Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Sakit Bukan Penghalang Perjuangan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Mei 2018 07:35 7:35 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Mei 2018 10:00
Bagikan
Bagikan

MESKI sakit bagi kebanyakan orang menjadi penghalang perjuangan, namun tidak bagi ulama karismatik ini. Di akhir hayatnya, beliau menderita sakit yang begitu parah, namun sakit yang mederanya sama sekali tak menghalanginya untuk berjuang dalam pendidikan, dakwah dan kepenulisan. Beliau adalah Imam Syafi’i rahimahullah (150-204 H/ 767-819).

Dalam tesis magister berjudul “Manhaj al-Imâm al-Syâfi’i fî Tafsîr Âyât al-Ahkâm” (1407: 127, 128), Muhibbuddin Abu al-Sajjan menceritakan dengan sangat menarik bagaimana sakitnya Imam Syafi’i menjelang wafatnya. Menjelang meninggal, Imam yang dikenal dengan buku  “al-Risâlah” ini didera penyakit wasir (ambien) yang parah.

Rabi’ bin Salman bertutur, “Beliau didera sakit parah. Saat berkendara, darah keluar hingga memenuhi celana panjang, kendaraan dan khuf (teromapah) nya.” Darah yang mengucur deras menunjukkan bahwa sakitnya begitu parah. Sementara Yunus bin Abd al-A’la memberi kesaksian, “Belum pernah aku melihat seseorang yang menghadapi rasa sakit seperti yang diderita Syafi’i rahimahullah.” Bisa dibayangkan betapa menderitanya Imam Syafi’i saat itu.

Suatu ketika, Muzanni –salah satu muridnya- membesuk Imam Syafi’i saat sedang sakit yang kemudian mengantarkan pada kematiannya, ia bertanya, “Wahai ustadz! Bagamanai kabarmu pagi ini?” Imam yang dikenal dengan karya “al-Umm” ini pun menjawab, “Kondisiku pagi ini akan meninggalkan dunia, berpisah dengan saudara-sauadaraku, menenggak gelas kematian, akan datang bersua Allah dengan amal-amalku.” Dari jawaban beliau, sama sekali tidak tersirat putus asa dalam menghadapi cobaan yang sedang dihadapi.

Baca: Keikhlasan, Penentu dalam Barisan Dakwah (1)

Menariknya, dalam buku “Manâqib al-Syâfi’î” (1970 :291) karya Imam Baihaqi ragimahullah,  disebutkan penuturan Rabi’ bin Salman tentang Imam Syafi’i, bahwa selama empat tahun mengalami sakit, beliau mampu mendiktekan seribu limaratus lembar catatan; mengeluarkan kitab ‘al-`Umm’ sebanyak dua ribu lembar, serta kitab-kitab Sunan  dan lain sebagainya, semuanya dicapai dalam jangka empat tahun.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Ini berarti, dalam kondisi sakit sekalipun beliau tidak pernah letih untuk tetap melakukan kegiatan pengajaran, bahkan terlihat betapa produktifnya beliau dalam masalah penulisan. Bila saat sakit saja beliau begitu produktif, lalu bagaimana ketika beliau dalam kondisi bugar dan sehat? Ini patut diteladani bagi setiap orang yang merasa terbebani atau terhalangi dengan sakit yang sedang menimpa. Sebab, Imam Syafi’i telah memberi contoh bahwa sakit bukanlah halangan dalam perjuangan.

Pertanyaan kemudian: apa rahasia kegigihan imam Syafi’i yang tetap berjuang dan semangat meski dalam kondisi sakit? Salah satu jawabannya adalah beliau adalah orang yang begitu piawai dalam masalah menjaga waktu dan sangat menghormati ilmu. Dalam buku “Qîmah al-Zaman ‘Inda al-Ulamâ’” (Abu Ghuddah: 29) digambarkan bahwa beliau begitu bernafsu dalam menuntut ilmu. Waktu tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja. Ketika beliau ditanya, “Bagaimana Anda menuntut ilmu?” Beliau menjawab, “Bagaikan seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya.”

Baca: Nikmatnya Sakit Imam As Syafi’i

Bisa dibayangkan, mencari ilmu bagai ibu yang kehilangan anak satu-satunya, menunjukkan bahwa beliau begitu antusias, tidak menyia-nyiakan waktu, fokus hingga tercapai keinginannya walaupun menghadapi berbagai halangan dan rintangan.

Pada akhirnya, memang beliau wafat pada malam Jum’at setelah makan malam terakhir bakda shalat Maghrib di akhir bulan Rajab dan beliau dikubur di pemakaman Qurasyiyin di Muqaththam di antara kubur Abdullah bin Abdul Hakam rahimahullah.

Meski telah meninggal dunia, namun karya-karyanya akan senantiasa hidup dan abadi. Dari beliau bisa diambil pelajaran berharga: bahwa sakit bukanlah menjadi penghalang perjuangan, justru itu menjadi pemantik perjuangan yang tidak pernah padam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-Risâlahambient Kitab al-Umm Manâqib al-Syâfi’îdakwahimam syafi'ikaryamenulisPenghalang PerjuanganperjuangansakitTafsîr Âyât al-Ahkâmulamawasir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Persatuan Umat Kunci Pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina
Tulisan selanjutnya Direktur PTKI Kemenag Tegaskan Peran Islam dalam NKRI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?