Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

“Tafsir” Sains

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 April 2018 15:03 3:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 April 2018 15:30
Bagikan
[Ilustrasi] Sains Islam.
Bagikan

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

BERBICARA sains dan agama, tampaknya sudah tidak relevan lagi membuat garis demarkasi dikotomis atau dualis. Kini, banyak ilmuan meningkatkan diskusinya sampai pada tahap upaya bagaimana penyatuan antara sains dan agama. Gagasan itu popular dengan istilah ‘integrasi’.

Sejak lima belasan tahun terakhir di dalam beberapa perguruan tinggi Islam Negeri (UIN) berkembang diskusi integrasi ilmu, dengan gaya dan modelnya sendiri. Jadi, diskusinya masih relatif baru, padahal dalam tradisi Islam hal itu telah benar-benar mapan ribuan tahun.

Ternyata kemungkinan karena inspirasinya berasal dari ilmuan Barat modern yang pro integrasi ilmu. Antara lain yang dirujuk; Holmes Rolston, Ian G. Barbour, dan lain-lain.

Holmes mengatakan “antara teori dalam sains dan teologi dalam agama lebih banyak memiliki kesamaan dari pada perbedaannya” (Holmes Rolston, Ilmu dan Agama Sebuah Survey Kritis, hal.1).

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Baca: Indonesia Siap Sumbang dalam Sains dan Teknologi di Dunia Islam

Sementara Barbour percaya bahwa Tuhan memiliki peranan dalam perubahan-perubahan alam semesta (Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama, hal. ).

Dua ilmuan tersebut memiliki dua latar; Barat dan Kristen. Holmes sendiri pernah menjadi pendeta.

Sudah pasti berangkat dari pengalaman itu. Pertanyaannya, bagaimana perguruan tinggi Islam mengaplikasikan model integrasi itu ke dalam dunia Islam.

Ternyata persoalannya berada dalam epistemologinya yang berpengaruh ke dalam pendekatan studi. Gagasannya masih berkisar pada “bagaimana”. Yakni bagaimana Islam ‘berdialog’ dengan alam. Apakah dialog itu bermaksud Muslim melihat alam dengan cara dan pengalaman Barat? Ini patut dipertanyakan.

Di dalam dunia tradisi Islam, diskusi sains dan agama serta cara melihat alam sudah pada tingkat metafisika. Hubungan sains dan agama bukan wacana atau isu, tetapi telah menjadi keyakinan epistemologis yang tsabit setiap Mu’min. Karena itu, kosmologi Islam itu sangat metafisis. Harus diakui, sains modern masih berjibaku pada alam fenomena (alam fisik/hissiyyah).

Prof. Wan Mohd Nor mengatakan:

“Menarik untuk diperhatikan bahwa manusia modern sekarang lebih terfokus pada alam yang terakhir (alam fenomenal) dan telah membelanjakan banyak uang untuk menguak angkasa raya dengan harapan bisa mengetahui asal-mula dan tujuan diciptakannya manusia serta alam yang ditempatinya” (Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, hal. 104).

Baca: Dengan Islamisasi Sains Diharapkan Orang Indonesia Makin Adil dan Beradab

Islam memadang alam fenomenal itu dengan cara yang metafisik. Ia harus dilihat dengan parameter ketuhanan. Hal ini berlaku dalam tradisi para ulama, khususnya para sufi.

Ibnu Athoillah al-Sakandari dalam untaian kata hikmahnya mengatakan:

أنت مع الأكوان مالم تشهد المكون فإذا شهدته كانت الأكوان معك

“Engkau terikat oleh alam (fenomenal) selama engkau belum bisa ‘melihat’ penciptanya. Apabila kamu mampu ‘melihat’ penciptanya, maka alam ini akan tunduk kepadamu.”

Maksudnya, untuk mengetahui rahasia alam ini, kita perlu mengenal Allah Sang Pencipta. Hal ini telah menjadi ‘rumus’ pada ilmuan Muslim terdahulu. Bahwa meneliti alam sudah pasti dengan menggunakan pendekatan dan ‘kaca mata’ Islam. Alam bukan sekedar benda mati, benda fisik.

Namun ia adalah tanda kekuasaannya. Atau ‘ayat’ Allah Subhanahu Wata’ala.

Dengan cara seperti itu, imam al-Ghazali mengatakan orang yang telah memahami hikmah-hikmah rahasia di balik alam ini akan menjadi menancap keimanannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Termasuklah dalam meneliti jiwa manusia (psikologi).

Baca: Din Syamsuddin Nilai Pentingnya Islamisasi Sains

Ia mengatakan: “Jika kamu melihat jiwa dirimu makan kamu akan menemukan keajaiban dan tanda-tanda kekuasan-Nya” (Imam al-Ghazali, Al-Hikmah fi Makhluqatillah, hal. 3 dan 52).

Cara melihat itu yang oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai cara pandang Islam (Islamic Worldview). Syed Naquib al-Attas membuat qiyas menarik tentang alam ini.

