Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Tempat Paling Berbahaya bagi Muslim Selama Pandemi COVID-19 adalah India

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 15 April 2020 12:58 12:58 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 15 April 2020 12:58
Bagikan
Bagikan

Oleh: CJ Werleman

 

Hidayatullah.com | VIDEO hoaks yang viral terbukti lebih mematikan dan menimbulkan ancaman yang lebih besar pada 200 juta Muslim India (11 persen populasi Muslim dunia) dari pada virus Covid-19 itu sendiri. Apalagi kebjikan pemerintah Narendra Modi hari ini membuat semakin memicu polarisasi komunal untuk memajukan agenda nasionalis Hindunya di masa krisis nasional ini.

Dari perspektif pemerintah, virus Covid-19 telah melakukan apa yang telah gagal mereka raih selama berbulan-bulan sejak Desember 2019 – menghancurkan protes nasional terhadap undang-undang kewarganegaraan anti-Muslimnya, atau dikenal sebagai anti-UU Amendemen Kewarganegaraan (CAA) dan Daftar Warga Negara Nasional (NRC).

Mereka yang kecewa terhadap pemerintah telah mengikuti protes yang menyatukan Muslim, Hindu, Kristen, Buddha, Sikh, dan Dalit terhadap upaya berani partai penguasa itu untuk mengubah demokrasi sekular negara tersebut menjadi teokrasi Hindu yang tirani.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Bagi uamt Islam, pandemi Covid-19 telah memperburuk apa yang dimulai progrom anti-Muslim baru-baru ini, dan memberikan alasan lain bagi nasionalis Hindu militan negara itu untuk menyalahgunakan dan merendahkan mereka. Itu dimulai ketika 10 warga negara Indonesia, semuanya Muslim, dinyatakan positif virus pada 19 Maret, kira-kira 10 hari setelah menghadiri pertemuan tahunan yang diadakan oleh Jamaah Tabligh di Nizamuddin.

Individu dan kelompok nasionalis Hindu yang sepakat dengan pemerintah memanfaatkan pertemuan itu untuk menyalahkan umat Islam sebagai satu-satunya penyebab penyebaran virus mematikan ke seluruh negeri, hastag #CoronaJihad dan #BioJihad dibagikan ratusan ribu kali hampir secara instan di berbagai platform media sosial.

“Islamofobia telah dialihkan ke masalah coronavirus,” Amir Ali, asisten profesor ilmu politik di Universitas Jawaharlal Nehru di Delhi, mengatakan kepada Time.

Menyalahkan Muslim atas pandemi Covid-19 telah menjadi sebuah cara yang mematikan, dengan satu per satu berita hoaks dan video hasil rekayasa yang buruk disebar di Facebook, Twitter, TikTok, dan WhatsApp, meskipun dengan mudah dan cepat dibantah oleh kelompok-kelompok pengecekan fakta online.

Contoh dari berita bohong yang paling banyak dibagikan termasuk:

“Pria Muslim Meludahi Buah-buahan untuk Menyebarkan Corona,” “Muslim Menolak Jatah Hindu di Karachi,” “Pekerja Muslim di Restoran Meludah dalam Makanan untuk Menyebarkan Coronavirus,” “Warga Negara Asing Muslim dengan Coronavirus Bersembunyi di Masjid Patna,” “Muslim Bersin Bersamaan untuk Menyebarkan Corona,” “Muslim Meludahi Polisi untuk Menyebarkan virus Corona,” “Muslim Menjilati Perabotan untuk Menyebarkan Corona,” dan “Muslim yang Terinfeksi Corona Pukuli Biksu Hindu.”

Secara keseluruhan, kisah-kisah palsu ini telah dibagikan jutaan kali, dan melakukan yang menjadi tujuan mereka: menghasut kekerasan dan diskriminasi terhadap Muslim dengan harapan mendorong eksodus Muslim, yang merupakan bentuk pembersihan etnis secara perlahan.

