Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Mengenang KH. Zainal Musthafa ‘Sang Singa Singaparna’ [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Februari 2017 14:42 2:42 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Februari 2017 14:42
Bagikan
KH. Zainal Musthafa
Bagikan

Oleh : Tatang Hidayat

 

DADA ini bergetar ketika mendengar kisah perlawanan ‘Asy-Syahid’ KH.Zainal Musthafa terhadap penjajah yang dilakukan oleh orang-orang kafir Belanda dan Jepang pada masa itu, Zainal Musthafa  seorang ulama yang berasal dari tanah priangan yakni Tasikmalaya. Dengan keberanian dan kegigihan dalam mempertahankan ajaran Islam, dengan jalan itu pula mengantarkan Zainal Musthafa   untuk bertemu Allah Subhanahu Wata’ala dengan gelar sebagai seorang syuhada.

Ada suasana yang berbeda ketika penulis silaturahim ke Pondok Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya, dada ini bergetar dan sontak bibir ini spontan mengucapkan kalimat takbir, seolah-olah suasana pertempuran KH. Zainal Musthafa bersama santrinya masih terasa hingga saat ini.

Zainal Musthafa dilahirkan di Kampung Bageur Desa Cimerah Kecamatan/Kewedanaan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya (sekarang Desa Sukarapih Kec. Sukarame Kab. Tasikmalaya) pada tahun1901. Ibunya bernama Ratmah dan ayahnya bernama  Nawapi. Zainal Musthafa  dikenal dengan nama kecilnya Umri dan Hudaemi. Zainal Musthafa  dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani yang taat beragama. Setelah Zainal Musthafa kecil lulus dari Sekolah Rakyat, ia menimba ilmu di beberapa pesantren, diantaranya: Pesantren Gunung Pari, Cilenga Leuwisari, Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung dan Jamanis Rajapolah. Di Pesantren Gunung Pari Zainal Musthafa  dibimbing oleh kakak misannya yang bernama Dimyati yang kemudian dikenal dengan nama KH. Zainal Muhsin.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Pada tahun 1927 Zainal Musthafa muda mendirikan sebuah pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Pesantren Sukamanah. Nama kampung Cikembang berganti Nama menjadi kampung Sukamanah. Pesantren Sukamanah  didirikan di atas tanah wakaf untuk rumah dan mesjid dari seorang janda dermawan bernama Hj. Juariyah. Sebelumnya, pada tahun 1922 Hj. Juariyah memberikan tanah wakaf yang sama kepada KH.Zainal Muhsin (pendiri Pesantren Sukahideng) di Kampung Bageur. Dalam usia 26 tahun, usia yang sangat muda Zainal Musthafa telah mendirikan pesantren dan menunaikan ibadah haji pada tahun 1928 yang dibiayai pula oleh Hj. Juariyah.

Baca: Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Sebagai seorang ulama yang memiliki sifat ta’at, tabah, qona’at, syaja’ah dan menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan, maka tak bisa dipungkiri bila Zainal Musthafa  menjadi seorang pemimpin dan panutan umat  yang kharismatik, patriotik, berbudi luhur serta berpandangan jauh ke depan. Hal ini terbukti dengan bergabungnya Zainal Musthafa  dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1933. Zainal Musthafa Zainal Musthafa  tercatat sebagai wakil Rois Syuriyah Cabang Tasikmalaya. Sementara pada saat itu mayoritas ulama menjadi anggota organisasi Izdhar yang dianggap kooperatif terhadap Penjajah Jepang.

Pesantren Sukamanah hadir menjadi pesantren yang memiliki santri ± 600-700 orang.Hal ini menimbulkan kecurigaan yang sangat besar bagi pemerintah Belanda pada saat itu, mereka menganggap bahwa pengajian tersebut adalah perkumpulan yang dimaksudkan untuk menyusun kekuatan rakyat Indonesia melawan penjajah.

Zainal Musthafa sering diturunkan dari mimbar oleh kaki tangan pemerintah Belanda dan ditahan di penjara Tasikmalaya. Bersama KH. Ruhiyat (Pimpinan Pesantren Cipasung) pada tanggal 17 Nopember 1941/27 Syawal 1362 atas tuduhan menghasut rakyat. Sehari kemudian mereka dipindahkan ke Penjara Sukamiskin Bandung dan dibebaskan pada tanggal 10 Januari 1942.

Baca:  Ulama dan Krisis Kebangsaan

Zainal Musthafa ditangkap kembali dan ditahan di penjara Ciamis pada akhir Februari 1942 menjelang penyerbuan Jepang ke Jawa, dan dibebaskan oleh seorang kolonel Jepang pada tanggal 31 Maret 1942.

Meskipun kekuasaan telah berpindah tangan dari kolonial Belanda kepada tentara Jepang, sikap dan pandangan Zainal Musthafa terhadap penjajah baru tidak berubah.Kebencian Zainal Musthafa  semakin memuncak setelah menyaksikan sendiri kezaliman hamba-hamba Tennohaika Jepang. Beribu-ribu rakyat Indonesia dijadikan romusha, penjualan padi kepada Pemerintah Jepang secara paksa, pemerkosaan terhadap gadis-gadis merajalela, segala partai, ormas dan organisasi nasional dilarang dan setiap pagi rakyat Indonesia diwajibkan saikeirei atau ruku ke arah istana Kaisar Jepang Tokyo.

Keteguhan iman Zainal Musthafa  tidak akan tergoyahkan dengan perbuatan saikeirei tersebut, maka Zainal Musthafa bertekad untuk menegakkan kalimatullah dan berjuang menentang kezaliman Jepang meskipun nyawa menjadi taruhannya.* (BERSAMBUNG)

Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:penjara sukamiskin Bandungpenjejah JepangromushaSaikeireiSingaparnaTasikmalayatentara jepangZainal Musthafa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Belajar Amanah Dakwah pada Delivery Bisnis Modern [1]
Tulisan selanjutnya Nostalgia di Pakistan, Ketua PPIH Saudi Ajak Mahasiswa Gali Potensi Diri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli

Berita
13 Oktober 2026 16:03
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang

Terbaru

  • 19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?