Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

“Bau Amis” Teror Komunis (1): Kiai Ditikam, Mahasiswa Dimutilasi

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 29 September 2021 06:24 6:24 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 28 September 2021 13:31
Bagikan
komunis
Bagikan

“Mereka memang kejam terutama dengan keluarga Muhammadiyah dan Masyumi karena anti PKI (Komunis).”

Hidayatullah.com | SUDAH 76 tahun Republik Indonesia merdeka. Namun bangsa ini belumlah pulih dari luka lama akibat kekejaman dan upaya kudeta Komunis.

Bau amis mayat korban kekejaman kaum anti-Tuhan itu seakan masih menyengat hidung dan tak kunjung hilang. Sejarah berdarah-darah itu pun terus diputar: mulai dari penculikan, penganiayaan, pembantaian, pembunuhan, penistaan agama, hingga pemberontakan. Korbannya dari para santri, ulama, tokoh nasional, sampai jenderal.

Inilah sekelumit kesaksian korban dan saksi mata teror Partai Komunis Indonesia (PKI). Kesaksian penting demi mengingatkan bahaya laten PKI, agar tidak terulang lagi.

***

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Telinga, tangan, dan –maaf– kemaluan mereka dipotong. Mutilasi itu bagian dari penyiksaan dan pembunuhan sadis yang nyaris saja dialami KH. Muhammad Amir.

Adapun dua orang anak asuh binaan Kiai Amir, yaitu Baharun dan Miftah, menjadi korban. “(Mereka) itu dibunuh sama PKI,” ujar Kiai Amir.

Kamis, 30 September 1965, tragedi pembantaian dan pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan para anteknya terjadi di berbagai daerah, termasuk di Ngruki, Jawa Tengah, kediaman Kiai Amir.

Hari itu sebelum kejadian, tuturnya, banyak anggota Pemuda Rakyat datang dari Solo ke Ngruki. Malamnya, sekitar pukul 11 waktu setempat, sayap organisasi pemuda PKI itu rapat. Mereka merencanakan pembunuhan terhadap Kiai Amir dan sejumlah orang lainnya pada pukul 1 dinihari.

Malang tak bisa ditolak, mujur tak dapat diraih. Dua dari 9 orang mahasiswa yang selama ini mengaji kepada Kiai Amir, tewas di tangan aktivis Komunis. Mereka disergap di asrama mahasiswa milik Kiai.

“Dua orang (mahasiswa) itu kecekel (kepegang) oleh pemuda PKI, dibunuh dengan cara yang sadis. Dipotong kemaluannya, dipotong telinganya, sehingga dikubur,” tuturnya kepada Suara Hidayatullah, Juli 2020.

Kiai Amir juga nyaris jadi korban. “Tapi istri Ketua PKI itu dengan saya baik, memberitahu saya, ‘Bapak pergi saja sebab nanti jam 1 malam Bapak mau diambil untuk dibunuh.’ Saya itu walaupun banyak tetangga yang PKI, saya berbuat baik terus kepada mereka,” tuturnya.

Kiai Amir  segera memboyong keluarganya meninggalkan Ngruki menuju Solo, tempat kakak kandungnya. Mereka menyusuri sungai.

Selain dirinya, ayahnya juga nyaris dibunuh. Syukur Alhamdulillah, sang ayah selamat.

“Ayah saya masuk ke sungai sehingga tidak terkejar oleh PKI. Rumah saya dulu dekat dengan sungai, bapak saya lari, masuk ke sungai hingga bisa aman,” tutur kiai berusia 85 tahun, beristri satu dan 14 anak ini.

Sebelum menetap di Ngruki, Kiai Amir merupakan Lurah (Ketua Pengurus Harian) Pondok Pesantren Jamsaren, Surakarta, dikenal sebagai ponpes tertua di Indonesia. Setelah menikah pada tahun 1963, ia pindah ke Ngruki, menempati rumah dan tanah pemberian mertuanya.

Ternyata banyak pendukung Komunis di situ sehingga disebut kampung PKI. “Orang Islam kira-kira tidak lebih dari 15 orang.”

Sebagai dai, Kiai Amir aktif mengajak masyarakat untuk memegang teguh tauhid dan menjauhi syirik. Aktif pula membina banyak pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Kiprah dakwahnya rupanya tak disukai kaum Komunis.

“Saya dimusuhi oleh orang-orang PKI itu. Saya kan dikenal sebagai mubaligh di sekitar Solo itu, sehingga saya ditulis dan diancam untuk dibunuh,” tuturnya.

Meski tahu akan diculik pada tragedi pemberontakan G30S/PKI itu, Kiai Amir tak sempat menolong dua mahasiswanya. Sedangkan 7 mahasiswa lainnya berhasil menyelamatkan diri.

“Karena belum ada telepon, belum ada apa-apa, sehingga saya tidak bisa memberi kabar (akan ada penculikan),” tuturnya.

Menurut Kiai Amir, saat itu daerah di sekitar Solo banyak dikuasai PKI, termasuk Wali Kota Solo (saat itu) Oetomo Ramelan adalah orang PKI. “Tentaranya juga banyak PKI. Jadi mereka kuat,” tuturnya.

Pasca peristiwa pemberontakan G30S/PKI, pasukan dari Divisi Siliwangi datang ke Solo untuk menumpas PKI. Kiai Amir pun melaporkan semua tokoh-tokoh PKI di daerahnya kepada pasukan Siliwangi.

Meskipun bersyukur ia selamat dari upaya pembunuhan oleh PKI, namun Kiai Amir tak kuasa menahan getirnya saat melihat jenazah dua mahasiswanya yang dibunuh PKI secara keji.

“Ketika kita buka kuburannya, (mayat-mayat) itu keadaannya kasihan sekali,” ungkap Ketua Majelis Pembina Yayasan Al-Mukmin Ngruki ini.* (bersambung)

Sumber: Majalah Suara Hidayatullah edisi Agustus 2020.

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:komunisPartai Komunis IndonesiaPembantaian PKIPembunuhPKISejarah PKISeptemberterorindonesia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR Minta Pemerintah Antisipasi Meningkatnya Kasus Covid-19 Pada Anak Pasca PTM dan Pembukaan Mall
Tulisan selanjutnya Imam Malik dan Imam Syafi’i ‘Berdebat’ Soal Rezeki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Feature
30 Juni 2026 17:12
Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris

Terbaru

  • Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
  • Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?