Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Untuk Apa Belajar Islam ke Amerika?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Februari 2014 16:42 4:42 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Februari 2014 15:00
Bagikan
September 2011, Pusat Studi Islam Universitas Duke menjadi tuan rumah pertemuan “Muslims in America: The Next Ten Years”
Bagikan

Oleh: Teuku Zulkhairi

SALAH satu tawaran beasiswa dari pemerintah Aceh lewat Lembaga Pembinaan Sumber Daya Manusia (LPSDM) bagi putra-putri Aceh tahun 2014 ini seperti yang bisa kita akses dalam website mereka adalah beasiswa belajar Islam ke Amerika, yang dalam dunia akademisi lebih dikenal dengan istilah Islamic Studies.

Program beasiswa Islamic Studies ini bagi menarik kita kaji. Relevan kah program itu dengan kebutuhan kekinian Aceh dan masyarakatnya?

Pertanyaan lain yang harus dimunculkan, misalnya apa keunggulan belajar Islam di sana?

Harus diakui memang, dewasa ini Barat telah berhasil memberi pesona kemajuannya di bidang ilmu pengetahun dan teknologi kepada dunia.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Kemajuan pesat Barat ini telah menjadi magnet kuat yang menarik minat umat Islam dari seluruh dunia untuk belajar di negara-negara mereka. Tak heran jika kita melihat banyak umat Islam pergi ke beberapa negara maju di Eropa, Amerika dan Australia untuk belajar berbagai disiplin keilmuan seperti teknologi, science, filsafat atau bahkan tentang agama Islam.

Secara sosiologis, kondisi seperti ini adalah konsekuensi logis saat dunia Islam masih terpuruk oleh sebab penjajahan berkepenjangan yang menderanya. Saat Barat menjajah dunia Islam, mereka bukan saja menjajah secara fisik, militer dan ekonomi, tapi juga menjajah secara keilmuan. Sebagai contoh, saat Iraq dijajah negara-negara Barat satu dekade yang lalu, perpustakaan-perpustakaannya dihancurkan, manuskrip-manuskripnya pun kabarnya tidak sedikit yang diangkut ke negara-negara asal penjajah. Dan sejarah juga mencatat, saat Aceh dijajah Belanda, banyak pula manuskrip-manuskrip Aceh yang diangkut ke Belanda.

Barangkali, selain dengan alasan metodologi, ketersediaan manuskrip-manuskrip hasil curian dan rampasan dari dunia Islam inilah yang menjadi salah satu alasan utama belajar Islam di sana saat ini telah dianggap sebuah kewajaran atau bahkan sebuah tuntutan(?) sehingga pemerintah Aceh pun menawarkan beasiswa belajar Islam ke Amerika kepada putra-putri Aceh.

Bersikap Kritis untuk Islamic Studies

Pada dasarnya, belajar boleh di mana saja. Rasulullah pun pernah berpesan dalam haditsnya, ”Tuntutlah ilmu walau ke negeri China”.

Hanya saja, konteks belajar Islam ke Amerika atau negara Barat lainnya menjadi sesuatu yang berbeda apabila kita mau jujur dan berfikir secara kritis. Bisa kita sebut, belajar Islam di Barat lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.

Sejauh ini, hanya sedikit alumnus Islamic Studies yang mampu berperan membawa umat Islam menuju kebangkitan dengan melawan hegemoni berbagai tipu daya Barat yang menjajah.

Sebut saja beberapa nama yang sudah masyhur, misalnya Syeikh Abdul Halim Mahmud lulusan Sorbone, Muhammad Mustafa al-A’zami lulusan Cambridge dan Syed Muhammad Naquib al-Attas lulus London.

Ada juga beberapa generasi baru seperti Hamid Fahmi Zarkasyi atau Syamsuddin Arif.  Meski mereka lulusan Barat, tetapi mereka mampu (kebal) atas virus para orientalis karena memang telah mempersiapkan diri secara akidah. Lulus dari Barat, mereka menemukan sesuatu yang berharga bagi dunia Islam, yaitu mengetahui bagaimana metodologi Barat (dengan segala kelemahannya) dalam menancapkan hegemoninya di dunia Islam dan dunia ketiga dalam berbagai tatanan kehidupan, bukan justru menjadi pembebek atas setiap rumusan pandangan Barat terhadap Islam.

Ini model lulusan yang diharapkan karena dengan demikian mereka telah membekali umat Islam untuk maju dengan tetap menjadikan Islam sebagai solusi menuju kebangkitan sekaligus membantu merumuskan pandangan hidup Islam (Islamic Worldview) yang berbeda dengan pandangan Barat terhadap Islam.

Namun di balik mereka yang kebal terhadap virus orientalis di Barat tersebut, realitas selama ini menunjukkan tidak sedikitnya alumnus Islamis Studies yang kemudian menjadi pembebek  ide-ide dan ekspansi kapitalisme negara-negara Barat atas dunia Islam.

Dengan kata lain, sangat sedikit alumnus Islamic Studies Barat yang mampu menghidupkan nalar kritisnya atas hegemoni dunia Barat yang menjajah dunia Islam dalam berbagai model.

Realitas inilah yang ingin penulis kritisi dari program beasiswa kajian Islam dari pemerintah Aceh ke Amerika tersebut.

Harus kita akui, sulit untuk tidak mengatakan bahwa studi-studi Islam di Barat tidak digunakan untuk mendukung ide-ide Barat dan agenda-agenda invasi mereka ke dunia Islam.

Sulit pula untuk tidak jujur bahwa alumnus Islamic Studies di Barat umumnya cenderung radikal dalam wacana pemikiran, menuduh siapa saja yang tidak sesuai dengan cara pandang mereka (Barat) sebagai kelompok radikal atau fundamentalis.

Lihat misalnya Ulil Absar Abdala yang begitu gencar mempromosikan Islam liberal, pluralisme agama dan sekulerisme di Indonesia, yang padahal paham-paham ini sudah difatwakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 2005 sebagai paham sesat.

Contoh lain, dalam kasus “mafia Berkeley”, banyak alumnus Barat yang pulang ke Indonesia justru dengan membawa sistem ekonomi liberal dan pasar bebas.

Alih-alih memakmurkan Indonesia, justru sekarang yang terjadi adalah ekonomi Indonesia “dikangkangi” oleh korporat asing yang menikmati “kebebasan” ekonomi yang dibawa oleh para sarjana kita.*/sambung “tak mungkin belajar Islam pada orang junub”

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Fenomena Telat Menikah yang Dipaksakan
Tulisan selanjutnya Hollande: Prancis ‘Berutang’ pada Tentara Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?