Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Media Suka-Suka

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Desember 2018 05:50 5:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Desember 2018 05:50
Bagikan
Kompas, Metro dan Global disoraki peserta aksi 212 di Istiqlal tahun 2016
Bagikan

Oleh: Ady Amar

 

DALAM setahunan belakangan ini, mayoritas media mainstream secara ekstrem melakukan pemihakan pada salah satu kontestan Paslon Pilpres yang akan datang (2019). Dan kebetulan yang saat ini sebagai petahana.

Dikatakan ekstrem itu disebabkan media memilih bermain kasar tanpa nurani dan bahkan menghilangkan akal sehat, saat memberitakan satu pihak berlebihan, dan pihak lainnya dinafikan. Jika harus diberitakan maka yang diberitakan adalah berita dengan angle yang tidak baik.

Framing media menjadi filosofi pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik. Tidak semua sih, tapi mayoritas media mainstream memilih bermakmum pada Paslon Pilpres tertentu untuk diberitakan secara berlebihan.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Media pada rezim-rezim sebelumnya, Rezim Reformasi, selalu memberi ruang yang cukup seimbang dalam pemberitaan. Dan baru pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintah, media bisa diarahkan pada satu koor dengan begitu sempurnanya. Semua sepertinya ada dalam kantong baju Jokowi.

Baca:  Reuni yang Bikin Meriang

Memang tidak semua media bisa masuk dalam kantongnya, TVOne “memilih” ada di luar kantong Jokowi. Namun terkadang juga mencicipi berada dalam kantong Jokowi. Strategi cantik yang coba dimainkan, hit and run.

Mengapa mayoritas media mainstream bisa masuk dalam kantong baju Jokowi? Jawabannya tentu tidak perlu harus repot-repot meminjam otak para pemerhati atau praktisi media untuk mengurainya. Untuk mengurai itu semua cukup dengan benak orang kebanyakan. Hal itu akan bisa dilihat dengan sempurnanya.

Adalah dua hal bisa dilihat pada pemihakan media suka-suka. Dinamakan suka-suka, karena suka-sukanya media bersangkutan memberitakan berita sesuai dengan arahan pemilik modal.

Pertama, para owner media-media itu berperan sebagai petinggi/ketua partai politik, yang memilih berkoalisi dengan rezim yang tengah berkuasa.

 Baca:  Pasca Matinya Wali Songo Media

Kedua, ada persoalan-persoalan yang menyangkut/tersangkut hukum dari pemilik jaringan media bersangkutan. Jadi ada semacam ketakutan tersendiri dari para owner itu jika harus memilih jalan yang berseberangan dengan rezim. Itu semacam sandera politik.

Maka, sempurnalah kantong Jokowi terisi penuh dengan media-media yang siap membantunya menaikkan rating untuk keterpilihannya kembali. Karenanya, rakyat suka atau tidak suka akan terus dijejali berita-berita sepihak; kehebatan-kehebatan kerja petahana sembari menghantam pihak lainnya, atau setidaknya tidak memberitakannya sama sekali. Seolah petahana, dalam hal ini Jokowi, bertarung dengan diri sendiri tanpa kehadiran Prabowo sebagai lawan dalam perebutan Pilpres.

Metro TV melakukan itu semua dengan begitu sempurnanya, dan tanpa malu-malu.  Peristiwa Reuni 212 yang dihadiri berjuta umat, dan yang menyita perhatian pemberitaan dunia internasional itu, bagaimana mungkin tidak diberitakan seuprit pun di televisi yang memilih diksi sebagai televisi berita. Dikatakan seuprit pun  tidak diberitakan, karena hatta pada running text-nya berita itu tidak muncul.

Metro TV menghadap-hadapkan, bahwa peristiwa besar itu (Reuni 212) ada di barisan pihak lawan dari petahana. Inilah media berita dengan tidak memberitakan berita besar yang sulit dielakkan untuk tidak diberitakan. Absurd.

Baca:   Effendi: Peserta Reuni 212 Ungkapkan Ketidakadilan

Menjadi aneh jika media mainstream lebih memilih berada pada barisan kekuasaan yang sesaat, sembari meninggalkan mayoritas rakyat yang membutuhkan pemberitaan yang fair dan berkeadilan. Maka rakyat akan mengingat-ingat media bersangkutan dengan ingatan yang sulit terhapus, karena ini bersangkut pada penghinaan atas nalar dan akal sehat.

Karenanya, saat ini media sosial menjadi harapan mayoritas rakyat untuk mendapatkan berita-berita dan analisa-analisa para pakar politik dan pemerhati media, yang masih bernalar sehat sebagai rujukannya.

Maka nama-nama Hersubeno Arif, Asyari Usman, Djadjang Nurjaman dan yang lain menjadi simbol pencerahan dan penyeimbang yang ulasan-ulasannya senantiasa dinantikan.

Tidak mustahil, media-media mainstream yang curang dan culas dalam pemberitaan itu akan dijauhi dan ditinggalkan masyarakat, dan pada akhirnya tidak mustahil akan mati mengenaskan.*

Penulis adalah pengamat sosial dan keagamaan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Joko widodoJokowimediamedia mainstreamPaslonpilpresreformasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Putra Netanyahu Ingin Semua Muslim Tinggalkan ‘Israel’
Tulisan selanjutnya Wantim MUI Minta Indonesia Bersikap Tegas ke China

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?