Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Door to Door di Madura

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Desember 2018 15:34 3:34 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Desember 2018 15:34
Bagikan
Ulama Pesantren se Madura, menyatakan dukungan kepada pasangan Prabowo-Hataa, pada Pilpres 9 Juli mendatang
Bagikan

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

 

Presiden JOKO WIDODO datang ke Madura (19/12). Para kiai dimobilisasi. Rakyat dimobilisasi dikumpulkan untuk menyambut Jokowi sekaligus diajari yel-yel “Jokowi Poleh” (Jokowi Lagi). Alih-alih meneriakkan “Jokowi Poleh” masyarakat emalah menyanyikan “Jokowi Moleh” (Jokowi Pulang).

Ini gaya khas resistensi orang Madura. Ada keberanian yang nyata disitu. Tapi, tetap saja ada humor satiris yang tajam dan pahit sekaligus cerdas khas Madura. Memplesetkan “poleh” menjadi “moleh” sungguh cerdas dan bikin ngakak. Yang tidak mengerti bahasa Madura bisa plonga-plongo.

Penggratisan jembatan Suramadu diharapkan menjadi iming-iming politik bagi warga Madura. Itu usulan konyol dari orang-orang yang tidak paham mengenai sosiologi Madura. Terbukti alih-alih mengucapkan “Mator Sekelangkong” kepada Jokowi, “Tretan Dibbik” (Saudara Kita, sebutan untuk orang Madura) malah berterima kasih kepada Prabowo, gara-gara Madura mendukung Prabowo maka Jokowi menggratiskan Suramadu.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Makanya, orang Madura menyarankan, kalau mau tol digratiskan dukunglah Prabowo.

Logika terbalik yang cerdas khas Madura.

Kisah perlawanan masyarakat Madura terhadap kekuasaan sudah menjadi bagian dari legenda politik di Indonesia.

Baca : Reuni yang Bikin Meriang

Civil disobedience (pembangkangan masyarakat) maupun civil unrest (perlawanan masyarakat) sudah menjadi bagian dari tradisi kritis Madura. Pada 1993 Kiai Alawy Muhammad dari Sampang menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan dalam kasus Waduk Nipah. Pemerintah memaksakan kehendak untuk membebaskan puluhan hektar tanah warga untuk pembangunan waduk irigasi.

Ratusan warga desa yang tidak dilibatkan dalam rembug ganti-rugi melakukan demonstrasi penolakan. Aparat keamanan lalu memberondong tembakan dan banyak warga yang tewas di lokasi. Penembakan ini menjadi tragedi internasional.

Dalam versi Gus Dur, terjadi salah komando dalam operasi keamanan itu. Petugas Koramil sudah diperintahkan untuk melakukan pendekatan “Door to Door“. Tapi, ternyata yang dilakulan adalah operasi “Dor to Dor” alias tembak langsung.

Perlawanan tidak berhenti disitu. Pada pemilihan bupati 1997, masyarakat memprotes keras karena mencurigai ada rekayasa besar-besaran untuk memenangkan calon pemerintah. Akhirnya Pemilu diulang. Itulah kali pertama Pemilu diulang di Indonesia. Dan di era reformasi ini Madura paling sering melakukan Pemilu ulang.

Upaya Jokowi menarik simpati dengan menggratiskan JembatanSuramadu justru akan menjadi serangan balik yang merugikan karena ketidakpahaman terhadap kondisi sosio-kultural Madura.

Baca:  Pasca Matinya Wali Songo Media

Bagi orang Madura harga diri dan kehormatan akan dipertaruhkan melawan segala-galanya.

Dari situlah muncul budaya carok, duel satu lawan satu dengan memakai clurit.

Clurit melambangkan perlawanan dan sikap kritis. Bentuknya yang melengkung seperti tanda tanya menunjukkan bahwa orangMadura mempertahankan sikap “questioning” mempertanyakan ketidakadilan.

Harga diri dibela sampai mati. Prinsipnya “angok’an apoteh tolang etembang apoteh mata” (lebih baik berputih tulang daripada berputih mata).

Perhelatan politik kali ini sudah masuk tataran harga diri orangMadura. Berawal dari dipermainkannya putra Madura Mahfud MD dalam proses pemilihan calon wakil presiden Jokowi. Mahfud dipermalukan, Madura pun dipermalukan. Ketika Mahfud tidak melawan, Madura tetap melawan.

Baca : Ijtima Ulama 2 Mantapkan Dukung Prabowo-Sandi 

Tantangan potong leher La Nyalla Mattalitti akan membuat suasana politik di Madura tambah hangat. LNM yakin bisa mengendalikan suara Madura karena berpengalaman dalam pilgub Jatim 2004 ketika membela Khofifah melawan Sukarwo. Ketika ituisu Sukarwo terlibat PKI juga kencang berseliweran.

Tapi, sekali lagi, mengasumsikan orang Madura bisa disogok dengan uang dan akan manut saja kepada kiai adalah asumsi dangkal yang tidak memahami tradisi perlawanan kritis Madura.

Jangankan cuma kiai atau preman lokal, profesor sehebat Habibie pun mati kutu.

Sewaktu menjadi menristek, Habibie berkunjung ke Madura dan berceramah mengenai kehebatan orang Amerika yang bisa mendarat di bulan. Seorang peserta menginterupsi supaya Indonesia mengirim manusia ke matahari. Habibie menjawab tidak mungkin, karena pesawat akan meleleh sebelum mendekat matahari. Tak mau kalah si Madura mengusulkan pesawat berangkat setelah Maghrib.*

Medureh elaben…*

Penulis mantan Pimpinan Redaksi Jawa Pos dan Ketua PWI Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:JokowiLa Nyalla MattalitimadurapilpresPrabowoulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya MUI: Penindasan Uighur Bikin Hubungan Indonesia-China Bermasalah
Tulisan selanjutnya GUIB Demo Konjen China di Surabaya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Berita
31 Agustus 2026 18:22
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?