Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Berlomba pada Perkara Akhirat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Desember 2018 19:40 7:40 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Desember 2018 19:40
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

 

SIAPA mengatakan dunia tidak melenakan? Para abid (ahli ibadah) pun tidak dijamin bebas terlena dalam pusaran dunia. “Dunia akan datang melimpah sepeninggalku (sepeninggal Rasulullah ﷺ), tetapi ia akan memakan iman seperti api membakar kayu.”

Kekhawatiran Rasul ﷺ di atas, itu bukan tanpa alasan. Ternyata kekhawatiran itu menemukan bukti saat manusia berlomba menghamba pada dunia dan lalu melupakan akhirat.

Tidak ada yang salah dengan mencintai dunia, tapi jangan lupakan akhirat. Jangan menggadaikan yang fana dengan menanggalkan yang kekal. Manusia rasional mestinya sadar dan berkhidmat pada yang kekal, meski yang fana bisa menjadi ladang untuk sampai pada yang kekal dengan sempurna.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Maka para ahli hikmah berlomba mengingatkan, seperti berlomba dirinya menggapai akhirat, sebagaimana Hasan al-Bashri RA yang menyatakan, “Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya pada orang yang berlomba satu sama lain dalam perkara-perkara [menyangkut] akhirat. Dan Dia akan melilit leher orang yang berbuat aniaya atas dirimu dalam perkara duniawi.”

Baca: Ya Ilmuwan, Ya Ahli Ibadah

Seorang ahli hikmah lainnya, berkata, “Keberhasilan di dunia adalah kegagalan, kebersihannya adalah kotoran, dan penghuninya takut kehilangan kekayaan, dan takut akan kematian.” Tentu jika semua itu disandarkan pada akhirat.

Seorang Rahib yang ditanya, “Apa pendapatmu tentang waktu?” Dia menjawab, “Waktu akan menghancurkan tubuh, menciptakan angan-angan, menjadikan kematian lebih dekat, dan menjauhkan cahaya.”

Baik Rasul ﷺ, para ahli hikmah, bahkan Rahib, dan tentu para Sufi, dalam pernyataannya sama-sama memiliki pandangan kekhawatiran pada dunia sehingga melupakan akhirat.

Tentu pandangan mereka dengan redaksi dan metafor yang berbeda dalam pengungkapan, namun dengan makna yang kurang lebih sama, yakni menghamba pada alam fana yang terbatas, hingga melupakan alam kekal untuk hidup selamanya.

***

Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali (w. 1111 M) disebut juga sebagai salah seorang penggali pemikiran Islam utama. Pandangannya berikut ini, yang termuat dalam magnum opus-nya, Ihya’ Ulumuddin, yang dianggap sebagai karya Sufistik klasik.

Dalam salah satu Bagian Khusus, al-Ghazali berupaya menjelaskan salah satu tujuan tentang di balik perintah Allah Subhanahu Wata’ala terkait dengan dunia. Dimana orang beriman diharapkan menjauhkan diri dari dunia.

Baca:   Ahli Ibadah yang Tak Mampu Tidur

Dalam beberapa masa, kaum Sufi yang cenderung meninggalkan dunia dan concern pada akhirat menjadi perbincangan yang tidak mengenakkan. Bagaimana mungkin dunia–di mana kita hidup–mesti ditinggalkan sejauh-jauhnya. Maka Sufi dianggap sebagai kelompok absolut yang menafikan dunia.

Namun kecaman itu tidak berlaku pada beberapa Sufi termasuk al-Ghazali di dalamnya, yang meski ajarannya menekankan pentingnya meninggalkan dunia, namun tetap mengajarkan keseimbangan antara perlunya kehidupan dunia tanpa melupakan akhirat. Kehidupan dunia diharapkan pada saatnya sebagai penunjang menuju kehidupan akhirat.

Meninggalkan kehidupan dunia dan memilih kehidupan akhirat itu bisa dimaknai “zuhud”… Pendapat Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah dalam memaknai zuhud begitu apiknya, “Meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat.” Maknanya, kehidupan dunia yang bermanfaat sejatinya juga diharapkan sebagai nilai tambah bekal kehidupan akhirat.

Era boleh berganti, tapi konsep memaknai dunia dan akhirat mestinya tidak ikut berubah, tersaput oleh pemikiran-pemikiran duniawi sekularistik-kapitalistik, yang akhir-akhir ini menemukan tempat bersemi di kalangan muslim… Wallahu A’lam. *

Penulis pengamat sosial keagamaan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:abidahli ibadahakhiratamalBerlombasufizuhud
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Siapa Mau Pakai Masker Pelembab Wajah Kim Jong-un?
Tulisan selanjutnya Polisi Tembak Mati Tersangka Serangan di Strasbourg

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?