Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Syiah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Desember 2017 11:32 11:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Desember 2017 11:25
Bagikan
Bagikan

SYEIKH Abdul Qadir al-Jailâni atau al-Kailâni (470-561 H / 1077-1166 M), yang di Indonesia lebih dikenal dengan kewaliannya atau karamahnya, memiliki sisi lain yang jarang diketahui –atau kurang diperhatikan- kebanyakan orang. Dalam lembaran sejarah, bersama gerakan Qadiriyahnya, beliau memiliki kontribusi cukup besar dalam mempertahankan akidah Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Pada masa hidupnya, memang sedang terjadi konflik antara Islam dan Kristen; konflik Syiah (diwakili Daulah Fathimiyah) dan Sunni (diwakili Daulah Abbasiyah), percekcokan madzhab fikih; demikian juga aliran-aliran menyimpang tumbuh subur (M. Shallâbi, Syeikh Abdul Qâdir al-Jailâni, 22). Kondisi sosial yang penuh konflik tersebut, tentu saja turut berpengaruh dalam menentukan pilihan peran strategisnya.

Salah satu bentuk konkret kontribusi ulama bermadzhab Hanbali ini, adalah menanggulangi secara aktif aliran-aliran menyimpang, contohnya: Syi’ah. Dalam bukunya yang berjudul “al-Ghunyah li Thâlibi Thârîq al-Haqqi Azza wa Jalla”  (1417: 179-184), beliau membahas tentang bagian-bagian Syi’ah serta beberapa penyimpangannya.

Baca: Abdul Qadir Jailani: Antara Akidah dan Karamahnya

Menariknya, Syeikh Abdul Qadir al-Jailâni dalam membantah ajaran-ajaran sesat Syi’ah, atau aliran menyimpang lainnya, tidak mengedepankan emosi, tapi argumentasi. Dr. Mâjid Ersan al-Kailâni dalam buku “Hâkadza Dhahara Jîlu Shalâhuddîn wa Hâkadza Âdat al-Quds” (1995: 236-238) menyebutkan bahwa Syeikh Pendiri Madrasah Qadiriyah ini melawan aliran-aliran menyimpang pada zamannya melalui diskusi atau dialog.

Diskusi yang dilakukan beliau –sebagaimana catatan Muhammad al-Shallâbi dalam “Ashru al-Daulah al-Zankiyah”- memiliki dua keistimewaan: Pertama, menggugurkan argumentasi lawan-lawan dialognya bukan dengan ideologi Sunni yang diyakininya, tapi justru menggunakan ideologi menyimpang mereka. Artinya, beliau menjatuhkan mereka, dengan senjata yang mereka sendiri. Kedua, luasnya pengetahuannya mengenai aliran-aliran menyimpang. Tak mengherankan jika beliau sangat berani berdiskusi dengan aliran-aliran menyimpang (2017: 406-407)

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Ketika membahas Syi’ah, Syeikh Abdul Qadir mengulas sejarah serta akidah mereka sembari menjelaskan dengan lugas perbedaan antara kelompok-kelompok yang moderat dengan kelompok yang bersembunyi dengan baju Syi’ah. Beliau menandaskan bahwa kelompok yang bersembunyi ini memiliki akar (ideologi) Yahudi (yaitu kelompok Rafidhah).

Sebagai contoh, berikut adalah catatan beliau: “Orang Yahudi berkata: tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluarnya Masih Dajjal serta turun dengan sebab dari langit. Kelompok Rafidhah juga berkata: tidak ada jihad fî sabîlillah hingga keluarnya Imam Mahdi dan ada panggilan dari langit.  Orang Yahudi mengakhirkan shalat Maghrib. Demikian juga kelompok Rafidhah juga mengakhirkannya. Orang Yahudi benci pada Jibril ‘alahis salam dan mengatakan bahwa ia adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Kelompok Rafhidah juga membeo bahwa Jibril ‘alaihis salam salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam padahal sebenarnya wahyu itu diturunkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.” (Abdul Qadir Jailani, al-Ghunyah, 184)

Syeikh Abdul Qadir al-Jailâni ini juga mengingkari kaum konservatif Syiah yang menyatakan bahwa ketiga khalifah rasyidin (Abu Bakar, Umar dan Utsman) tidak sah. Beliau menetapkan bahwa khilafah ketiganya berdasarkan mandat nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan Ali sendiri juga membaiat mereka.

