Hidayatullah.com– Dosen Ushul Fiqih di Fakultas Ekonomi dan Bisnis IAIN Bukittinggi, Sumatera Barat, Gusrizal Gazahar, mengaku tidak terganggu dengan mahasiswi yang mengenakan cadar di kelasnya. Kegiatan belajar dan mengajar juga tidak terganggu.
“Lancar saja,” ucap Gusrizal kepada hidayatullah.com, Jumat pekan kemarin.
Kalau dikhawatirkan ada mahasiswi bercadar yang menyamar jadi joki, dosen perempuan atau teman-temannya yang perempuan, kata dia, bisa mengeceknya. Atau kalau tidak ada dosen perempuan, dosen laki-laki juga boleh mengeceknya.
“Hindun binti Utbah datang ke hadapan Nabi, dia buka cadarnya, ‘Ya Rasulullah ana (saya) Hindun binti Utbah’. Dia tutup lagi (cadarnya),” tutur Ketua MUI Sumatera Barat ini mencontohkan.
Baca: Anggota DPRD Sumbar Sayangkan Larangan Cadar IAIN Bukittinggi
Kemudian kalau alasan larangan bercadar karena pedagogik dosen, Gusrizal mempertanyakan, “Apakah betul memang kalau kita membuat artikulasi harus ditampakkan lidah kita berkelok-kelok?”
Ia melihat mahasiswi yang bercadar punya semangat belajar yang lebih dan sikapnya sangat baik.
“Makanya saya katakan (kepada mahasiswi itu), Anda bercadar terus saja. ‘Katanya orang tidak bisa melihat wajah saya, Pak’. Saya bilang memangnya siapa yang pengen melihat wajah kamu? Suami kamu? Kalau laki-laki yang pengen lihat-lihat wajah perempuan yang bukan mahramnya, bukan suaminya itu kegatelan itu,” katanya.
Ia menyarankan pimpinan kampus IAIN Bukittinggi agar toleran terhadap mahasiswi dan dosen yang bercadar.
Rektor IAIN Bukittinggi Ridha Ahida sejak Jumat (16/03/2018) sudah berkali-kali dihubungi hidayatullah.com untuk diminta tanggapan atau klarifikasi terkait kasus pelarangan cadar di kampus tersebut, baik lewat telepon maupun pesan WhatsApp, namun Ridha tak kunjung menyampaikan penjelasan. Pada Senin (19/03/2018) setidaknya sudah tiga kali nomor kontak sang rektor dihubungi. “Ada tamu,” ujarnya singkat saat sempat menjawab panggilan telepon media ini, Senin siang.* Andi
Baca: MUI Minta IAIN Bukittinggi Tiru UIN Suka Cabut Larangan Cadar