Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Menghidupkan Shalat dan Zikir di Saat Orang Lupa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Februari 2018 13:21 1:21 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2018 14:50
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

BETAPA utama zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di saat orang-orang lupa dengan menghidupkan zikir, tasbih, dan shalat. Sebagian sahabat menyenangi menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya dengan shalat dan zikir. Mereka menyebutnya sebagai sa’ah al-ghaflah (waktu lupa).

Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata, “Sebaik-baik waktu ghaflah adalah shalat pada waktu antara Isya dan Maghrib.” (Baihaqi). Disebutkan juga bahwa berdoa pada waktu ini (antara Maghrib dan Isya) tidak akan ditolak, artinya diijabah. Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa melaksanakan shalat setelah Maghrib enam rakaat, ia tidak bicara kejelekan pada waktu itu, maka baginya pahala ibadah sebanding dua belas tahun.” (H.R. Ibnu Majah Ibnu Huzaimah dan Tirmizi).

Dalam hadist riwayat Aisyah dijelaskan bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat dua puluh rakaat setelah Maghrib, maka Allah akan membangun baginya satu rumah di surga.” ( H.R. Ibnu Majah dan Tirmizi). Huzhaifah radiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendatangi Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, lalu aku shalat Maghrib bersama Nabi hingga shalat Isya.” (H.R. Nasa’i).

Abu Syaikh meriwayatkan hadis dari Zubair radiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah bersabda:

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

“Barangsiapa duduk berzikir setelah shalat Maghrib hingga shalat Isya, nilai duduknya itu sama dengan perang di jalan Allah. Dan barangsiapa duduk berzikir setelah shalat Subuh hingga matahari terbit, nilainya sama dengan pergi be juang di jalan Allah.”

Sayyidina Umar berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam dari sesuatu yang dapat menjaga iman seseorang.” Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menghendaki Allah menjaga imannya hingga hari kiamat, hendaklah shalat dua rakaat setelah shalat Maghrib sebelum bicara apa pun. Pada setiap rakaat, ia membaca Al-Fatihah satu kali, surat Al-Ikhlas enam kali, Al-Falaq satu kali, An-Nas satu kali. Kemudian ia salam setelah dua rakaat. Sungguh Allah akan menjaga imannya hingga hari kiamat.”

Ka’bu Al-Akhbar radiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Allah merasa bangga kepada malaikat dengan orang yang melakukan shalat setelah Maghrib dan Isya.”

Dari Ibnu Syakhin dan Al-Khatib, dari Tsauban radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mengitikafkan dirinya antara Maghrib dan Isya di masjid dengan berjamaah, dan tidak bicara apa-apa kecuali shalat dan membaca A1-Qur’an, maka adalah hak Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga.”

Manusia generasi salaf radiyaallahu ‘anhum biasa melakukan shalat di antara Maghrib dan Isya, sebab saat itu merupakan saat lupa dan sibuk dengan urusan dunia. Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menghidupkan waktu antara Zuhur dan Ashar, maka Allah akan menghidupkan hatinya pada hari ketika seluruh hati mati.”

Ibnu Umar sendiri mengaku bahwa ia biasa menghidupkan waktu antara Zuhur dan Ashar. Menurut Ibrahim Al-Nakha’i, para sahabat menyamakan nilai shalat antara Maghrib dan Isya dengan shalat antara Zuhur dan Asar.

Yang diceritakan di atas adalah kebiasaan kebanyakan ahli ibadah ketika mereka meng-qadha shalat malam yang tertinggal dengan melakukan shalat di antara Maghrib dan Isya. Mereka mengisolasi diri dari makhluk dan memutuskan waktu hanya untuk Allah. Inilah waktu yang amat baik dan mulia untuk berkhalwat dengan Tuhannya.

Disunatkan melakukan itikaf di masjid antara Zuhur dan Ashar untuk melaksanakan shalat dan zikir. Hendaklah seseorang menyatukan antara itikaf dan menunggu waktu shalat, kecuali kalau ia pada waktu itu biasa tidur (istirahat) siang; tidurlah pada waktu itu agar ia mendapat kekuatan untuk melakukan shalat malam.

Adapun kegiatan setelah shalat Ashar sampai tiba shalat Maghrib adalah zikir, istigfar, tafakur tentang alam malakut, membaca Al-Qur’an, sebab pada waktu itu shalat sunat dilarang. Mari kita simak riwayat berikut:

Hasan meriwayatkan bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan berdasarkan apa yang beliau dengar dari Tuhannya Azza wa Jalla. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Wahai anak Adam, zikirlah kamu kepada-Ku setelah shalat Subuh, meskipun hanya sesaat, dan setelah shalat Ashar, meskipun sesaat. Aku mencukupkan untukmu waktu selain di antara keduanya.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: “Bertasbihlah kamu dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari. Dan dan sebagian malam, bertasbihlah kamu; demikian juga di ujung siang. Mudah-mudahan kamu mendapat keridhaan-Nya.” (Thaha: 130).

