Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Pancasila Menolak Ilmu Sekuler

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Februari 2018 05:37 5:37 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Februari 2018 05:29
Bagikan
Dalam Sidang Konstituante 1957, Mohammad Natsir sudah memperingatkan bahasa sekularisme
Bagikan

oleh: Dr Adian Husaini

 

PADA 27 Desember 2017 lalu, saya mendapat undangan dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, untuk menjadi pembicara dalam sebuah Seminar Nasional tentang Keislaman dan Kebangsaan. Pembicara lainnya yang diundang hadir adalah Prof. Dr. Mahfud MD dan Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, guru besar Ilmu Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, serta Danrem Yogyakarta.

Dalam seminar itulah, saya pertama kali mengenal sosok Prof. Sudjito, yang dikenal juga sebagai pakar tentang Pancasila. Prof. Sudjito memaparkan uraiannya tentang Pancasila dengan judul: “Memposisikan Pancasila sebagai Paradigma Ilmu”. Beliau tampil pada sesi pertama bersama wakil dari Korem Yogyakarta. Sedangkan saya dijadwal tampil pada sesi berikutnya bersama Prof. Mahfud MD.

Tema itu menarik. Karena itu, saya dengan tekun menyimaknya. Sejumlah poin penting yang disampaikan Prof. Sudjito diantaranya adalah bahwa: (a) Ilmu adalah lentera kehidupan (b) Ilmu sebagai institusi pencarian kebenaran, dinamis, terus berkembang, dan (c) ilmu bersifat amaliah, yakni berdwitunggal dengan amal.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Baca: Tidak Ada Tradisi Sekuler dalam Islam

Prof. Sudjito menggariskan bahwa epistemologi keilmuan yang berparadigma Pancasila adalah yang mengakui bahwa asal-usul dan hakikat ilmu adalah dari Tuhan, berproses dalam kehidupan manusia, bermuara pada pertanggungjawaban kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka, karakteristik ilmu yang berparadigma Pancasila adalah: (a) bersifat teistik, obyektif, dan universal (sila 1), (b) bersifat humanistik, naturalistik  (sila 2), (c) Metode keilmuan holistik (sila 3), (d) Kebenaran diperoleh melalui konstruksi sosial-religius, musyawarah-mufakat (sila 4), dan (e) Keadilan sosial berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (sila 5).

Lebih jauh Prof. Sudjito mengingatkan, bahwa saat ini Pendidikan Ilmu di Perguruan Tinggi masih menghadapi permasalahan dan tantangan antara lain: (a) Kurikulum masih berkarakter liberalistik, individualistik, dan sekuler (b) adanya pengaruh narkoba dan ideologi ekstrim di kampus yang perlu ditanggulangi (c) pengaruh model-model pendidikan Barat yang berkarakter rasionalistik semata, tetapi nihil moralitas kemanusiaan, dan (d) belum semua dosen ber-Pancasila.

Terakhir, menurut Prof. Sudjito, Perguruan Tinggi diharapkan menghasilkan lulusan yang cinta kepada Pancasila, paham hukum sebagai order (tatanan) dan mampu mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat. Dalam pandangannya, ilmuwan professional adalah yang bermoral Pancasila, berwawasan kebangsaan, dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Secara umum, pandangan Prof. Sudjito tentang Pancasila itu menawarkan keserasian antara agama dan Pancasila. Sosok ilmuwan yang taqwa sebagai cita ideal ilmuwan Indonesia mensyaratkan penerapan ajaran agama. Setelah seminar, kami sempat berbincang singkat, dan beliau menegaskan bahwa orang yang ber-Pancasila adalah orang yang religius.

Saya merasa ada kesepahaman dengan Prof. Sudjito dalam soal hubungan antara Islam dengan Pancasila. Pernyataan beliau bahwa pengajaran ilmu di Perguruan Tinggi masih berkarakter liberalistik, individualistik, dan sekuler, perlu kita garisbawahi. Sebagai akademisi senior di sebuah universitas besar di Indonesia, pernyataan itu menyiratkan keprihatinan yang mendalam. Apalagi, UUD 1945 menegaskan bahwa pemerintah harus menyelenggarakan pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. Ilmu-ilmu sekuler tidak akan membawa mahasiswa menuju pada iman, taqwa, dan akhlak mulia.

Baca: 57 Tahun Pidato Natsir Tentang Sekularisme (1)

Bahaya ilmu sekuler

Cendekiawan Kristen Harvey Cox dalam buku terkenalnya, The Secular City, menjelaskan bahwa sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika; pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini. (Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one).

Buku Harvey Cox diawali dengan bab “The Biblical Source of Secularization”. Ia mengutip pendapat teolog Jerman Friedrich Gogarten: “Secularization is the legitimate consequence of the impact of biblical faith on history.” Bahwa sekularisasi adalah akibat logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah.  

Dalam bukunya, Christianity in World History, Arend Theodor van Leeuwen, mencatat, bahwa penyebaran Kristen di Eropa membawa pesan sekularisasi. Kata Leeuwen, “Christianization and secularization are involved together in a dialectical relation.”  Maka, menurutnya, persentuhan antara kultur sekular Barat dengan kultur tradisional religius  di Timur Tengah dan Asia, adalah bermulanya babak baru dalam sejarah sekularisasi. Sebab, kultur sekular adalah hadiah Kristen kepada dunia.(Christianity’s gift to the world). (Pendapat Leeuwen dikutip dari buku Mark Juergensmeyer, The New Cold War?, (London: University of California Press, 1993).*>>> klik (BERSAMBUNG)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:Adian HusainiCAPcatatan akhir pekanHarvey CoxMajelis KonstituanteMohammad Natsirpancasilapancasila dan IslamsekularismesekulerSudjito AtmoredjoThe Secular CityUGMUniversitas Gajah Mada
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Solidaritas Peduli Jilbab Yogyakarta Memberi Edukasi Hijab Syar’i
Tulisan selanjutnya Pasukan Israel Menyerang Kamp Bethlehem dan Tahan Orang-orang Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?