Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Tradisi Menyambut Ramadhan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Mei 2017 21:52 9:52 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Mei 2017 07:30
Bagikan
Bagikan

BIASANYA, dalam menyambut Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan amalan-amalan berikut:

Pertama, berdoa. Di antara doa beliau:

اللهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ وَالْإِسْلامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ

“Ya Allah, perlihatlah bulan ini kepada kami dengan kebahagiaan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” (HR. Ahmad). Kandungan doa ini secara eksplisit menunjukkan bahwa Ramadhan disambut dengan kegembiraan (rasa syukur), keimanan, keselamatan, keislaman dan akidah yang benar.

Kedua, beliau memperbanyak berpuasa di bulan Sya’ban. Terkait hal ini, Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam:

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: «ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

“Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Syaban? Beliau bersabda: Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadlan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasai).

Baca:  3 Persiapan Menyambut Ramadhan

Ketiga, menyambutnya dengan hangat. Ketika Ramadhan tiba, beliau menyampaikan kabar gembira ini kepada sahabat-sahabatnya sembari menunjukkan keutamaan-keutamaan yang ada di dalamnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, Telah datang kepada kalian Ramadhan. Bulan yang diberkati di mana Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa pada bulan itu. Pada bulan ini, dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya Allah mempunyai bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan kebaikannya, maka dia merugi. (HR. Nasai).

Sepeninggal beliau, ekspresi dalam menyambut Ramadhan berkembang sesuai tradisi daerah masing-masing tanpa kehilangan spirit inti dari penyambutan Ramadhan yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dalam buku berjudul Ramadhan Pembangkit Esensi Insan (2014: 8-9), Shabri Shaleh Anwar menyebutkan beberapa tradisi beberapa daerah di Indonesia dalam menyambut Ramadhan.

Baca:  Menyambut Tamu Agung Ramadhan

Pertama, di Kota Semarang misalnya ada tradisi “Dugderan”. Kata “Dug” diambil dari suara bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan “Der” berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug. Tradisi ini sudah berusia ratusan tahunn. Biasanya digelar 1-2 minggu sebelum puasa.

Kedua, lain lagi di daerah Klaten, Boyolali, Salatiga dan Yogyakarta. Ada tradisi melakukan upacara berendam atau mandi di sumur atau sumber mata air di tempat keramat yang disebut “Padusa”. Maknanya, supaya jiwa dan raga seseorang yang akan melakukan puasa bersih secara lahir batin.

Ketiga, sedangkan warga Kabupaten Kuantan Singingi, Riau memiliki tradisi tahunan yakni pesta jalur pacu (Pacu Jalur). Acara lomba dayung yang digelar sebelum Ramadhan dan ditutup dengan Balimau Kasai (bersuci).

Keempat, di aceh ada tradisi Meugang. Mereka menyembelih kerbau dan dagingnya dimakan menjelang puasa. Kerbau dibeli secara patungan. Biasanya orang yang lebih mampu turut memberi sumbangan agar fakir miskin pun bisa menikmati kebersamaan ini.

Kelima, di Surabaya ada tradisi memakan kue apem. Nama “apem” dipercaya berasal dari kata “afwan” dalam bahasa Arab yang artinya maaf. Secara simbolis makan kue ini bisa diartikan mohon maaf kepada keluarga, sanak saudara, handaitolan, tetangg, kerabat dan teman. Setelah makan apem, biasanya bersalam-salaman saling minta maaf dan melanjutkan acara tahlilan.

Keenam, di Banyu Mas ada tradisi yang disebut ‘Perlon Unggahan’. Berbagai makanan tersedia, tapi yang tidak bileh absen adalah nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek. Serundenga sapi dan sayur becek harus disiapkan laku-laki dan jumlah mereka harus 12 orang, karena banyaknya kambing dan sapi yang disembelih.

Baca:  Bergembira Menyambut Ramadhan

Di samping keenam tradisi tersebut, ada dua lagi yang bisa diangkat dalam tulisan ini:

Ketujuh, tradisi nyadran. Tradisi nyadran ini biasa dilakukan masyarakat Solo. Makna Tradisi Nyadran Sebelum Puasa, merupakan tradisi masyarakat  Solo ( juga dilakukan di daerah lain seperti: Boyolali) untuk menyambut Ramadhan.  Menurut Bakdi Soemanto dalam buku Belajar Bela Rasa (2011: 163). Makna nyadran adalah keluarga besar mengunjungi makam-makam tempat para leluhur dikebumikan. Mereka, para anggota keluarga besar itu, berjongkok atau duduk bersila di depan makam setiap leluhur untuk mendoakan agar yang sudah wafat diampuni oleh Sang Maha Pencipta.

Kedelapan, tradisi Pisowanan. Tradisi yang biasa dilakukan oleh warga Banyumas, Jawa Tengah ini diartikan dengan ungkapan menghadap sesepuh. Ritual dari tradisi Pisowanan ini adalah berziarah ke makam tokoh besar/agama di Banyumas. Selain itu, sejumlah makanan juga disediakan yang kemudian dibagi-bagikan kepada peserta ziarah. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi warga Banyumas di saat menjelang Ramadhan.

Tentu kita tidak sedang membahas secara syariat atau menyokong kebenarannya, karena nanti ada ranahnya sendiri dan sudah banyak yang mmbahasnya. Tapi ekspresi budaya ini bisa diambil sisi positifnya, paling tidak sambutan-sambutan pra Ramadhan yang sudah mentradisi tersebut menggambarkan bahwa mereka benar-benar serius dalam menyambut Ramadhan. Dari kedelapan tradisi tersebut ada beberapa hal yang dilakukan orang Indonesia dalam menyabut Ramadhan: bersyukur, shilaturahim, mensucikan diri dan jiwa, saling memaafkan, berbagi rezeki kepada orang yang tak mampu. Bila etos nilai ini juga bisa berlangsung sepanjang tahun, maka akan menjadi kekuatan dahsyat. Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ampunanberkahBulan RamadhanMarhaban Ya Ramadhanpersiapan RamadhanrahmatRajabRamadhansalafTamu Agung
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penggunaan Dalil dalam Istidlal
Tulisan selanjutnya Dalam Naungan Islam Semua Orang Bersaudara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?