Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Baru Kali ini Shalat dalam Keadaan Basah

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 2 Februari 2014 17:19 5:19 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 27 Januari 2014 14:44
Bagikan
Murdianto membereskan pepohonan yang tumbang
Bagikan

SETELAH berjuang mengevakuasi korban banjir bandang di lokasi pertama yang tergerus aliran Sungai Tondano (baca tulisan 1, Nyaris Hanyut…), Murdianto bergeser ke lokasi kedua. Di Kelurahan Paal II, Kecamatan Paal II, Lingkungan IV, sekitar 8 km dari pusat Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) ini, dia sempat mengalami pergolakan batin.

Saat itu ada 2 orang anak perempuan kelas 4 SD dan 2 orang wanita dewasa yang harus dievakuasi. Kedua anak itu pun berhasil dia evakuasi seorang diri. Masalahnya adalah para wanita dewasa tersebut, sebab mereka bukan muhrim.

Saat itu, keduanya berada di lantai 2 sebuah rumah, dengan kedalaman air sudah 5 meter. Tinggal 15 cm lagi air akan menggenangi lantai tersebut. Sekilas jiwa kelelakian Murdianto, 38 tahun, terusik.

“Perasaan saya seperti sebuah perangkat elektronik menerima sinyal Wifi. Alhamdulillah, ‘Wifi’ di ‘perangkat’ dimatikan. Lintasan wajarlah. Namun saya kembali meluruskan niat. Jangan sampai kesusahan, capek, jadi tidak bernilai,” akunya saat bincang-bincang dengan Hidayatullah.com di Jakarta melalui sambungan telepon dan obrolan jejaring sosial baru-baru ini.

Murdianto lantas bertanya kepada kedua wanita yang salah satunya berjilbab tersebut.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Anda bisa berenang?”

“Bisa, pak!” jawab mereka, membuat Murdianto senang bukan main.

“Syukur (mereka) bisa berenang. Sehingga niat tidak tercampur dengan kekurangmantapan menolong karena sesuatu (wanita. Red),” imbuh ustadz di Pesantren Hidayatullah Bitung ini.

Kisah lainnya pada Rabu, 13 Rabiul Awal 1435 H (15/1/2014) itu, ketika dia mengevakuasi seorang ibu yang lagi sakit. Ibu tersebut, saat itu mengaku sudah (maaf) buang air besar sebanyak 14 kali.

“Kami evakuasi sendirian dengan kedalaman air kurang lebih 5 meter. Dan arus sangat deras mengarah ke sungai besar yang berjarak 15 meter dari jalur kami,” tutur suami dari Sri Lestari beranak 7 ini.

Kisah lucunya, saat evakuasi sudah selesai, namun masih tersisa 6 orang laki-laki. Semuanya mengaku bisa berenang. Mereka tidak mau dievakuasi oleh Murdianto. Alasan karena menjaga barang. Namun akhirnya, barang-barang mereka hanyut juga.

Evakuasi di Sekolah Advent

Dua jam kemudian, sekitar pukul 12.00 WITA, Murdianto menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di halaman parkir sebuah rumah. Dalam keadaan basah-basah, dia ditemani 2 orang korban banjir dan seorang tuan rumah yang tak kena banjir.

Usai shalat yang dijamak Ashar itu, seorang jamaah nyeletuk, “Baru kali ini saya shalat dalam keadaan basah, dan di halaman parkir,” ujarnya.

Sejurus kemudian, tendengar kabar dari warga setempat jika ada pasukan TNI datang dengan membawa perahu karet. Setelah memastikan tugas evakuasinya di situ berakhir, Murdianto pun bergeser ke tempat lain. Kali ini dia menumpang sebuah truk Badan SAR Nasional (Basarnas) yang melintas di jalan poros Manado-Bitung itu.

“Azam juga ikut. Motornya disimpan di tempat dekat shalat tadi, di tempat jamaah masjid,” jelasnya.

