Oleh: Fadh Ahmad Arifan
HARI guru Nasional 2017 diwarnai problem krisis Guru dan beratnya syarat CPNS bagi guru tidak tetap/honorer. Ijazah harus S-1, lulus sertifikasi dan berusia dibawah 33 tahun. Melihat nasib para guru, teringatlah saya diskusi hari guru Nasional di CNN Indonesia 2016. Nara sumbernya adalah Slamet rahardjo. Pria yang sering kita lihat di acara sentilan-sentilun ini masih aktif sebagai dosen di Pasca Sarjana IKJ.
Selain itu pernah menjadi dosen tamu di hadapan mahasiswa teater di Monash University, Australia. Beliau berkata kepada penyiar CNN, “Mengapa keadaan bangsa jadi begini? Karena pemimpinnya belum berjiwa guru.”
Lewat tulisan singkat ini, saya tidak tertarik membicarakan masalah tersebut. Biarlah kemendikbud dan Kemenpan RB yang mengatasinya. Guru tetaplah guru sampai kapanpun. Tidak ada istilah “mantan guru” dimata alumninya. Sekalipun ia berprofesi sebagai Guru bimbel. Di hari Guru Nasional 2017 tak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada guru Bimbel. Di tangan merekalah murid-murid mampu memahami isi materi pelajaran, lulus UN, menjuarai olympiade sains Nasional (OSN) hingga masuk ke Perguruan tinggi favorit seperti STAN.
Supaya tak dianggap mantan Guru, maka seorang Guru bukan hanya ia berilmu, punya sertifikat pendidik, dan disiplin. Ia perlu menjaga ikatan Batin dengan sang Murid. Ikatan batin dengan Murid bisa ditumbuhkan lewat 3 hal :
Pertama, perlakukan murid seperti anak sendiri. Dengarkan ia bicara maupun curhat masalah sensitif. Curhat adalah bagian pelepasan beban di dalam hati. Beban yang dipendam terlalu lama pasti membuat seseorang depresi bahkan berpotensi kena Stroke!.
Tidak semua murid bisa curhat kepada orang tuanya sendiri. Apalagi jika orang tuanya jarang di rumah. Berbahagialah bila seorang guru dipercaya murid sebagai tempat curhat. Satu hal yang perlu diingat, seorang guru wajib menghindari curhat lawan jenis. Khawatirnya bisa berlanjut ke Khalwat dan meniduri sang murid.
Kedua, berilah penghargaan atas prestasinya. Perhargaan berupa pujian hingga hadiah sesuai kemampuan finansial Guru. Murid kita bahagia walau diberi permen, Es Doger maupun ditraktir secangkir Kopi. Khusus pengasuh di pondok pesantren, cukup ngopi dengan sesama pengasuh. Jaga marwahnya, agar santrinya tetap tawadhu’.
Ketiga, doakanlah mereka. Dengan doa, segala hal bisa terjadi. Di kalangan NU, doa termasuk bagian dari tirakat guru. Termasuk hidayah untuk murid yang susah diajar di kelas. Barangkali tergugah hatinya. Barangkali yang awalnya malas berubah menjadi tekun belajar. Seorang guru pantang mendoakan yang jelek dan mengutuk murid. Mengutuk seorang murid termasuk perbuatan keji!. Maukah seorang guru dikenang sebagai “Sang Pengutuk”. Mari meniru Rasulullah saat di lempari batu oleh penduduk Thaif. Beliau tidak mendoakan yang jelek apalagi mengutuk. “Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku. Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu.” Begitulah doa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wassallam .
Dengan melakukan 3 hal diatas, ikatan batin dengan murid akan terjaga. Walau ia sudah berstatus alumni, ia tak sungkan silaturahim ke rumah. Minta saran saat memilih kemana ia akan berkuliah. Bukan tidak mungkin, ika di masa depan telah menjadi miliarder, alumni tersebut memberi gurunya gadget dan memberangkatkan umroh.*
Penulis adalah alumni Fakultas syariah UIN Malang