Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Kaya untuk Dakwah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Oktober 2018 06:51 6:51 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Oktober 2018 06:51
Bagikan
Bagikan

ISLAM tidak pernah melarang pemeluknya untuk menjadi kaya atau memerintah mereka hidup miskin. Semasa nabi masih hidup, kondisi para sahabat sangat bervarisi. Ada yang kaya, sedang-sedang saja dan ada yang miskin.

Menariknya, dari hayat mereka pembaca bisa membaca secara cermat bahwa yang menjadi soal adalah bukan pada kaya atau miskinnya. Mereka menjadi bernilai ketika kekayaannya dipergunakan untuk kepentingan dakwah dan kemiskinannya tidak sampai membuatnya  berpaling dari dakwah.

Pada tulisan ini, penulis akan berfokus pada sahabat-sahabat yang dikenal kaya raya sekaligus sangat peduli dakwah. Kekayaan yang begitu melimpah tidak membuat mereka silau harta. Justru, harta yang dimiliki dikontribusikan untuk kepentingan dakwah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu misalnya, sebelum memeluk Islam, beliau terhitung sebagai orang kaya. Hartanya saat itu sebesar 40 ribu dirham. Belum lagi harta lain yang dihasilkan dari jalur bisnis.

Harta dan kekayaan yang beliau punya, saat Islam disumbangkan semuanya di jalan Allah. Georgie Zeidan  dalam buku “Tārikh al-Tamaddun al-Islāmy” (2018: V/17) mencatat hal menarik. Para khalifah –meski kaya—hidupnya bukan semata untuk memperkaya diri. Tapi disalurkan untuk kepentingan Islam.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Baca: Muslim Itu Tidak Akan Pernah Mau Diperbudak Harta

Ketika Abu Bakar wafat, harta yang ditinggalkannya cuma satu dinar. Dia tidak banyak berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Hartanya yang banyak disumbangkan untuk kepentingan dakwah.

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu juga terbilang orang kaya. Dalam catatan sejarah, belum ada catatan resmi mengenai jumlah hartanya. Namun, bisa dilihat dari beberapa fakta sejarah hayat beliau.

Saat menikahi Ummi Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib, mahar yang diberikan adalah sebesar ribuan dinar emas sebagaimana ditulis oleh Ya’qubi dalam kitab tarikhya. Bahkan menurut catatan sejarawan Muslim lain seperti Ibnu Qudamah mahar yang diberikan ayah Hafshah itu sebesar 40 ribu dinar. Dan Umar pun pernah berwasiat agar istri-istrinya diberikan 4000 dinar. (Syakir Nabulisi, 2011)

Meski beliau kaya, perhatikan saat wafat. Dirinya malah mempunyai hutang 80 ribu ke Baitul Mal. Beliau berwasiat kepada anaknya, jika hartanya tak cukup, maka dibayar dengan harta keluarga Khattab. Lagi-lagi, kekayaan yang dimiliki digunakan untuk kepentingan dakwah, sehingga saat meninggal tak ada yang tersisa.

Sahabat lain yang juga termasuk orang kaya adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu. Untuk mengetahui kekayaannya bisa dibaca dalam buku “Tātikh Madīnah Dimasyq” (1996: 39/442) disebutkan bahwa saat meninggal dunia, dalam simpanan Utsman terdapat 30 juta dirham, 500 ribu dirham, 150 ribu dinar. Belum lagi sebribu onta dan harta lainnya.

Seperti sahabat lainnya, Utsman semasa hidupnya adalah orang yang juga peduli dakwah. Harta yang diinfakkan di jalan Allah tidaklah sedikit. Sumur Ruma, pembiayaan perang Tabuk dan lain sebagainya, adalah bukti bahwa hartanya disalurkan untuk kepentingan dakwah.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu juga tergolong kaya. Menurut catatan sejarah –sebagaimana ditulis oleh Georgie Zeidan—saat meninggal dunia beliau memiliki empat istri, 19 mantan istri, 24 anak. Mereka mendapat peninggalan harta tidak bergerak (tetap) yang bisa digolongkan sebagai orang kaya di antara kaumnya. Di antara peninggalan itu adalah di tanah Yanbu’.

Baca:  Menautkan Hati di Jalan Dakwah

Senada dengan sahabat lain, beliau juga orang derwaman. Terlebih jika untuk kepentingan dakwah. Muhammad Hamid dalam buku “Sīrah wa Manāqib ‘Ali bin Abi Thālib” (2018: 34-36) Beliau pernah memberi orang 100 dinar, sering membantu orang kesusahan, mewaqafkan tanah Yanbu’ dan sedekahnya jika dihitung pernah mencapai 4000 dinar. Namun, saat meninggal dunia, menurut penuturan Hasan bin Ali cuma  meninggalkan 700 dirham.

Sahabat lain yang masuk kategori kaya adalah sebagai berikut: Amru bin Asha Radhiyallahu ‘anhu saat meninggal dunia meninggalkan 300 ribu dinar dan 25 ribu dirham, penghasilan (income) 200 ribu dinar di Mesir. Zaid bin Tsabit meninggalkan emas dan perak begitu banyak sampai-sampai tak bisa dipecahkan dengan kapak. Belum lagi harta tidak bergerak lain yang senilai 100 ribu dinar.

Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu meninggalkan harta 2 juta dan sepertiga juta dinar. Ia menikahi 20 wanita selama hidupnya. Banyaknya istri menunjukkan betapa kayanya seseorang. Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘anhu memiliki 1000 hamba sahaya yang masing-masing dibayarkan pajaknya. Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhu penghasilannya di Irak sebesar 400 ribu dinar dan pernah menjual tanah senilah 700 ribu dinar. Penghasilannya pertahun mencapai 350 ribu dinar.

Menariknya, kekayaan yang dimiliki oleh sahabat-sahabat yang tergolong kaya tersebut digunakan –sebagaian besarnya, bahkan ada yang semuanya—untuk kepentingan dakwah.

Betapa dahsyatnya jika orang muslim yang kaya raya di masa sekarang meneladani mereka. Harta yang ada tak hanya dinikmati sendiri, tapi digunakan untuk kepentingan dakwah. Dengan demikian, akan ada lompatan  besar dalam bidang dakwah dan umat pun akan menjadi lebih bermartabat karena tidak bergantung secara finansial ke umat lain.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dakwahhartakayakekayaan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mutasi Gen Sebabkan Konsumsi Nikotin Makin Tinggi
Tulisan selanjutnya FUIS Minta Pembakar ‘Bendera Tauhid’ Dihukum dengan Adil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?