Hidayatullah.com–Lebih dari 1.500 pengungsi dan migran telah tewas saat berusaha menyeberangi Laut Mediterania ke Eropa dalam tujuh bulan pertama tahun 2018. Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa (PBB), UNHCR menyatakan lebih dari setengah dari jumlah migran itu tewas pada bulan Juni dan Juli.
Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menyatakan tingkat kematian meningkat meski ada penurunan jumlah migran yang tiba di pantai Eropa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“UNHCR meminta perhatian terhadap bencana perdagangan manusia, mendesak negara dan otoritas di sepanjang rute transit untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk membongkar dan mengganggu jaringan penyelundup”, kata Vincent Cochetel, Utusan Khusus UNHCR untuk Mediterania.
Baca: Jumlah Imigran yang Tewas di Mediteranian Capai 10 Ribuan
Sekitar 60.000 migran telah melintasi Mediterania sejak Januari, sekitar setengah jumlah orang pada periode yang sama di tahun 2017.
“Untuk menyelamatkan nyawa di laut, kita harus menggunakan tindakan yang tepat dan perlu untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang mencari untung dari eksploitasi manusia yang rentan,” tambahnya.
UNHCR menyatakan bahwa para pedagang manusia menggunakan “kapal yang semakin tidak layak dan rentan. Kapal itu dijejali dengan orang yang mencoba menyeberangi Laut Tengah ke Eropa.
“Kapal-kapal ini kemudian dibiarkan berlayar di laut dengan harapan penyelamatan akan datang tepat waktu,” kata UNHCR dikutip AFP.
Baca: Inggris: Imigran yang Diselamatkan dari Mediterania Harus Dipulangkan ke Negeri Asal
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Italia dan Malta telah menutup pelabuhan mereka dari kapal penyelamat LSM, membuat migran terdampar di laut dengan putus asa di kapal.
“Dengan begitu banyak nyawa yang dipertaruhkan, penting bagi kami untuk memberikan kepercayaan kepada awak kapal bahwa mereka akan mampu membawa penumpang yang diselamatkan, dan dengan demikian memastikan bahwa prinsip lama yakni menyelamatkan orang-orang yang tertindas di laut tetap dilindungi,” kata Cochetel.
Tahun 2018, Spanyol telah menjadi pelabuhan masuk utama bagi para migran ke Uni Eropa dengan lebih dari 23.500 pendatang baru. Menurut UNHCR, jumlah migran itu lebih banyak dari jumlah total pendatang tahun 2017. Spanyol kini menjadi lebih favorit daripada Italia.
Sebagai perbandingan, Italia telah menerima kedatangan sekitar 18.500 migran pada tahun ini, dan Yunani menerima 16.000 migran. Jumlah penduduk Suriah mencapai 13,5%dari semua pendatang baru melalui laut ke Eropa. Warga negara Suriah merupakan kelompok negara terbesar asal migran.*