Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Pseudo Science dan Ranjau Akidah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 November 2017 14:09 2:09 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 November 2017 14:09
Bagikan
Bagikan

Oleh: Dian Soekanto

 

SALIMUL Akidah adalah karakter utama seorang muslim.  Akidah yang selamat dari berbagai bentuk serangan kepercayaan dan ideologi lain. Selamat dari terselipnya kesyirikan atau keyakinan akan adanya kehebatan sesuatu yang melebihi kemahakuasaan Allah.

Akidah pondasi keimanan, Rasulullah Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam tidak merasa sia-sia menghabiskan waktu 13 tahun membangun pondasi ini.

Ketika kita meyakini kehebatan sesuatu atau seseorang sampai hati kita seperti terbutakan maka itu adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang masih salah dengan akidah kita.

Baca Juga

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka

Ranjau dan jebakan akidah banyak beredar dalam berbagai bentuk. Membuat kita mengagungkan sesuatu selain atau melebihi Dia Yang Maha Esa.

Salah satu ranjau di jaman teknologi ini, orang Islam seakan membutuhkan bukti ilmiah untuk menjustifikasi ajaran agama. Atau bahkan justru menuhankan teknologi. Ilmu bisa untuk mengokohkan keimanan, tapi bukan untuk menjustifikasi keimanan. Karena ilmu akan terus berkembang dan berubah sesuai penemuan baru, apakah berarti iman kita pun berubah mengikuti ilmu dan teknologi?

Baca: Indonesia Darurat Perang Pemikiran

Ingat broadcast jadul tentang Ka’bah sebagai superkonduktor? Itu contoh pseudo-science yang banyak sekali tersebar jaman sekarang. “berterimakasihlah kepada kaum muslimin karena selama mereka shalat dan thawaf maka dunia ini masih berputar.” Kedengarannya keren.

Tapi hoax seperti ini mungkin memang dibuat untuk mengganggu akidah kita, membuat kita lupa akan sifat-sifat Allah. Qiyamuhu Binafsihi, Qudrah, Iradah. Biar tak ada seorangpun di dunia ini yang menyembahNya, jika ia memerintahkan bumi untuk berputar maka bumi akan tetap berputar. Sebaliknya seandainya seluruh dunia bersujud padaNya namun mudah saja bagiNya untuk menghancurkan dunia seisinya.

Ranjau lain di bidang pengobatan.

Kesembuhan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Kita berobat adalah ikhtiar mencari kesembuhan. Tetapi kemudian kata ikhtiar atau wasilah ini sering dipakai sebagai tameng atau sebagai ujung tombak argumen saat kita menggunakan atau mempromosikan suatu produk.

Seakan-akan jika seseorang menolak menggunakan produk tsb berarti ikhtiar mereka belum cukup dan belum maksimal.

Sebuah produk pseudo science mengharuskan penggunanya menggantungkan kalung dengan bandul logam yang berpendar kemanapun mereka pergi. Sehingga ketika ratusan orang berada dalam satu ruangan memakai kalung yang sama anda mungkin mengira anda salah masuk ke lokasi shooting film sci-fi ala Star Wars. Apa bedanya dengan jimat dan isim yang dipakai generasi jaman dulu. Saatnya lah mengkaji ulang tauhid  kita.

Ketika kemudian ada bukti-bukti yang lebih ilmiah ataupun testimoni negatif yang mengingkari klaim produk yang kita jual, bahkan ketika sosok yang kita sanjung sebagai penemu produk tsb sudah ketahuan memalsukan semua gelarnya, kita justru marah dan berusaha mempertahankan dengan berbagai cara dan argumen. Inilah ranjau itu. Mengapa harus marah jika kita tahu yang menyembuhkan itu Allah bukan produk kita?

Bahkan tiap obat pun selalu harus disertakan daftar efek samping dan kontraindikasinya. Kenapa produk-produk ajaib ini seolah begitu sempurna tanpa cela?

Baca: Neo-Ghazwul Fikri

Banyak contoh ‘lucu’ dan juga menyedihkan. Ada teman yang memberi anaknya suplemen yang diklaim bisa ‘menyembuhkan’ autisme, cerebral palsy dan tuna rungu. Suplemen yang sama oleh penjual lain diklaim bisa membantu stamina lelaki dewasa. Si anak (7 tahun) justru mendapat efek samping yang mungkin diharapkan oleh para lelaki dewasa ini. Kondisi neurologis lainnya tidak ada kemajuan. Anak yang lain justru kejangnya bertambah setelah mengkonsumsi suplemen tsb. Tentunya testimoni seperti itu tidak akan dimasukkan ke dalam brosur distributor.

Teman-teman saya ini bukan orang kaya. Mereka mengorbankan budget untuk hal lain yang lebih penting seperti terapi demi membeli produk dewa ajaib tsb karena termakan bujuk rayu dan testimoni bombastis.

Kita lalu dengan ringannya menuduh pihak yang mengungkapkan data dan fakta sebagai pesaing bisnis atau ingin menjatuhkan usaha sesamanya.

Benarkah? Ini juga bentuk ranjau. Kita diuji seberapa jauh kita menggantungkan nasib pada produk itu.

Kita tidak kemudian justru berpikir ulang akan motivasi kita dalam berjualan atau berobat. Kita lupa bahwa seharusnya niat kita semuanya adalah untuk ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kita tidak berhenti sejenak dan introspeksi apakah usaha kita ini berkah jika kita lakukan dengan membohongi orang demi keuntungan materi.

Yang pada akhirnya semuanya kita harus pertanggungjawabkan pada Al Hasib, Yang Maha Membuat Perhitungan

Kesimpulannya, ini mungkin, atau justru, berkaitan erat dengan akidah kita. Sudah selamatkah akidah kita?*

Aktivis Informasi dan Kekeluargaan

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ajaran agamaakidahideologykepercayaanMuslimPseudo Scienceranjau
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tantangan Golkar Pasca-Setnov
Tulisan selanjutnya Paus Fransiskus Kunjungi Myanmar, Tak Satupun Sebut kata “Rohingya”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Berita
31 Agustus 2026 20:47
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

18 April 2026 09:01
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?