalan kaki untuk menghindari blokade Houthi, kemudian baru mendapatkan transportasi untuk mendapatkan perawatan onkologi (rumah sakit khusus kanker) di Sanaa sejauh 200 kilometer. Itu pun masih kemungkinan ditumbuk serangan udara dan melewati kawasan pertempuran. Kalau tidak berani keluar dari Taiz, pasien hanya bisa tinggal di rumah dan menunggu untuk meninggal.

Lebih dari 640 pasien kanker yang dirawat di rumah sakit meninggal pada tahun 2015, tiga kali lipat jumlah kematian dibanding tahun sebelumnya, kata kepala Rumah Sakit Amal, Mokhtar Said Ahmed. “Jumlah yang meninggal di rumah tidak diketahui,” katanya.

Konflik selama setahun di Yaman telah menyebabkan lebih dari 9000 orang tewas, 27.000 terluka, dan telah menyebabkan 2,4 juta orang –hampir 10 persen dari populasi– menyingkir dari rumah mereka. Infrastruktur telah hancur, hampir 14,1 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Sistem perawatan kesehatan telah runtuh. Setidaknya 600 fasilitas di seluruh negeri telah ditutup, dan masyarakat berjuang untuk mendapatkan pasokan makanan.

Sebagai pusat budaya di Yaman, Taiz telah terbagi menjadi beberapa zona. Beberapa di bawah Houthi dan lain-lain di bawah pejuang. Houthi telah menutup pintu masuk guna pertahanan, menyebabkan warga bergantung pada makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan perlengkapan lainnya yang diselundupkan dengan menggunakan keledai melalui jalan belakang. Kelompok-kelompok bantuan internasional hanya memiliki akses terbatas ke kota untuk memberikan bantuan.

Bahkan pada saat gencatan senjata berlangsung di sejumlah wilayah, di Taiz pertempuran terus berlanjut. Ini karena Taiz berada titik tengah antara kawasan utara yang dikuasai Houthi dan selatan oleh pejuang yang didukung Saudi.

Said, kepala Amal, mengatakan, nasib pasien kanker kini semakin buruk.

“Banyak pasien sekarang tinggal menghadapi kematian karena tidak memiliki obat-obatan, terutama pada anak-anak,” katanya.

Mereka yang mendapatkan pengobatan terus menanggung gangguan selama berbulan-bulan. Pasien yang masih hidup pun harus berjuang untuk bisa menuju ke fasilitas Amal yang baru.

Feras Ali Hassan, seorang anak berusia 10 tahun yang didiagnosis leukemia sejak usia 6, telah memperoleh peningkatan kesehatannya setelah dirawat dua setengah tahun di di Amal. Tapi untuk beberapa bulan ini, ayahnya tidak bisa membawanya untuk pengobatan karena mereka tinggal di distrik garis depan, Wadi Hanish.

“Kami terjebak dalam baku tembak; Houthi di satu sisi dan perlawanan di sisi lain. Warga terjepit di antara pertempuran. Korbannya termasuk warga,” kata Ali Hassan, ayah Feras.

Akhirnya, ia dan anaknya pindah ke tempat yang lebih dekat di Amal, meninggalkan seluruh keluarganya di Wadi Hanish.

Tapi sayangnya kondisi Feras memburuk belakangan ini, dokter takut kanker telah menyebar. Ahmed al-Makhalfi, yang mengawasi pengobatan Feras, mengatakan, setelah melanjutkan kemoterapi, rumah sakit hanya bisa memberinya sejumlah kecil obat karena kekurangan pasokan.

Di Amal, koridor rumah sakit diisi oleh pasien yang menunggu mendapatkan perawatan karena ruang tempat tidur pasien sangat terbatas.

“Tempat tidur bisa biasanya tersedia hanya setelah pasien meninggal,” kata ayah Feras.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:penderita kankersyiah Houthiyaman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Roma dan Kekaisaran Romawi Kuno: Saksi Pergulatan Kekristenan dan Paganisme [2]
Tulisan selanjutnya Pesantren Darul Aman Gombara Selenggarakan Seminar Motivasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?