Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Muslim Kuba Menggeliat [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Oktober 2016 18:39 6:39 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Oktober 2016 18:39
Bagikan
Shabana Jan (kiri) berfoto bersama anak perempuannya Aina di rumah Santa Clara mereka, masuk Islam tidak lama setelah suaminya memeluk Islam
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Menjadi Muslim di Kuba

Hubungan antara budaya Timur Tengah dan Kuba berabad-abad lalu.

Muslim keturunan campuran Berber dan Arab dari Andalusia dibawa sebagai budak oleh para penguasa Spanyol, yang tercatat mulanya pada tahun 1593.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Selama berabad-abad kemudian, baik pedagang Muslim maupun Kristen dari Timur Tengah tertarik dengan Kuba dikarenakan kekayaan yang dihasilkan perdagangan gula. Banyak yang tinggal, kebanyakan di Havana atau sekitar Santiago de Cuba, kota terbesar kedua yang terletak di timur jauh pulau itu. Banyak imigran Arab di Kuba, baik Muslim maupun Kristen, meninggalkan agama mereka saat itu.

Budaya Kuba hari ini selalu menimbulkan tantangan bagi penganut Islam negara itu. Rum merupakan salah satu barang pokok yang dijual di kafe. Dan merupakan minuman populer, paling tidak karena harganya jauh lebih murah daripada minuman ringan. Sedangkan daging babi secara luas digunakan dalam makanan-makanan Kuba – daging yang dipilih setiap perayaan. Supermarket-supermarket di Kuba baru-baru ini mulai mengimpor daging ayam halal dari Brazil, yang sulit dijangkau (karena mahal) orang kebanyakan penduduk Kuba. Pakaian, seperti dishdasha atau kopyah, hanya didapat dari negara lain atau merupakan pemberian dari Muslim asing.

“Banyak saudara Muslim dari negara lain mengatakan padaku bahwa kami Muslim Kuba merupakan Muslim yang sebenarnya, karena di sini lebih sulit menjalankannya daripada di negara di mana banyak orang berbagi keyakinan dan praktik yang sama,”ujar Haji Isa.

Hassan berjuang keras pada awalnya.

“Makanan merupakan hal yang sulit, karena semuanya dilarang. Daging yang paling banyak kita makan ialah daging babi, yang dilarang (haram) … dan sangat banyak godaan di jalan. Sejujurnya, ini hal yang agak sulit, tetapi Allah memberikanmu kekuatan untuk melewati itu,” kata dia.

hasan-dan-shabana-tak-ada-mushollah1
Dengan tidak adanya masjid di Santa Clara, Hassan dan Shabana Jan telah membangun sebuah tempat sholat kecil di rumah mereka di mana para Muslim di wilayah itu dapat datang dan beribadah [Sylvia Hines/Aljazeera]
Sejak masuk Islam, kehidupan Hassan dan Shabana telah berubah total, dan sekarang berpusat hanya menghabiskan waktu di rumah.

“Saya sangat bahagia berada di rumahku, Saya pendiam. Saya tidak banyak keluar,” kata Shabana.

“Saya keluar jika saya ingin mencari sesuatu, atau pergi ke dokter, tetapi bukan karena saya ingin berada di jalan,” katanya.

Persepsi tentang Islam

Pemeluk agama Islam di Kuba juga menghadapi tantangan yang berasal dari kurangnya pengertian masyarakat Kuba tentang Islam.

Pemberitaan media tentang serangan teroris dan konflik di Timur Tengah telah membentuk persepsi banyak orang di Kuba tentang agama itu.

Hal ini yang ingin Haji Jamal rubah.

Dia mencari nafkah dengan bekerja sebagai supir taksi di Santiago. Seperti banyak mualaf Kuba, dia dibesarkan dalam agama Kristen

“Saya dulunya merupakan anggota gereja Baptist. Saya tahu banyak tentang Kristen, tetapi saya tidak pernah mengerti tentang Trinitas Suci. Kemudian saya bertemu dengan seorang Muslim Kuba yang telah menjadi Muslim selama bertahun-tahun, dan mulai berbicara tentang Islam dengannya. Dia memberiku sebuah al-Quran dan mengatakan, ‘Baca ini’. Membutuhkan waktu bagiku membacanya, tetapi akhirnya aku membacanya dan melihat hal yang logis di dalamnya, terlihat sangat jujur, sangat nyata dan itulah yang membuatku tertarik dengan Islam.”

Jamal masuk Islam pada 2009.

Ibu Jamal, terkejut dengan keputusannya. Awalnya, ibunya mengusirnya dari rumah, tetapi sikapnya melunak setelah itu, membolehkan dia tinggal selama teman Muslimnya tidak datang ke rumah. Ketika ibunya melihat Jamal dan teman-temannya berdiri di bawah terik matahari tepat di depan rumah, dia merasa tidak tega. Ibunya saat ini lebih terbuka pada teman-teman Jamal, dan terkadang mengajak mereka makan bersama.

“Dia masih tidak menerima Islam, tetapi bagi Muslim yang dia kenal, dia menerima mereka, menyiapkan makanan untuk mereka, semuanya,” kata Jamal.

Jamal merupakan contoh informal masyarakat Muslim Santiago yang terdiri dari 30 warga asli Kuba dan 90 warga asing. Dia bekerja dengan pemerintah, yang kehadirannya seluas 70 persen dari populasi pekerja yang bekerja untuk pemerintah, untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang Islam.

“Kami sedang mencoba untuk memberikan contoh terbaik tentang Islam, pada saat di mana terdapat banyak pesan negatif tentang itu di media. Orang-orang menyamaratakan, berpikir, ‘Jika kamu Muslim, kamu pasti teroris’.”

Dia mengatakan, “Banyak menjelekkan gambaran tentang Islam. Islam itu damai. Jadi itulah pesan yang kami ambil. Bukan karena kami mengharap orang-orang untuk masuk agama Islam, tetapi agar mereka dapat hidup nyaman bersama Muslim.”

Jamal mengatakan kebebasan beragama dihargai di bahwa undang-undang Kuba.

“[Masalah terjadi] biasanya dari otoritas di tempat kecil yang mengartikan undang-undang dengan cara mereka sendiri. Padahal undang-undang itu sendiri jelas – orang tidak bisa didiskriminasi karena ras, agama, atau warna,” kata dia.

Beberapa wanita Muslim Kuba yang menggenakan hijab telah menghadapi diskriminasi dari otoritas di tempat mereka bekerja atau di universitas. Menurut Isa, situasi seperti itu biasanya diselesaikan melalui diskusi dan penjelasan tentang apakah itu Islam.*/Nashirul Haq (bersambung)

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:havanaKomunis Kubakubamuslim Kuba
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kepemimpinan Ahok Dinilai tidak Sesuai dengan Amanat Bangsa
Tulisan selanjutnya Kemunculan Donal Trump, AS Mendadak Dibanjiri Pesan Anti-Yahudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?