Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Stop Tayangan Bermasalah di TV!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Februari 2012 07:33 7:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Februari 2012 07:33
Bagikan
Bagikan

KAMI orangtua menilai hingga hari ini televisi tidak ramah pada anak. Tayangan kekerasan, seks, mistik, hedonisme, masih kerap muncul setiap hari di layar kaca kita. Padahal, adegan-adegan di televisi tersebut bisa cepat ditiru oleh anak-anak. Hal tersebut berbahaya bagi anak bahkan bisa berujung kepada hilangnya nyawa seorang anak.

Salah satu contoh peniruan yang dilakukan oleh anak adalah peristiwa 15 orang bocah tertangkap menggarong kantor debt collector akibat menirukan gaya game Naruto (Jawa Post, 29 Januari 2012). Naruto adalah salah satu film animasi Jepang yang sempat tayang di TV.

Ada juga contoh peristiwa mengenaskan, meninggalnya Heri Setiawan, 12 tahun, siswa SMP Taman Siswa Jakarta Pusat, yang meninggal akibat menirukan aksi sulapnya Limbad (Desember 2009). Heri Setiawan tewas diduga usai mempraktekkan aksi sulap dengan mengikat leher, tangan dan kakinya sendiri. karena kurang hati-hati, lehernya terjerat oleh tali yang diikatnya. Atau sebagaimana yang pernah terjadi pada beberapa tahun lalu tentang anak yang tewas akibat memperagakan aksi smackdown yang ditayangkan di televisi.

Adegan kekerasan dalam program berita pun semakin berani dan vulgar ditayangkan. Padahal adegan kekerasan yang ditayangkan dalam program berita lebih berbahaya dibanding yang ditayangkan oleh sinetron.

Dalam sinetron, adegan kekerasan dilakukan atas tuntutan skenario, dan sifatnya adalah pura-pura. Sedangkan dalam berita, tayangan yang tersaji merupakan rekaman fakta atau kenyataan yang terjadi di lapangan. Kami mengkhawatirkan adegan kekerasan ini akan menjadi contoh buruk bagi anak-anak yang menontonnya, atau bahkan bisa jadi menginspirasi bagi sebagian orang untuk melakukan tindakan kejahatan.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Jika kita kaji lebih jauh sebenarnya media massa televisi mempunyai fungsi utama yang selalu harus diperhatikan yaitu fungsi informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru. Namun jika kita lihat kenyataannya sekarang ini acara-acara televisi lebih kepada fungsi informatif dan rekreatif saja, sedangkan fungsi edukatif yang merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan, sangat sedikit sekali. Sebagai contoh adalah program di Trans 7 misalnya Gara-Gara Neo Magic, sangat bermasalah karena justru mengajarkan bagaimana mencuri uang dari credit card, mengambil perhiasan dan barang-barang berharga seseorang. Parahnya tayangan ini ditayangkan sore hari pukul 17.30 yang sangat mungkin ditonton oleh anak-anak.

Termasuk juga acara-acara music di pagi hari seperti Dahsyat (RCTI), Inbox (SCTV), Dering (Trans TV), Mantap & Klik (ANTV). Acara-acara ini bermasalah karena kerap menampilkan pembawa acara yang tidak sopan, pakaian seksi dan juga penyanyi-penyanyi yang berpakaian seksi serta lirik lagu yang membenarkan seks bebas (contoh; “Hamil Duluan”, “Belah Duren”, “Kawin Cerai”, “Mari Bercinta”, “Jadikan Aku yang Kedua”, “Selingkuh”, “Cinta Satu Malam”, “Keong Racun” dan lain-lain).

Acara komedi juga menggunakan kata-kata kasar, merendahkan orang lain, porno. Contohnya OVJ, Fesbukers, dan The Hits. Sinetron-sinetron menampilkan bulliying, tidak menghormati orangtua, hedonisme, pacaran, dan harapan-harapan palsu.

Anak adalah masa depan bangsa. Membiarkan anak-anak mengkonsumsi tontonan yang tidak mendidik berarti sama saja membiarkan bangsa ini hancur perlahan-lahan.

Oleh karenanya, kami meminta agar:

1. Pengelola TV tidak menanyangkan program-program yang berdampak negatif terhadap anak (kekerasan kriminal, vulgarisme, pornografi, dll). Pengelola TV diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan materi semata dengan cara menghalalkan segala cara, tapi juga memberi tontonan yang mendidik generasi bangsa ini.

2. Mendesak agar pihak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) khususnya Bidang pengawasan Isi Siaran untuk bersikap tegas terhadap tayangan tv yang dapat membawa dampak negative terhadap anak, khususnya tayangan-tayangan yang menampilkan kekerasan, kriminalitas, mistik dan seks. Kami tidak ingin anak-anak kami rusak karena televisi. KPI kami nilai selama ini tidak menjalankan tugas pengawasan isi siaran dengan semestinya dan cenderung melakukan pembiaran.

Untuk itu, melalui surat ini kami menuntut bidang pengawasan Isi Siaran KPI dan Pengelola TV melakukan tugasnya dengan benar dan bertanggung jawab. Terutama agar anak-anak kami aman mengkonsumsi TV tidak terpana muatan negative TV , sehingga dapat tumbuh menjadi generasi penerus yang produktif.

Jakarta, 7 Februari 2012

Nila Kurnia Pancawati
Direktur Eksekutif LSM Rumah Peradaban

Foto: flickr

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Syuriah PBNU Batalkan Kerjasama dengan Iran
Tulisan selanjutnya Para Guru Wajib Belajar Worldview Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?