Di atas truk, Murdianto mengganti jerigennya dengan pelampung khusus pemberian anggota Basarnas. Mereka lalu bergeser ke Pasar Segar, masih di Kecamatan Paal II. Anggota Tim SAR Hidayatullah dan Basarnas pun bersinergi mengevakuasi titik-titik banjir yang dilewati.

“Sama mengevakuasi di SD-SMP Advent Paal II. Yang terjebak ada lebih dari 100 orang. Gedungnya 3 lantai, banjir masuk ke lantai 1, (tingginya) sekitar 1,5 meter. Kita masuk ke dalam sana, kita ambil (korban) dengan perahu karet bersama Basarnas, membawa mereka ke tempat aman, karena banyak orang tua yang sudah nunggu,” jelas Murdianto.

Dia pun menyambangi kantor Basarnas Manado, di Kaasar, Air Madidi, ibukota Kabupaten Minahasa Utara, dan bertahan di situ hingga pukul 00.00 WITA. Malam itu juga dia pulang bersama putranya, meski hujan masih mengguyur deras.

Putranya sendiri, walau seharian membuntuti ayahnya, kondisinya baik-baik saja. Bahkan dia kesenangan. “Abi, besok kalau kita turun (evakuasi), ikut lagi,” ujar Azam kepada Murdianto.

Rasa lelah dan dingin pun baru dirasakannya begitu tiba di rumah. Untuk mengurangi dingin, dia merendam kedua kakinya, yang kulitnya sudah keriput, dengan air panas tak mendidih. Namun, saking dinginnya, panasnya tak dia rasakan.

“Malam itu betul-betul minta diselimuti sama istri. Dan saya baru sadar, harus berenang dari pagi ternyata saya belum makan,” ujar Murdianto.

Meski begitu, dia merasa mendapat hiburan tersendiri. Kamis keesokan harinya, dia dan sejumlah anggota Tim Search and Rescue (SAR) Hidayatullah kembali turun lapangan, melakukan pemulihan pasca bencana di daerah Paal II dan Jembatan Ketang Ternate Baru. Di Paal II, Murdianto menemukan pemandangan indah.

“Allah memberi hiburan yang luar biasa setelah kami seharian membersihkan Masjid Ashabul Kahfi. Saat shalat Zhuhur dengan pakaian basah sejak pagi, di pojok  itulah kami shalat bersama jamaah para pengungsi. Walaupun badan mereka sebagian besar bertato, tapi terdengar isak tangis sayup-sayup. Itulah bayaran yang luar biasa dari Allah siang itu,” ujar staf ekonomi Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulut sejak 2010 ini.

Pada hari kedua itu, Murdiyanto kembali mengajak Azam. Namun malang, tangan kiri putranya tersabet seng saat menemani sang ayah membersihkan puing-puing bekas banjir. Bagi Murdianto, kengorbanan dan keikhlasan harus dimiliki seorang relawan dalam bertugas.

“(Ketika) seseorang dalam keadaan bahaya dan dia tidak bisa mengatasi sendiri, tentulah dia berdoa dan minta tolong. Alangkah bahagianya jika saya dikirim oleh Allah untuk menyelamatkannya. Itulah motivasi saya,” jelasnya, seraya merasa terpanggil mengevakuasi karena status SAR-nya.

Sehari-hari, Murdianto adalah pengasuh Pesantren Hidayatullah Bitung. Juga aktif berdakwah di tengah masyarakat umum, termasuk sebagai khatib. Salah satu sumber penghidupannya dengan berjualan majalah bulanan Suara Hidayatullah. Selain mengantar majalah, dia sekalian silaturahim dakwah ke 30 pelanggannya.

Ketika panggilan kemanusiaan dan nurani datang, sumber nafkahnya itu mau tak mau dikesampingkan. Jangankan bajunya yang basah, dia pun harus, “Merelakan majalah basah,” pungkasnya, yang tergabung dalam relawan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) pada masa recovery hingga kisah ini ditulis.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:banjir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Para Pejabat Muslim harusnya tak Ragu terhadap Pelarangan Miras
Tulisan selanjutnya Murhali Barda Akui Akun FB FPI Bekasi Raya Dibajak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?