Baca:  Sikap Panglima Shalāhuddin Al-Ayyubi Terhadap Syiah

Meski demikian, kritik-kritik yang dilontarkan beliau tidak sampai mengakibatkan permusuhan (fisik) seperti konflik yang terjadi di antara madhzab-madzhab yang lain. Beliau tetap komitmen dengan metode obyektif dan akhlak ulama, ini karena –sebagaimana riwayat At-Tadafi- bahwa ulama-ulama Syi’ah pernah mendatangi majelis Syeih Abdul Qadir, dan beliau berdialog mengenai akidah mereka.

Walau begitu, akibat sikap kritisnya ini, beliau sangat dibenci kalangan Syi’ah Rafidhah Bhatiniyah baik secara politik dan pemikiran. Pada tahun 914 H/1508 M misalnya, Syah Isma’il As-Shafawi saat menduduki (menaklukkan) Baghdad, dedengkot Syi’ah ini menghancurkan Madrasah Qadiriyah, kuburan beliau, serta menyakiti keluarga Kailani sehingga membuat mereka berpencar-pencar ke berbagai negeri. Kehebatan madrasah ini baru bisa dikembalikan di era Sultan Sulaiman al-Qanuni dari Daulah Utsmaniyah (Majid al-Kailâni, Nasy’ah al-Qadiriyah, 129)

Lebih dari itu, pada tahun 80-an seorang “muhaqqiq” (pemeriksa atau pengoreksi) yang dikenal sebagai seorang shufi terkenal di Iraq, ketika meneliti kitab “al-Gunyah” karya Syeikh Abdul Qadir, dengan sengaja menghapus bagian tentang pembahasan tercelanya Syi’ah (Arsyîf Multaqa Ahli al-Hadîts, III/8: 231) Bisa jadi, seorang “muhaqqiq” shufi itu adalah orang Syi’ah yang berusaha menghilangkan kritik Syeikh Abdul Qadir tentang Syi’ah, atau kemungkinan lain ia telah bersekongkol dengan orang Syi’ah untuk menghapus jejak tulisan beliau mengenai Syi’ah. Wallahu a’lam.

Terlepas dari itu semua, peran besar yang dimainkan oleh Syeikh Abdul Qadir (sebagaimana yang ditandaskan oleh Majid dan Shallabi) yaitu kontribusi efektifnya dalam melawan pemikiran (aliran) menyimpang, seperti: Syi’ah Konservatif Bahtiniyah dan lainnya; di samping itu mempunyai andil besar –meski tidak secara langsung- dalam meruntuhkan Daulah Fathimiyah Ubaidiyah di Mesir dan yang tak kalah penting adalah sebagai pelapang jalan bagi masuknya Shalahuddin (1138-1193 M) dalam ekspedisi pembebasan Mesir dari hegemoni Daulah Syiah Fathimiyah.

Oleh karena itu, jika mau mengambil pelajaran dari sisi lain sosok Abdul Qadir al-Jailani, maka umat Islam jangan hanya fokus pada sisi ke-shufi-an saja (yang belum tentu benar semuanya), tapi juga pada kegigihan beliau dalam melawan (memberantas) aliran menyimpang melalui dialog, pendirian madrasah, bahkan sampai ke tingkat negara dengan cara mendukung kebijakan pemerintah untuk mengatasi aliran menyimpang. Wallâhu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahli Sunnah wal Jama’ahal-Kailânialiran menyimpangASWAJADaulah AbbasiyahDaulah FathimiyahFatimiyahQadiriyahRafidhahShafawisunniSyeikh Abdul Qadir Jailanisyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menjaga Ikatan Batin dengan Murid
Tulisan selanjutnya Erupsi Gunung Agung, Penerbangan Dibatalkan, Rombongan Dai Naik Bus Silaturahim ke NTB

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?