Pada 5 April, dua masjid di Belagavi, Karnataka diserang oleh gerombolan gabungan ekstremis Hindu berjumlah 22 orang. Pada hari Senin, tiga nelayan Muslim di desa Bagalakote diserang oleh gerombolan, yang menuduh mereka menyebarkan virus corona. Video menunjukkan para lelaki memohon belas kasihan kepada para penyerang mereka sebelum dipukul dengan kayu dan tongkat, ketika salah satu dari gerombolan massa berteriak, “Kalian [umat Muslim] sedang menyebarkan penyakit ini. Mengapa kamu datang ke desa kami? Apakah Anda tahu berapa banyak yang telah meninggal? ”

Di Bangalore, tiga pekerja bantuan kemanusiaan Muslim diserang ketika memberikan makanan kepada yang membutuhkan setelah dituduh memiliki hubungan dengan kelompok Muslim Jamaah Tabligh di Nizamuddin. Di Arunachal, pengemudi truk Muslim dipukuli dengan kejam oleh sekelompok ekstrimis Hindu. Pekan lalu, sebuah video muncul tentang seorang polisi menyerang seorang pejalan kaki Muslim di jalan, sambil berteriak, “Kamu [sumpah serapah]. Karena Anda orang-orang [Muslim], coronavirus menyebar di negara ini. ”

Ini hanyalah contoh kecil dari jenis serangan yang ditargetkan pada minoritas agama terbesar di India oleh kaum nasionalis Hindu radikal. Serangan-serangan ini sama ganasnya dengan yang sering terjadi. Memang mereka menikmati diam-diam, dan sering kali ada persetujuan implisit dari pemerintah India saat ini. Ini terbukti dengan lusinan petugas kepolisian New Delhi yang menjadi peserta aktif dalam kerusuhan Februari, yang menewaskan lebih dari 50 Muslim, banyak dari mereka dipukuli di siang hari bolong dan di depan kamera CCTV.

Ketika anggota partai yang berkuasa di negara itu secara terbuka menyebut Muslim sebagai “pengkhianat” dan “hama” yang “harus ditembak,” ia melembagakan Islamofobia di semua tingkat masyarakat sipil, yang menghasilkan ekonomi, pendidikan, politik, dan kesehatan yang lebih rendah untuk 200 juta orang penganut agama Islam.

“Sangat disayangkan bahwa selama krisis global ini, ketika kita harus menyingkirkan semua kebencian, negara saya dan para pemimpinnya memaksa saya untuk fokus pada prasangka lagi, mengungkapkan krisis moral yang akut dan mengganggu,” tulis jurnalis Muslim India Rana Ayyub di kolomnya untuk Washington Post.

Pemerintah mendorong diskriminasi dengan menambahkan tragedi di atas tragedi selama pandemi COVID-19, kenyataan yang diberikan ketika para dokter di sebuah rumah sakit di Rajasthan menolak untuk melahirkan bayi wanita hamil karena dia seorang Muslim. Bayi yang baru lahir meninggal beberapa jam kemudian di ambulan.

“Di ruang persalinan, dokter menanyakan nama dan alamat saya. Saya memberi tahu mereka nama saya dan bahwa saya berasal dari Nagar. Mereka bertanya kepada saya apakah saya Muslim. Saya bilang iya. Para dokter mendapat peringatan dan berkata, ‘(jika Anda) Muslim, maka Anda tidak akan mendapatkan perawatan apa pun di sini,’ “suaminya mengatakan kepada The Indian Express.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah fakta bahwa polisi menggunakan Covid-19 sebagai instrumen teror terhadap umat Islam di lingkungan miskin, termasuk laporan bahwa petugas kepolisian New Delhi menggunakan dalih investigasi terhadap pogram anti-Muslim baru-baru ini di kota untuk menculik pemuda Muslim dan mengancam mereka akan diinfeksi paksa dengan coronavirus.

Pada saat demokrasi terbesar di dunia dan negara terbesar kedua berada dalam cengkraman memerangi virus yang tidak memandang agama, sebuah pertempuran yang jika kalah dapat membawa ekonomi India ke dalam spiral kematian yang tidak akan benar-benar pulih darinya, pemerintah sedang mengipasi api polarisasi komunal untuk menggiring negara itu semakin dekat menuju identitas sebuah negara fasis Hindu.*

Penulis adalah kolumnis untuk Byline Times, Inside Arabi dan aktivis melawan Islamophobia. Artikel diterjemahkan Nashirul Haq AR

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:diskriminasiIndiaislamophobi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Santriwati Penghafal Qur’an ini Yakini Ibadah Faktor Penyembuh Covid-19
Tulisan selanjutnya Berkat Ilmu, Orang Biasa Bisa Berjaya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?