Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Pencabutan Status Darurat Militer dan Asa Muslim Bangsa Moro

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Desember 2019 13:06 1:06 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Desember 2019 13:06
Bagikan
bangsamoro
Muslim Bangsamoro
Bagikan

Hidayatullah.com | PEMERINTAH Filipina akhirnya akan mencabut status darurat militer di Mindanao, Filipina Selatan. Ini sekaligus melengkapi fase baru dari perjalan panjang perjuangan umat Islam Bangsamoro di wilayah itu, setelah awal tahun ini diberikan otonomi khusus bagi wilayah Mindanao; salah satu keistimewaannya diperbolehkan menerapkan syariat Islam.

Pencabutan status darurat militer ini sekaligus mengakhiri perintah kontroversial sejak 23 Mei 2017 yang menempatkan seluruh pulau di Filipina Selatan di bawah kendali militer. Status darurat militer di Mindanao sering diaktifkan, sejak era 1970-an saat negara ini dipimpin diktator Presiden Ferdinand Marcos.

Perintah dikeluarkan Duterte setelah serangan kelompok bersenjata Maute dan Abu Sayyaf mengepung Kota Marawi. Pertempuran di Marawi menewaskan 1.200 orang dan mengungsi sebanyak 600.000 saat meratakan kota bersejarah.

“Kantor Presiden ingin mengumumkan bahwa Presiden Rodrigo Roa Duterte tidak akan memperpanjang darurat militer di Mindanao setelah berakhir pada 31 Desember 2019,” kata Salvador Panelo Juru Bicara Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa dikutip Al Jazeera.

Darurat militer awalnya direncanakan berlangsung 60 hari, diperpanjang hingga akhir 2017 dan kemudian diperbarui hingga akhir 2018. Dan termutakhir pada 12 Desember 2018, Duterte yang didukung sekutunya di kongres menyetujui perpanjangan darurat militer selama 12 bulan ke depan atau hingga akhir 2019 ini.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Dengan dicabutnya status darurat militer dan berhasilnya Front Pembebasan Muslim Moro (MILF) mencapai kesepakatan damai berupa otonomi khusus dengan pemerintah awal tahun ini di Manila, dapat meredam tensi di wilayah konflik yang terpanjang di Asia Tenggara ini.

Pengalaman Pahit Status Darurat Militer

Pada 24 September 1974, diktator rezim Presiden Ferdinand Marcos pernah menetapkan darurat militer dan mengirimkan bala tentara ke daerah Filipina Selatan. Peristiwa ini tidak pernah dilupakan oleh umat Muslim Bangsamoro. Saat itu tentara datang membantai seketika 1.000 pria di Malisbong dan desa sekitarnya. Sumber lain menyebutkan 1.500 pria dikumpulkan oleh tentara dan kemudian tidak ada kabarnya.

Sementara 3.000 wanita dan anak-anak dibawa secara paksa ke kapal marinir dan angkatan laut tentara Filipina dan ditempatkan di ruangan yang mengerikan. Dikatakan wanita yang berusia 9 hingga 60 tahun diperkosa saat ditahan di kapal semalaman.

Peristiwa genosida terencana ini telah diabadikan dalam film dokumentar “Forbidden Memory” oleh sutradara bernama Gutiterrez “Teng” Mangansakan II. Sebagian besar yang turun dari kapal marinir dan angkatan laut mereka kehilangan kewarasan karena penyiksaan serius selama interogasi.

Butuh waktu 40 tahun bagi pemerintah Filipina untuk secara resmi mengakui kejahatan membantai 1.500 penduduk Bangsamoro di Malisbong di Palimbang, provinsi Sultan Kudarat. Salah satu pelanggaran HAM terburuk di bawah rezim Presiden Ferdinand Marcos, tetapi tidak diketahui mayoritas orang Filipina yang mayoritas Katolik.

Pada tanggal 24 September 2014 bertepatan 40 tahun peristiwa pembantaian, Komisi Hak Asasi Manusia (CHR) turun mengunjungi desa untuk melakukan pengecekan dan reparasi untuk keluarga korban. CHR mengacu pada Undang-Undang Republik 10368, atau Undang-Undang Reparasi dan Pengakuan Korban Hak Asasi Manusia tahun 2013, yang mengakui dan menyediakan reparasi bagi para korban pelanggaran HAM selama Darurat Militer.

Selain Malisbong, Pembantaian Manili juga sukar dilupakan oleh Muslim Bangsamoro. Tepatnya di sebuah Masjid di Manili, Carmen, Cotabato Utara, Filipina pada 19 Juni 1971, umat Muslim penduduk kota berkumpul di masjid dalam rangka ikut berpartisipasi untuk pembicaraan perdamaian dengan kelompok Kristen. Seketika sekelompok pria bersenjata berseragam militer menembaki mereka. 79 Muslim Bangsamoro termasuk perempuan dan anak-anak terbunuh.

Selain itu ada juga pembantaian Jabidah pada 18 Maret 1968, pemuda-pemuda Bangsamoro yang masuk tentara Filipina dihabisi dalam proses pendidikan militernya. Peristiwa inilah yang mencetuskan perlawanan Bangsamoro. Tahun 1972 Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) didirikan sebagai kelompok pejuang Bangsa Moro, setelahnya berbagai kelompok mulai bermunculan.

Wilayah selatan Filipina adalah medan yang penuh darah. Sudah hampir lima dekade, konflik terus terjadi, dampak dari konflik setengah abad itu tak main-main. Lebih dari 120 ribu orang tewas dan sekitar 2 juta lainnya mengungsi. Dan yang paling dirugikan umat Muslim Bangsamoro yang semakin terjepit./*Rofi Munawwar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu SayyafBangsamoroFerdinand MarcosfilipinaFilipina SelatanMILFMindanaoMNLFMoroPresiden FilipinaRodrigo Duterte
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pidato Haedar Nashir Guru Besar UMY: Indonesia Seakan Darurat Radikalisme
Tulisan selanjutnya Menpora Dorong KAMMI Tangguh Hadapi Perkembangan Zaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?