Menurutnya, alam ini merupakan kitab yang berisi ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala. Jika al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat yang disebut juga dengan tanda, maka seluruh ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala (alam) juga merupakan kitab yang berisi tanda-tanda yang bertujuan menunjukkan bahwa Tuhan itu ada (Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, hal. 105).

Dunia ini merupakan bentuk lain dari wahyu Allah Subhanahu Wata’ala, seperti al-Qur’an. Perbedaannya terletak pada keadaan bahwa alam ini merupakan sesuatu yang diciptakan. Ia tampil dalam pelbagai bentuk yang berbeda-beda, yang berfungsi sebagai simbol wujud yang secara kontinu diartikulasikan melalui Kalam Tuhan yang kreatif (Syed M. Naquib al-Attas, Islam and the Philosophy of Science, hal. 27).

Baca: Desekularisasi Ilmu Pengetahuan dan Sains [1]

Alam merupakan ayat (tanda kekuasaan-Nya), yang berguna bagi manusia untuk mengenal-Nya. Jadi, perlakuan alam dalam sains Islam seperti seorang yang membaca al-Qur’an. Dunia memiliki banyak tanda-tanda yang samar dan mungkin bagi sebagian orang tidak menarik, khususnya bagi orang yang tidak memiliki intelektualitas dan disiplin spiritual. Bagi mereka, dunia ini adalah benda fisik, mati dan bukan bagian dari ‘wahyu’/ayat Allah.

Sementara bagi orang yang memiliki intelektualitas ditambah pengalaman spiritual akan mampu melampaui dunia fenomena itu sampai ia menyaksikan (syuhud) atau merasakan (dzauq) rahasia di balik alam itu.

Selanjutnya, Syed al-Attas menerangkan, membaca alam itu ada adabnya. Sehingga pengkajian dan pemanfaatan alam yang diiringi kesadaran spiritual yang tinggi akan menciptakan sikap bertanggung jawab.

Dengan demikian, metodologi sains Islam dapat disamakan dengan ta’wil dalam ilmu tafsir al-Qur’an. Dengan mengasumsikan bahwa alam syahadah/alam thabi’ (alam fisik), merupakan kitab Kauniyah Allah. Dalam alam thabi’ ini terdapat banyak sekali ayat-ayat (tanda kekuasaan ) Allah.

Memahami alam semesta ini dengan mentakwil sebagaimana mentakwil kitab al-Quran. Takwil terhadap alam semesta ini sebagaimana berlaku dalam al-Qur’an harus berdasarkan tafsir. Susunan materi dalam alam semesta juga dianalogikan dengan susunan dan sistem kata dalam al-Quran.

Baca: Islam Tak Mengenal Pemisahan Ilmu Agama dengan Ilmu Umum

Dengan demikian, maka dapat dihasilkan suatu konsep-konsep sains. Dalam proses takwil (penyelidikan sains), diperlukan proses tafakkur (sebagaimana dijelaskan oleh imam al-Ghazali di atas).

Tafakkur merupakan penelitian (research). Dari tafakkur dengan proses mujahadah nafsu (memerangi hawa nafsu), maka seorang saintis akan mendapatkan apa yang disebut discovery.
Sehingga dengan perspektif seperti ini, maka seorang saintis Muslim sama dengan ahli tafsir (ta’wil).

Jika ahli tafsir bekerja menggali, menemukan, dan menampakkan makna yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an, maka seorang saintis alam, menggali, menemukan, dan menampakkan hakikat tersembunyi dari suatu realitas alam.

Dijelaskan oleh imam al-Ghazali bahwa jika seorang bertafakkur terhadap alam semesta, maka akan tersingkap banyak rahasia, yang ia gambarkan bagaikan suatu bangunan rumah yang di dalamnya tersedia perabotan yang diperlukan. Tafakkur tidak lain dengan cara melakukan riset.

Dengan demikian, terungkap bahwa seorang researcher (peneliti/periset) sains alam haruslah orang yang memiliki adab kepada diri dan Tuhannya. Sebagaimana ulama-ulama tafsir dahulu yang juga seorang yang mujahidu al-nafs (memerangi hawa nafsu) melalui tashfiyatul qalb (penjernihan hati). Karena posisi pandangan hidup (worldview) itu penting dalam soal ini, maka yang diperlukan adalah Islamisasi sebagaimana pandangan Syed M Naquib al-Attas.*

Penulis adalah dosen IAI Darullughah Wadda’wah Bangil

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabagamaAl Qur’analam semestaAllahbukti kebenaran al-Qur'ancara pandang IslamHolmes RolstonIan G. BarbourIbnu Athoillah al-Sakandariilmuilmu pengetahuanilmuan Barat modernImam Al Ghazaliintegrasiintegrasi ilmuislamic worldviewmetafisikaperguruan tinggi islamsainssains dan agamaSains islamSyed Muhammad Naquib al-Attastafsir al-Qur’anwahyuWan Mohd Nor
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bahrain Temukan Ladang Minyak Terbesar
Tulisan selanjutnya Resmi! Bioskop Amerika Dibuka Di Saudi Dua Pekan Mendatang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?