Adapun shalat malam dilakukan pada saat semua manusia lupa kepada Tuhan, kecuali orang yang dipilih Allah untuk bermunajat dan ber-taqarrub kepada-Nya. Oleh karena itu, pada setiap zaman hanya sedikit orang yang diberi karunia oleh Allah untuk dapat melaksanakan zikir kepada-Nya.

Diriwayatkan dari Asma binti Yazid radiyallahu ‘Anha bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Pada hari kiamat manusia dikumpulkan dalam satu pelataran. Terdengarlah suara yang memanggil: ‘Di manakah orang-orang yang menjauhkan badannya dari tempat tidur’. Maka berdirilah mereka. Mereka ternyata hanya sedikit. Lalu mereka dimasukkan ke surga tanpa dihisab. Setelah itu, manusia yang lainnya diperintahkan untuk dihisab.” (H.R. Baihaqi).

Simak juga riwayat berikut:

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.; ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Umat-umatku yang mulia adalah para pembaca Al-Qur’an dan orang-orang yang mendawamkan shalat malam (shalat Tahajud).” (H.R. Ibnu Abi Dunya dan Baihaqi).

Karena begitu pentingnya shalat malam tetapi begitu beratnya terhadap diri, terutama jika dilakukan tengah malam, maka pahalanya besar sekali bagi siapa saja yang dapat melakukannya dengan mengharap pahala dari Allah.

Anas radiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Shalat di masjidku ini sebanding dengan sepuluh ribu kali shalat di masjid yang lain, sedangkan shalat di Masjidil Haram sebanding dengan seratus ribu kali shalat di masjid yang lain. Adapun shalat di tanah ribat (tempat yang dipakai para mujahidin di jalan Allah) sebanding dengan seribu kali shalat di masjid yang lain. Tetapi lebih banyak dari pahala tersebut adalah dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang pada waktu tengah rnalam, yang tidak ia laksanakan kecuali mengharap pahala dari Allah.” (H.R. Abu Syaikh dan Ibnu Hibban dalam kitab Al-Tsawab).

Adapun menekuni shalat Dhuha merupakan amal yang amat dituntut dan paling utama, sebab shalat Dhuha juga dilaksanakan pada saat manusia lupa kepada Tuhan. Jika mampu melaksanakannya, kita dapat menambah-nambah kebaikan dan berkah. Jika tidak bisa, tidaklah apa-apa. Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.

Dalam riwayat berikut disebutkan:

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kekasihku Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara; aku tidak boleh meninggalkannya: Pertama, aku tidak boleh tidur kecuali di atas bilangan ganjil. Kedua, aku tidak boleh meninggalkan dua rakaat Dhuha, sebab shalat ini adalah shalatnya orang-orang yang kembali kepada Tuhan. Ketiga, aku harus selalu melaksanakan puasa tiga hari setiap bulan.” (H.R. Bukhari Muslim).

Abu Darda radiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa melaksanakan dua rakaat shalat Dhuha, ia tidak akan ditulis dari sebagian orang-orang yang lupa. Barangsiapa melaksanakan empat rakaat Dhuha, ia akan dituliskan sebagai bagian dari orang-orang yang beribadah (ahli ibadah). Barangsiapa melakukan shalat Dhuha dengan enam rakaat, maka dipenuhi keperluan hidupnya hari itu juga. Dan barangsiapa yang melakukannya dengan delapan rakaat, Allah akan mencatatkannya sebagai bagian dari orang-orang yang taat.”

Tidaklah berlalu suatu hari atau malam, kecuali bagi Allah, ada suatu anugerah dan sedekah (pemberian), yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Tidak ada anugerah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang lebih utama daripada “ilham” untuk dapat berzikir kepada-Nya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa amal yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah adalah seseorang yang bermeditasi dengan Tuhannya sambil meninggalkan tempat-tempat yang tiada berguna dan dapat membawa kelalaian kepada Allah, lalu ia mensucikan Allah, memuji-Nya, dan mengagungkan-Nya.*Dr. Usman Sa’id Sarqawi, dari bukunya Zikir Itu Nikmat.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:sa'ah al-ghaflahshalat antara Dhuhur dan Asharshalat antara Maghrib dan IsyaShalat dhuhashalat malam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Pelaku LGBT Harus Dibantu agar Normal Kembali”
Tulisan selanjutnya Kekerasan atas Tokoh-tokoh Agama, Waspadai Upaya Adu Domba

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?